![]() |
| Agus Suyanto, Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, menyoroti krisis regenerasi petani muda di tengah upaya pemberdayaan SDM berkelanjutan di berbagai sektor./dok. Istimewa |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:
Di sebuah sore yang teduh di pinggiran Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto pernah berdiri menatap hamparan sawah yang luas, namun matanya menyiratkan kecemasan. Bukan karena padinya yang tak tumbuh, melainkan karena ia menyadari sebuah pemandangan yang ganjil yakni hampir semua punggung yang membungkuk menanam padi di sana adalah punggung-punggung tua.
Rambut mereka memutih, kulit mereka legam dimakan usia, dan gerakan mereka melambat. Ke mana anak-anak muda mereka?
Jawabannya ada di gerbang-gerbang pabrik raksasa yang mengepung desa, atau di terminal-terminal bus menuju Surabaya dan Jakarta. Bagi Agus, ini adalah alarm bahaya. Pasuruan sedang menghadapi ancaman 'kemiskinan masa depan' jika generasi mudanya merasa malu menyentuh tanah dan lebih bangga menjadi sekrup kecil di mesin industri besar.
Inilah alasan mengapa Agus Suyanto meletakkan Pemberdayaan SDM sebagai pilar utama perjuangannya. Ia tidak ingin Pasuruan hanya punya jalan tol yang mulus atau gedung yang megah, tapi kehilangan 'otak' dan 'otot' kreatif anak mudanya.
Melawan Stigma: Mengubah Wajah Sektor Lokal
Akar masalah yang diidentifikasi Agus adalah stigma. Di mata generasi Z dan milenial, sektor lokal seperti pertanian, peternakan, atau UMKM tradisional seringkali dianggap sebagai profesi 'kelas dua'.
Ada anggapan bahwa menjadi petani itu panas, kotor, dan miskin, sementara menjadi buruh pabrik atau pegawai kantoran itu keren dan terjamin.
Agus ingin meruntuhkan tembok persepsi itu. Dalam setiap kunjungannya ke desa-desa, ia selalu membawa pesan yang sama, "Jangan biarkan tanah leluhurmu digarap orang lain karena kamu merasa tidak bergengsi. Pertanian hari ini bukan soal pacul dan lumpur semata, tapi soal teknologi, manajemen, dan kemandirian."
Ia mulai mendorong konsep 'Petani Milenial' dan 'Entrepreneur Muda Desa'. Agus ingin anak muda melihat bahwa dengan sentuhan inovasi, satu hektare lahan bisa menghasilkan keuntungan yang berkali-kali lipat dibanding gaji UMK buruh kontrak.
Baginya, pemberdayaan SDM dimulai dari mengubah cara berpikir (mindset). Jika cara berpikirnya sudah mandiri, maka bantuan modal apa pun akan menjadi alat pertumbuhan yang dahsyat.
Pelatihan Keterampilan Kerja: Lebih dari Sekadar Sertifikat
Sebagai anggota DPRD, Agus sangat vokal dalam memperjuangkan anggaran untuk program-program peningkatan skill. Namun, ia mengkritik model pelatihan konvensional yang hanya berakhir dengan pemberian sertifikat tanpa serapan kerja atau keberlanjutan usaha.
Agus mendorong Pelatihan Keterampilan Kerja yang Berbasis Kebutuhan Riil. Ia memetakan apa yang dibutuhkan oleh pasar lokal dan apa potensi yang dimiliki oleh desa tersebut. Program-program yang ia kawal meliputi:
Digital Marketing dan Branding: Melatih anak muda desa agar mampu memotret produk UMKM tetangganya dengan estetika tinggi dan menjualnya lewat marketplace global.
Teknologi Tepat Guna: Mengajak pemuda mempelajari sistem pengairan pintar, penggunaan drone untuk pemupukan, hingga pengolahan limbah menjadi pupuk organik bernilai jual.
Life Skill Hospitality: Mengingat Pasuruan punya potensi wisata seperti Tosari atau Prigen, ia mendorong pelatihan pemandu wisata dan pengelola homestay yang profesional.
Bagi Agus, investasi pada SDM adalah investasi dengan Return on Investment (ROI) tertinggi bagi daerah. "Satu pemuda yang mahir mengoperasikan alat produksi modern atau jago jualan online bisa menghidupi sepuluh tetangganya. Itu jauh lebih efektif daripada memberi bantuan tunai yang habis dalam sehari," tegasnya.
Mendorong Produktivitas di Sektor Lokal: Menjadi Tuan di Rumah Sendiri
Agus memiliki visi agar anak muda Pasuruan tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya investasi asing yang masuk ke daerah. Ia ingin mereka menjadi produsen, bukan sekadar konsumen atau buruh. Ia sering memfasilitasi pertemuan antara pemuda kreatif dengan akses permodalan dari perbankan atau dana hibah pemerintah.
Ia mendorong lahirnya startup-startup lokal berbasis pangan. Misalnya, anak muda yang mengolah pisang atau singkong menjadi produk turunan dengan kemasan premium. Agus memberikan pendampingan dari hulu ke hilir—mulai dari cara menjaga kualitas rasa, mengurus izin BPOM, hingga mencarikan celah pasar di kafe-kafe besar.
Ia ingin menciptakan ekosistem di mana produktivitas lokal menjadi sebuah kebanggaan. Saat anak muda tetap tinggal di desa dan mampu menghasilkan uang yang setara dengan orang kota, maka sirkulasi ekonomi lokal akan terjaga.
Uang tidak lagi lari ke luar daerah, tapi berputar di warung-warung desa, memperbaiki rumah-rumah warga, dan membiayai sekolah anak-anak desa.
Pentingnya SDM Unggul bagi Ekonomi Daerah
Dalam setiap rapat pembahasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Agus Suyanto selalu mengingatkan pemerintah eksekutif yakni jangan hanya membangun benda mati. Infrastruktur fisik memang penting, tapi infrastruktur manusia jauh lebih krusial.
Baginya, SDM unggul adalah benteng pertahanan ekonomi daerah. Jika warga Pasuruan memiliki SDM yang rendah, mereka hanya akan menjadi penonton saat tanah-tanah mereka beralih fungsi menjadi kawasan industri. Namun, jika SDM-nya unggul, mereka bisa menjadi mitra strategis, pengusaha penyuplai, atau tenaga ahli yang tidak bisa diremehkan.
Ia menekankan tiga poin penting dalam SDM unggul, yaitu kecerdasan adaptif, etos kerja santri, dan kepedulian sosial.
Kecerdasan Adaptif: Mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan teknologi.
Etos Kerja Santri: Memiliki kejujuran, kegigihan, dan rasa syukur dalam bekerja.
Kepedulian Sosial: Setelah sukses, tidak lupa untuk menarik kawan-kawannya yang lain agar ikut naik kelas.
Menanam Benih Harapan
Pada artikel ini menjadi saksi bahwa Agus Suyanto adalah seorang visioner. Ia tidak sedang mencari suara untuk pemilu depan, tapi ia sedang menanam benih untuk kejayaan Pasuruan dua puluh tahun lagi. Dengan konsisten membela alokasi anggaran pendidikan luar sekolah dan pelatihan kerja, Agus sedang memastikan bahwa api produktivitas di desa-desa tidak akan pernah padam.
Bagi Agus, melihat seorang anak muda desa berhasil mengekspor produk olahan lokal atau sukses memodernisasi sawah kakeknya adalah sebuah kebahagiaan batin yang tak terukur dengan angka.
Ia percaya bahwa di tangan-tangan kreatif anak muda itulah, marwah Pasuruan sebagai daerah yang mandiri dan berdaulat secara ekonomi akan tetap tegak berdiri.
Ia akan terus berlari, membuka jalan bagi mereka yang ingin belajar, dan membela mereka yang ingin berkarya. Karena bagi Agus Suyanto, membangun manusia adalah bentuk tertinggi dari mencintai tanah air.
***
Editor: YAN
Baca juga: Menjaga Pasar Rakyat di Era Modern



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?