![]() |
| Agus Suyanto, Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, saat mendampingi warga Pasuruan yang terjebak kasus hukum yang seharusnya tidak dialami./dok. Istimewa |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:
Politik sering kali diidentikkan dengan ruang-ruang rapat yang dingin, perdebatan anggaran yang kaku, atau seremonial potong pita. Namun, bagi Agus Suyanto, panggung politik sesungguhnya terkadang berada di lorong-lorong gelap tempat kemanusiaan sedang dipertaruhkan.
Ada sisi dari pengabdiannya yang jarang terekam kamera humas protokoler, namun membekas dalam ingatan keluarga-keluarga yang pernah ia selamatkan. Di balik jas rapi anggota dewan, Agus adalah seorang petarung lapangan yang tak segan berhadapan dengan sindikat gelap demi satu nyawa warga yang tertindas.
Drama Penyelamatan: Melawan Sindikat Perdagangan Manusia
Salah satu catatan paling heroik dalam perjalanan karier Agus Suyanto adalah keterlibatannya dalam membongkar dan menyelamatkan korban Human Trafficking (perdagangan manusia). Kasus ini bermula dari sebuah jeritan minta tolong yang sampai ke telinganya melalui jaringan tokoh pemuda di wilayah Tretes.
Seorang wanita (sebut saja Nita) asal luar pulau terjebak dalam pusaran eksploitasi yang mencekam. Awalnya, ia tergiur oleh iklan lowongan kerja di Facebook yang menjanjikan gaji menggiurkan sebagai pemandu lagu di Jawa Timur.
Penawarannya tampak sangat profesional yakni berupa tiket pesawat gratis, jemputan di bandara, hingga fasilitas penginapan tanpa biaya sepeser pun. Namun, begitu kakinya menginjakkan kaki di sebuah mess tertutup, realita pahit menghantamnya.
Ia tidak hanya diminta bernyanyi, tapi dipaksa melayani nafsu lelaki hidung belang dan mengonsumsi minuman keras. Saat ia menolak, ia dikurung. Saat ia minta pulang, ia ditagih 'biaya tebusan' puluhan juta rupiah sebagai ganti rugi operasional yang telah dikeluarkan agen. Nita menjadi tawanan di tengah gemerlap lampu malam, kehilangan kemerdekaannya sebagai manusia.
Agus Suyanto yang menerima laporan ini tidak lantas melimpahkan tugas begitu saja. Ia memahami bahwa berhadapan dengan sindikat seperti ini membutuhkan kombinasi antara nyali lapangan dan tekanan politik.
Ia berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan tokoh pemuda setempat. Tanpa banyak bicara, Agus turun langsung melakukan negosiasi keras dengan pihak pengelola.
"Negara tidak boleh kalah oleh premanisme berkedok agensi tenaga kerja. Setiap warga negara punya hak untuk merdeka di tanah ini," tegas Agus saat itu. Dengan diplomasi yang tegas dan ancaman hukum yang nyata, Agus berhasil mengeluarkan korban dari sekapan tanpa harus membayar uang tebusan sepeser pun. Kehadiran sosok anggota dewan di lokasi memberikan daya tawar yang tidak bisa diremehkan oleh para oknum sindikat tersebut.
Membela Pekerja yang Tereksploitasi
Eksploitasi manusia tidak selalu terjadi di dunia malam. Agus sering kali menemui kasus-kasus pekerja formal maupun informal di Pasuruan yang hak-hak dasarnya dirampas.
Ada buruh yang upahnya dipotong secara sepihak, ada pekerja yang dipaksa lembur tanpa bayaran, hingga kasus kecelakaan kerja yang tidak mendapatkan kompensasi layak dari perusahaan.
Agus memposisikan dirinya sebagai 'perisai' bagi mereka yang tak punya kuasa. Ia sering kali mendatangi perusahaan-perusahaan yang dilaporkan melakukan pelanggaran hak normatif pekerja.
Ia tidak datang untuk menggertak demi kepentingan pribadi, tapi untuk mengingatkan bahwa di balik setiap izin usaha yang diberikan pemerintah daerah, ada kewajiban moral dan hukum untuk menyejahterakan tenaga kerja lokal.
Ia juga sangat peduli pada nasib Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Pasuruan. Banyak warga yang berangkat ke luar negeri lewat jalur non-prosedural karena himpitan ekonomi, lalu berakhir dengan penyiksaan atau sengketa gaji di negeri orang.
Agus aktif menjalin komunikasi dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) untuk memulangkan warga yang bermasalah dan memastikan mereka mendapatkan perlindungan hukum yang semestinya.
Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah: Membangun Jaring Pengaman Sosial
Agus menyadari bahwa aksi individual seorang anggota dewan tidak akan cukup untuk menghapus masalah sosial yang sistemis. Oleh karena itu, ia mendorong penguatan Jaring Pengaman Sosial melalui kebijakan di tingkat kabupaten.
Ia bekerja sama dengan Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) untuk menciptakan sistem respon cepat terhadap kasus-kasus kekerasan dan eksploitasi. Agus mendorong agar pemerintah daerah memiliki rumah aman (safe house) yang layak bagi korban kekerasan, lengkap dengan pendampingan psikologis dan bantuan hukum gratis.
Dalam setiap pembahasan anggaran, Agus selalu memelototi pos anggaran untuk bantuan sosial. Ia memastikan bahwa warga yang berada di garis kemiskinan ekstrem, lansia terlantar, hingga anak yatim piatu mendapatkan perhatian nyata, bukan sekadar simbolis.
Baginya, indikator keberhasilan pemerintah daerah yang paling utama adalah sejauh mana mereka mampu melindungi warga yang paling rentan.
Penyelamatan Bayi dan Ibu Muda: Kemanusiaan di Atas Segalanya
Ada satu momen yang sangat menyentuh hati masyarakat, yakni saat Agus membantu seorang wanita muda yang memiliki bayi namun terjebak dalam kesulitan ekonomi dan sosial yang amat berat. Wanita tersebut hampir kehilangan harapan dan nyaris melakukan tindakan nekat.
Agus hadir memberikan dukungan moral dan material. Ia mengoordinasikan bantuan agar sang ibu mendapatkan tempat tinggal sementara yang layak dan akses kesehatan untuk bayinya. Ia tidak menghakimi latar belakang sang ibu karena baginya, menyelamatkan bayi tersebut adalah prioritas kemanusiaan tertinggi.
Aksi-aksi 'sunyi' seperti inilah yang membuat masyarakat memberikan label 'Sang Dewan Pembela' bukan sebagai julukan politik, melainkan sebagai bentuk rasa syukur.
Politik Adalah Jalan Menolong Sesama
Pada artikel ini membuktikan bahwa bagi Agus Suyanto, kekuasaan hanyalah alat untuk menegakkan keadilan. Ia membuktikan bahwa seorang politisi bisa memiliki empati yang dalam dan keberanian yang nyata saat melihat kemanusiaan diinjak-injak.
Advokasi sosial yang dilakukannya memberikan pesan kuat kepada seluruh masyarakat Pasuruan yaitu, mereka tidak pernah sendirian. Ada sosok yang siap pasang badan, ada suara yang siap berteriak membela, dan ada tangan yang siap merangkul di saat-saat paling sulit.
Bagi Agus, politik yang tidak mampu menyelamatkan satu nyawa manusia yang tertindas adalah politik yang kehilangan jiwanya.
Ia pun memilih untuk terus menghidupkan jiwa politik itu melalui aksi nyata, dari meja sidang hingga ke barak-barak pengungsian dan rumah-rumah kontrakan sempit di pelosok desa.
***
Editor: YAN
Baca juga: Pemberdayaan SDM dan Generasi Muda



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?