![]() |
| Agus Suyanto, Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan yang selalu memperhatikan beragam permasalahan rakyat dari isu pertanian hingga kesehatan./dok. Istimewa |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:
Rumah sakit seharusnya menjadi benteng terakhir harapan, tempat di mana doa-doa kesembuhan dilambungkan dan tangan-tangan ahli medis bekerja dengan presisi tinggi demi menyambung nyawa. Namun, apa jadinya jika tempat yang menjanjikan kehidupan itu justru berubah menjadi lorong gelap yang merenggut nyawa secara mendadak?
Bagi Agus Suyanto, tidak ada yang lebih menyayat hati daripada melihat rakyat kecil—yang sudah susah payah mengumpulkan receh demi biaya pengobatan—harus pulang membawa peti mati akibat dugaan kelalaian prosedur. Kasus di Rumah Sakit Prima Husada adalah ujian nurani bagi Agus, sebuah momen di mana ia harus berdiri tegak menjadi perisai bagi warga yang tak berdaya di hadapan tembok raksasa institusi medis.
Tragedi di Balik Ruang Perawatan: Sebuah Kematian Misterius
Kejadian memilukan ini bermula dari sebuah laporan warga yang masuk ke ponsel Agus Suyanto di tengah malam. Suara di ujung telepon itu parau, penuh isakan dan amarah. Seorang pasien di RS Prima Husada Sukorejo dilaporkan meninggal dunia hanya beberapa saat setelah mendapatkan tindakan medis berupa injeksi atau suntikan obat.
Pihak keluarga merasa ada kejanggalan yang teramat besar; pasien yang awalnya masuk dengan kondisi stabil dan masih bisa berkomunikasi, tiba-tiba mengalami kejang hebat dan kehilangan nyawa tepat setelah cairan obat itu masuk ke pembuluh darahnya.
Mendengar kabar itu, darah Agus mendidih. Ia bukan tipe pejabat yang hanya mengirimkan asisten untuk berbasa-basi. Esok paginya, ia langsung turun tangan menuju rumah duka, lalu berlanjut ke fasilitas kesehatan tersebut.
Baginya, setiap miligram obat yang disuntikkan ke tubuh rakyat harus bisa dipertanggungjawabkan secara klinis, moral, dan hukum. Ia duduk di lantai bersama keluarga korban, menyerap setiap detail kronologi yang penuh tangis, dan bersumpah bahwa nyawa orang tercinta mereka tidak akan menjadi sekadar statistik 'kematian wajar' dalam laporan bulanan rumah sakit.
Mencari Transparansi: Melawan Dinding Bisu Birokrasi Medis
Menghadapi institusi rumah sakit besar bukanlah perkara mudah bagi warga biasa. Sering kali, keluarga pasien yang sedang berduka justru dibentur dengan istilah-istilah medis yang rumit, jargon-jargon kedokteran yang membingungkan, dan jawaban normatif bahwa 'semua sudah dilakukan sesuai SOP'.
Di sinilah Agus Suyanto memainkan peran vitalnya sebagai anggota legislatif. Ia menggunakan kewenangan pengawasannya untuk mendesak manajemen rumah sakit membuka tabir transparansi yang selama ini seolah tak tertembus.
Agus memimpin langsung koordinasi dan audiensi. Ia mencecar manajemen dengan pertanyaan-pertanyaan tajam mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dilakukan saat itu.
Ia menuntut kejelasan: Obat apa yang disuntikkan? Apakah sudah dilakukan skin test untuk mengecek alergi? Bagaimana kualifikasi tenaga medis yang bertugas saat itu? Agus tidak datang untuk menyerang profesi dokter secara personal, melainkan untuk memastikan akuntabilitas sistem.
"Rakyat kami datang ke sini untuk sembuh, bukan untuk pulang tinggal nama tanpa penjelasan yang jujur. Jika ada kesalahan, akui. Jika ada kelalaian, perbaiki. Jangan biarkan dinding rumah sakit ini menjadi bisu saat nyawa rakyat kami dipertanyakan," tegas Agus dengan nada yang menggetarkan ruang rapat manajemen.
Pendampingan Keluarga: Menuntut Hak di Tengah Duka
Selama proses pencarian keadilan ini, Agus Suyanto bertindak lebih dari sekadar anggota dewan. Ia justru seperti menjadi mentor, pelindung, dan penyambung lidah bagi keluarga korban.
Ia menyadari bahwa keluarga pasien sering kali berada dalam posisi tawar yang lemah. Mereka tidak paham hukum, mereka takut pada biaya perkara, dan mereka sering kali merasa terintimidasi oleh wibawa institusi medis.
Agus memastikan bahwa keluarga korban tidak dibiarkan berjuang sendirian. Ia mengawal setiap langkah mediasi, memastikan tidak ada intervensi atau upaya 'pembungkaman' secara halus dari pihak mana pun.
Ia juga mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan untuk melakukan audit medis secara independen dan transparan. Agus ingin hasil investigasi yang keluar adalah hasil yang jujur, bukan hasil yang sengaja dibuat kabur demi menyelamatkan nama baik institusi.
Upaya yang dilakukan Agus bukan semata-mata soal menuntut uang kompensasi atau santunan. Bagi Agus, ini adalah soal Martabat Kemanusiaan. Ia ingin memberikan pelajaran keras bagi setiap instansi layanan publik di Pasuruan bahwa nyawa rakyat kecil memiliki nilai yang setara dengan nyawa kaum elit. Tidak boleh ada diskriminasi dalam pelayanan, dan tidak boleh ada kelalaian medis yang disembunyikan di balik jubah putih profesi.
Edukasi Hak Pasien: Membangun Kesadaran Masyarakat
Melalui kasus tragis di RS Prima Husada ini, Agus Suyanto juga melakukan edukasi besar-besaran kepada masyarakat Pasuruan mengenai hak-hak pasien. Ia ingin warga tahu bahwa mereka berhak bertanya tentang obat yang diberikan, berhak meminta penjelasan mengenai tindakan medis, dan berhak mendapatkan akses terhadap rekam medis sesuai aturan yang berlaku.
Agus mendorong agar setiap fasilitas kesehatan di Pasuruan memiliki sistem pengaduan yang responsif dan tidak defensif. Ia ingin menciptakan ekosistem pelayanan kesehatan yang humanis, di mana tenaga medis dan keluarga pasien memiliki jalur komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.
Menurutnya, kegaduhan sering kali terjadi bukan karena tindakan medisnya saja, tapi karena buruknya komunikasi dan tertutupnya informasi dari pihak rumah sakit saat terjadi kendala.
Refleksi: Pelayanan Kesehatan Adalah Titik Nadir Kemanusiaan
Intervensi Agus dalam kasus RS Prima Husada membawa pesan yang menggema ke seluruh pelosok Kabupaten Pasuruan. Ia membuktikan bahwa seorang wakil rakyat adalah 'anjing penjaga' bagi hak-hak sipil, terutama saat warga berada dalam titik nadir hidupnya—yakni saat sakit dan saat berduka.
Bagi Agus, pelayanan kesehatan adalah wajah asli dari keberpihakan pemerintah terhadap rakyatnya. Jika rakyat kecil masih dipandang sebelah mata di puskesmas atau rumah sakit, maka pembangunan jalan tol atau gedung megah tidak akan ada artinya. Ia menegaskan bahwa rumah sakit harus menjadi tempat yang paling aman dan paling jujur di dunia.
Kejadian ini menutup potret heroisme Agus Suyanto di sektor kesehatan. Ia telah menunjukkan bahwa lencana anggota dewan yang ia pakai bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk menembus gerbang-gerbang rumah sakit demi membela hak rakyat yang sudah tak lagi bisa bersuara.
Di mata masyarakat, Agus bukan hanya legislator yang pandai berargumen di podium, tapi ia adalah sosok yang berani berdiri di depan pintu IGD demi memastikan keadilan bagi nyawa yang telah hilang.
***
Editor: YAN
Baca juga: Advokasi Sosial dan Kemanusiaan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?