![]() |
| Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto mendukung penuh Pasar Rakyat di tengah era modern./dok. Istimewa |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:
Di tengah deru pembangunan infrastruktur yang kian masif di Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto sering kali berdiri di depan gerbang pasar-pasar tradisional dengan raut wajah yang penuh pemikiran. Baginya, pasar rakyat bukan sekadar tempat transaksi jual-beli cabai atau daging; pasar adalah jantung peradaban ekonomi lokal. Namun, hari ini jantung itu sedang dipaksa berdetak lebih lambat, terhimpit oleh kepungan toko modern di setiap sudut jalan dan serangan tak kasat mata dari algoritma pasar online yang agresif.
Agus menyadari bahwa jika pasar rakyat mati, maka kemandirian ekonomi desa akan ikut terkubur. Inilah babak di mana ia memposisikan dirinya sebagai benteng terakhir bagi para pedagang kecil.
Persaingan yang Tidak Seimbang: Tradisional vs Raksasa Digital
Agus Suyanto memiliki analisis yang sangat mendalam mengenai ketimpangan persaingan usaha saat ini. Ia melihat pedagang pasar tradisional sedang menghadapi 'perang' yang tidak seimbang. Di satu sisi, mereka harus berhadapan dengan toko modern ber-AC yang memiliki modal raksasa dan jaringan distribusi luas. Di sisi lain, mereka dihantam oleh fenomena belanja online yang menawarkan kemudahan sekaligus harga yang sering kali tidak masuk akal.
"Pedagang kita di pasar itu jujur, mereka kulakan, mereka ambil untung sedikit untuk makan. Tapi sekarang, mereka dipaksa melawan algoritma yang diatur oleh elit global," tegas Agus dalam sebuah diskusi publik.
Ia mengkritik keras sistem pasar online yang menurutnya sangat eksploitatif. Agus menyoroti bagaimana platform digital sering kali 'memaksa' pedagang kecil untuk mengikuti program diskon atau gratis ongkir yang subsidinya justru diambil dari margin keuntungan pedagang itu sendiri.
Konsumen mungkin merasa senang mendapatkan harga murah, tapi bagi Agus, itu adalah ekonomi yang tidak sehat. Belum lagi risiko kloning produk; saat sebuah produk UMKM lokal mulai laris di marketplace, tiba-tiba muncul produk serupa dengan harga jauh lebih murah karena diproduksi secara massal oleh industri besar. Inilah yang ia sebut sebagai 'pembunuhan perlahan' terhadap pasar rakyat.
Pentingnya Ekonomi Lokal: Filosofi Perputaran Uang
Mengapa Agus begitu ngotot membela pasar tradisional? Jawabannya ada pada prinsip Local Economic Development (LED). Agus percaya bahwa kesehatan ekonomi sebuah daerah ditentukan oleh seberapa lama uang berputar di wilayah tersebut.
Ia memberikan perbandingan yang sangat logis: Jika seorang warga Pasuruan membelanjakan uangnya di toko modern milik korporasi nasional atau internasional, maka uang itu akan langsung 'terbang' ke pusat, ke rekening-rekening elit di Jakarta atau luar negeri. Dampaknya bagi ekonomi Pasuruan sangat minim.
Namun, jika warga tersebut belanja di pasar tradisional atau ke tetangga sendiri, uang itu akan berputar di Pasuruan. Pedagang pasar yang mendapatkan untung akan membelanjakan uangnya kembali untuk menyekolahkan anaknya di Pasuruan, membeli bensin di Pasuruan, dan membayar jasa tukang di Pasuruan.
"Inilah yang membuat ekonomi kita kuat. Uang rakyat harus tetap di tangan rakyat lokal. Itulah kedaulatan yang sesungguhnya," ungkap Agus. Baginya, pasar rakyat adalah mesin utama perputaran uang yang paling adil.
Revitalisasi Pasar Rakyat: Bukan Sekadar Bangunan Baru
Agus Suyanto tidak hanya berhenti pada kritik. Sebagai anggota dewan, ia aktif mendorong Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk melakukan Revitalisasi Pasar. Namun, ia menekankan bahwa revitalisasi jangan hanya dipahami sebagai perbaikan fisik bangunan atau pengecatan ulang dinding pasar.
Bagi Agus, revitalisasi harus menyentuh aspek kenyamanan dan magnet ekonomi. Ia mendorong konsep pasar yang bersih, tertata, dan memiliki akses jalan yang mudah. Ia ingin pasar tradisional memiliki daya tarik yang membuat orang 'ketagihan' untuk datang.
Salah satu ide inovatifnya adalah membuat pasar sebagai pusat kegiatan sosial. "Kenapa orang suka ke mall? Karena nyaman dan ada hiburannya. Kita harus buat pasar tradisional punya magnet yang sama tanpa menghilangkan jati dirinya," ujarnya.
Ia mengusulkan adanya promo-promo tematik, kerjasama dengan perusahaan untuk aktivasi produk di pasar, hingga penyediaan fasilitas ramah anak di area pasar agar ibu-ibu bisa belanja dengan tenang.
Strategi Inovasi: Belanja Sambil Berwisata
Agus memimpikan sebuah konsep 'Pasar Wisata'. Di beberapa wilayah di Pasuruan yang memiliki basis sejarah atau produk unik, ia mendorong agar pasar tersebut dikembangkan menjadi destinasi. Misalnya, pasar yang tidak hanya menjual sayur, tapi juga menjadi pusat kuliner khas atau oleh-oleh yang dikemas secara modern.
Ia juga mendorong digitalisasi yang 'membumi'. Bukan dengan memaksa pedagang pasar bertarung di marketplace global yang kejam, tapi dengan membangun sistem pengiriman lokal atau aplikasi belanja pasar tingkat kecamatan. Dengan begitu, kemudahan belanja online didapatkan, tapi perputaran uang tetap terjaga di komunitas lokal tersebut.
Refleksi: Membela Martabat Pedagang Kecil
Bab 6 ini menegaskan bahwa Agus Suyanto adalah seorang ideolog ekonomi kerakyatan. Keberpihakannya pada pasar rakyat bukan karena ia anti-modernisasi, tapi karena ia mencintai keadilan. Ia tidak ingin melihat para pedagang yang sudah puluhan tahun menghidupi keluarganya lewat pasar harus gulung tikar hanya karena sistem ekonomi yang tidak adil.
Bagi Agus, menjaga pasar rakyat adalah menjaga martabat bangsa. Selama ia masih duduk di kursi dewan, ia akan terus menjadi 'pengawal' bagi setiap kebijakan yang menyangkut hajat hidup pedagang pasar. Ia ingin memastikan bahwa di masa depan, anak cucu warga Pasuruan masih bisa merasakan hangatnya tegur sapa di pasar tradisional, sebuah interaksi kemanusiaan yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh klik-klik di layar ponsel.
***
Editor: YAN
Baca juga: Bela UMKM dan Ekonomi Rakyat



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?