![]() |
| Jejak Agus Suyanto, Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan 2024-2029 yang menjangkau berbagai kalangan sosial untuk pemberdayaan Kabupaten Pasuruan./dok. Istimewa |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:
Jika ada satu kata yang paling tepat menggambarkan napas perjuangan Agus Suyanto di gedung parlemen, kata itu adalah UMKM. Bagi Agus, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bukan sekadar barisan angka dalam laporan statistik ekonomi tahunan Pemerintah Kabupaten Pasuruan. UMKM adalah wajah ibu-ibu yang rela begadang menggoreng keripik demi biaya sekolah anak, wajah bapak-bapak yang memeras keringat di bengkel las sempit, dan wajah pemuda desa yang mencoba mandiri lewat kreativitas olahan lokal.
Di mata Agus, mereka adalah pahlawan ekonomi yang sesungguhnya, namun seringkali menjadi kelompok yang paling 'sebatang kara' saat berhadapan dengan raksasa kapital dan kerumitan regulasi.
Awal Terjun: Dari Dapur Sendiri hingga ke Hati Rakyat
Dedikasi Agus pada UMKM tidak muncul dari teks pidato yang disiapkan staf ahli. Jauh sebelum ia memakai pin emas anggota dewan, ia adalah pelaku sejarah di dunia ini. Agus pernah mencecap asin dan gurihnya dunia usaha kecil secara langsung. Ia mengawali langkahnya dengan terjun di sektor UMKM makanan, khususnya pengolahan keripik dan produk olahan lokal lainnya.
Dari dapur produksinya sendiri, ia belajar tentang pahit getirnya mencari bahan baku yang stabil, lelahnya memasarkan produk dari warung ke warung, hingga rasa was-was saat modal kerja menipis. Pengalaman empiris inilah yang membentuk 'DNA' keberpihakannya. Ia tahu betul bahwa seorang pelaku UMKM tidak butuh seminar motivasi yang bertele-tele; mereka butuh kepastian akses, kemudahan izin, dan perlindungan pasar.
"Saya pernah di posisi mereka. Saya tahu rasanya barang tidak laku, saya tahu rasanya bingung mau pinjam modal ke mana. Itulah mengapa, saat saya diberikan amanah sebagai wakil rakyat, UMKM adalah harga mati yang harus saya bela," tegas Agus dalam sebuah pertemuan dengan perajin makanan olahan.
Pendampingan Perizinan: Mendobrak Tembok Birokrasi
Salah satu momok terbesar bagi pelaku UMKM di Pasuruan adalah urusan administratif. Banyak produk lokal yang kualitas rasanya juara, namun tak bisa masuk ke pasar modern atau menembus ritel besar hanya karena tidak memiliki izin P-IRT, sertifikasi Halal, atau izin edar lainnya. Bagi pedagang kecil, mendatangi kantor dinas seringkali terasa seperti memasuki labirin yang menakutkan.
Agus Suyanto hadir sebagai pemandu di labirin itu. Ia tidak hanya menyuruh warga mengurus izin, tapi ia melakukan pendampingan secara jemput bola. Ia mengorganisir bimbingan teknis, memfasilitasi komunikasi dengan dinas terkait, hingga memastikan proses perizinan tidak dipersulit oleh pungutan-pungutan liar. Ia ingin agar setiap produk UMKM di Pasuruan memiliki 'paspor' yang sah untuk bertarung di pasar yang lebih luas. Baginya, legalitas bukan sekadar selembar kertas, melainkan kepercayaan konsumen dan martabat sang pengusaha.
Strategi Klaster: Kekuatan dalam Kebersamaan
Agus menyadari bahwa jika bergerak sendiri-sendiri, pelaku UMKM akan mudah tumbang. Ia menginisiasi pembentukan Komunitas Usaha atau Klaster UMKM. Ia mengelompokkan para pengusaha berdasarkan jenis usahanya: ada klaster makanan-minuman (mamin), klaster batik, hingga klaster kerajinan tangan.
Pembentukan klaster ini memiliki tujuan strategis. Pertama, untuk memudahkan akses bantuan dan pembinaan dari pemerintah agar tepat sasaran. Kedua, sebagai wadah sharing ilmu dan teknologi produksi. Ketiga, untuk menciptakan kekuatan tawar (bargaining power). Saat pesanan datang dalam jumlah besar—misalnya permintaan ekspor—satu pengusaha kecil mungkin tidak sanggup memenuhinya. Namun, dengan sistem klaster, mereka bisa berkolaborasi berbagi beban produksi tanpa menghilangkan identitas masing-masing merek.
Melalui klaster ini, Agus juga mendorong digitalisasi pemasaran. Ia membawa mentor-mentor ahli untuk mengajari warga cara berjualan di marketplace dan media sosial, agar produk desa bisa menjangkau pembeli di kota besar, bahkan hingga mancanegara.
Dampak Ekonomi: Menghidupkan Nadi Desa
Keberhasilan advokasi Agus pada sektor UMKM memberikan dampak domino yang luar biasa bagi ekonomi lokal Kabupaten Pasuruan. Saat sebuah unit usaha kecil berkembang dari skala rumahan menjadi industri kecil yang stabil, ia tidak hanya menyejahterakan si pemilik usaha, tapi juga menciptakan lapangan kerja bagi tetangga sekitarnya.
Anak-anak muda desa yang tadinya berniat merantau ke kota besar, mulai melirik potensi di kampung halaman mereka sendiri. Perputaran uang pun terjadi di tingkat lokal (Velocity of Money).
Uang yang dihasilkan warga desa, dibelanjakan kembali di desa tersebut untuk membeli bahan baku dan jasa lainnya. Inilah esensi dari ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya yaitu pembangunan yang tumbuh dari bawah, bukan sekadar tetesan dari atas.
Membantu UMKM Tersandung Hukum: Dari Sidang hingga Menang
Puncak dari heroisme Agus Suyanto sebagai 'Sang Pembela' adalah keberaniannya masuk ke ranah hukum demi melindungi rakyat kecil.
Seringkali, pelaku UMKM tersandung masalah hukum hanya karena ketidaktahuan prosedur atau menjadi korban dari persaingan usaha yang tidak sehat. Ada yang digugat masalah merek, ada yang diperkarakan karena masalah perizinan yang belum lengkap, hingga yang bersengketa dengan pihak bermodal besar.
Dalam kasus-kasus seperti ini, Agus tidak tinggal diam. Ia tidak hanya memberikan bantuan hukum lewat pengacara, tapi ia seringkali hadir langsung di ruang persidangan.
Kehadirannya adalah pesan moral bahwa rakyat kecil tidak sendirian. Ia pasang badan memberikan kesaksian, menggalang dukungan opini publik, hingga melakukan mediasi dengan pihak-pihak terkait.
Salah satu cerita yang paling dikenang adalah saat ia mendampingi pelaku UMKM yang terancam sanksi berat karena urusan administratif yang sepele. Agus mengawal kasus tersebut dari tahap penyidikan hingga ke meja hijau.
Ia berargumen bahwa negara seharusnya hadir untuk membina, bukan membinasakan usaha rakyat yang baru tumbuh. Dengan kegigihannya, kasus tersebut akhirnya dimenangkan oleh si pelaku UMKM.
Kemenangan di ruang sidang itu disambut haru oleh komunitas pengusaha kecil. Bagi mereka, Agus Suyanto bukan lagi sekadar anggota dewan yang bicara di televisi, tapi dia adalah 'benteng terakhir' tempat mereka mencari keadilan.
Integritas Seorang Pelayan Rakyat
Perjalanan ini menunjukkan bahwa bagi Agus Suyanto, membela UMKM adalah panggilan jiwa. Ia memahami bahwa ekonomi rakyat adalah fondasi ketahanan bangsa.
Jika UMKM kuat, maka Kabupaten Pasuruan akan mandiri. Perjuangannya yang tanpa lelah—mulai dari urusan dapur, pendampingan izin, hingga ke ruang sidang—telah menempatkan dirinya sebagai sosok yang tak tergantikan di hati para pelaku usaha kecil.
Bagi Agus, setiap senyum keberhasilan seorang pelaku UMKM adalah gaji batin yang jauh lebih berharga daripada tunjangan jabatan apa pun. Ia akan terus berlari, mendampingi, dan membela, karena di tangan-tangan terampil para pelaku UMKM itulah, masa depan Pasuruan diletakkan.
***
Editor: YAN
Baca juga: Politik sebagai Jalan Manfaat



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?