![]() |
| Senator DPD RI Lia Istifhama mengingatkan adanya ciri orang bangkrut yang mempunyai banyak pahala ibadah tetapi berpotensi merugi di akhirat./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama mengungkapkan adanya orang bangkrut meski ia rajin beribadah. Mengapa bisa demikian?
Pada momen Ramadan ini, Senator Lia Istifhama menyempatkan diri untuk berbagi pesan-pesan kebaikan kepada sesama terutama umat Muslim setanah air.
Salah satu pesan yang ia sampaikan saat sedang bekerja di Kantor DPD RI Jatim, Surabaya (5/3) adalah tentang ciri 'orang bangkrut'.
Menukil pada ajaran Islam, ada gambaran tentang orang bangkrut yang justru datang pada hari kiamat dengan membawa banyak pahala, namun akhirnya kehilangan semuanya karena perilaku zalim kepada orang lain.
Lia mengangkat hal ini karena ia mengamati adanya sebagian orang yang terlalu fokus memperbanyak ritual yakni salat, puasa, dan zakat, namun lalai dalam menjaga lisan dan akhlak sosial.
Padahal, merendahkan, memfitnah, atau mengambil hak orang lain bisa menjadi sebab runtuhnya seluruh amal yang sebelumnya dilakoni.
"Yang ditakutkan itu bukan hanya miskin harta. Tetapi bangkrut di akhirat. Pahalanya banyak, tapi habis karena menyakiti orang lain," ucap Lia.
Lia mengutip hadis dari Abu Hurairah ra, ketika Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, orang bangkrut adalah yang tidak memiliki dirham dan kenikmatan hidup. Namun Nabi menjelaskan, orang bangkrut dari umatnya adalah mereka yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi di dunia pernah menghina, menuduh, merampas harta, menumpahkan darah, atau memukul orang lain. Pada hari itu, kebaikannya dipindahkan untuk membayar kezaliman tersebut. Jika kebaikannya habis, dosa orang yang dizalimi dilimpahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Menurut Ning Lia--sapaannya, pesan Nabi menegaskan bahwa ibadah harus berdampak pada akhlak. Ibadah yang benar semestinya melahirkan sikap rendah hati, hati-hati dalam berbicara, serta menjauhkan diri dari tindakan merugikan orang lain secara fisik, ekonomi, maupun martabat.
"Kalau ibadah kita justru membuat kita merasa paling benar, lalu mudah menghina orang, mudah menuduh, atau merampas hak orang lain, itu alarm bahaya. Bisa jadi yang kita kumpulkan bukan pahala, tapi perkara yang menghabiskan pahala," tuturnya.
Ia menilai, hadis tersebut sangat relevan dengan kehidupan hari ini, terutama di ruang digital. Fitnah, ujaran kebencian, tuduhan tanpa bukti, hingga kebiasaan merendahkan orang lain di media sosial, menurutnya, sering dianggap sepele. Padahal, semua itu menyangkut hak dan kehormatan manusia yang kelak akan dituntut.
Lia juga menganggap Ramadan adalah momen yang tepat untuk memperbaiki segala sisi, baik secara spiritual maupun sosial. Puasa seharusnya tidak hanya membentuk ketahanan fisik, tetapi juga memperbaiki relasi sosial.
Ramadan juga menurutnya adalah momentum menahan diri dari lisan yang melukai, dari emosi yang meledak, serta dari tindakan yang merugikan orang lain.
"Ramadan itu latihan akhlak. Ukurannya bukan hanya kuat menahan lapar, tapi kuat menahan diri untuk tidak menyakiti," lanjutnya.
Putri Maskur Hasyim ini mengajak masyarakat memperbanyak introspeksi dan segera meminta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan orang lain yang pernah disakiti dengan ucapan, tindakan, atau keputusan.
"Jangan menunggu hisab. Selama masih ada waktu, bereskan urusan dengan sesama. Karena yang paling mahal di akhirat adalah pahala yang habis untuk membayar kezaliman kita sendiri," tandasnya. ***
Editor: YAN
Baca juga: Sehat dan Waktu Luang Bikin Terlena



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?