![]() |
| Senator DPD RI Lia Istifhama menyebut kekurangan umat Islam, yakni kaya ilmu namun miskin tradisi menulis./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Senator DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama menyoroti kelemahan umat Islam dari masa ke masa, termasuk saat ini.
Pada momen Ramadan 2026 (5/3), Anggota DPD RI Lia Istifhama di kantornya yang terletak di Surabaya, berbagi pandangannya terhadap kehidupan umat Islam.
Menurutnya, umat Islam memiliki warisan keilmuan yang sangat kuat, namun lemah dalam satu hal penting yaitu tradisi menulis dan menyebarkan gagasan sehingga dapat dikonsumsi luas oleh dunia internasional.
Bagi Lia, tidak sedikit teori-teori sosial modern yang dianggap lahir dari para ilmuwan Barat sejatinya fondasi nilai dan ruhnya telah lama dikenal dalam ajaran Islam. Hanya saja, umat Islam kerap tidak mengemas ilmu-ilmu itu dalam bentuk tulisan yang sistematis sehingga tidak terbaca oleh dunia.
"Kadang orang-orang Barat dianggap ilmuwan yang punya teori. Umat Islam tidak demikian. Padahal fondasinya dari Islam. Masalahnya, umat Islam lemah menuliskan apa yang dipelajari dari fikih, Al-Qur’an, hadis, usul fikih, dan lainnya untuk bisa dikonsumsi bangsa lain," buka Lia.
Ia menyebut pemikir asal Pakistan Inayat Hussain sebagai salah satu tokoh yang menegaskan bahwa konsep society sejatinya memiliki akar nilai dari Islam. Bagi Lia, pemikiran itu seharusnya menjadi pemicu umat Islam untuk percaya diri sekaligus membangun kembali tradisi intelektual yang kuat melalui karya tulis.
Lia pun menekankan, manusia tidak cukup hanya membawa identitas, tetapi harus membuktikannya lewat perilaku sosial. Ia bahkan menyebut, manusia bisa saja 'pantas seperti hewan' jika hidup hanya mengejar kebutuhan dirinya sendiri tanpa kepedulian pada orang lain.
"Manusia itu berada di tengah masyarakat. Ia berpikir untuk memenuhi kebutuhan orang lain, bukan hanya kebutuhan sendiri," bebernya.
Penulis buku 'Resiliensi Korban Pelecehan Seksual: Sudut Pandang Sosial dan Ekonomi Islam (2019)' ini menjelaskan, ukuran kemanusiaan dapat dilihat dari dampak perilaku seseorang pada lingkungan sosialnya.
Ketika seseorang bertindak baik, menjaga adab, dan menghadirkan kenyamanan, orang lain akan merasa tenang, tersenyum, bahkan bahagia.
"Ketika kita berperilaku baik, orang lain merasakan nyaman. Kita tersenyum kepada orang lain, orang lain akan happy. Itu nilai sosial yang dalam," tuturnya.
Kepedulian sosial ini juga menurutnya selaras dengan keyakinan keagamaan yaitu kebaikan di dunia akan berbuah kebaikan di akhirat. Dan, ajaran Islam menempatkan para pelaku kebaikan sebagai golongan yang memiliki kemuliaan tersendiri.
"Sesungguhnya kebaikan di dunia berujung kebaikan di akhirat. Yang masuk surga pertama adalah ahli kebaikan," lanjutnya.
Inilah mengapa, Lia mendorong umat Islam tidak berhenti pada pengajian dan pemahaman tekstual, tetapi juga menghidupkan tradisi ilmu yang bisa dibaca lintas bangsa melalui tulisan, riset, dan publikasi.
Lia juga menyebut bahwa kebangkitan peradaban tidak lahir dari semangat saja, tetapi dari karya yang bisa diwariskan dan dipelajari oleh generasi dan bangsa lain.
"Kalau kita ingin gagasan Islam menjadi rujukan dunia, maka kita harus menuliskannya, menyusunnya, dan menghadirkannya sebagai pengetahuan yang bisa diakses semua orang,” pungkas penulis 'Beda Agama Hidup Rukun (2020)'. ***
Editor: YAN
Baca juga: Ciri Orang Bangkrut, Banyak Pahala tapi...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?