![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama menyebut kehidupan manusia sejati adalah yang bisa bermanfaat bagi sesama./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Senator Lia Istifhama membagikan pesan-pesan positif kepada masyarakat di tengah momen suci Ramadan 2026.
Di tengah kesibukannya pada Kamis (5/3) di Kantor DPD RI Jatim, Surabaya, Senator Lia menekankan tentang inti kehidupan bermasyarakat adalah memberi faedah bagi orang lain.
Manusia menurutnya, tidak cukup hanya hidup, bekerja, dan mengejar kepentingan diri sendiri. Tetapi, manusia juga akan tampak sebagai manusia ketika ia menjadi jalan pemenuhan kebutuhan orang lain.
"Kita akan benar-benar menjadi manusia jika perilaku kita memenuhi kebutuhan orang lain. Kalau hidup kita tidak bermanfaat bagi orang lain, itu bukan kehidupan manusia," tutur Lia.
Lia memaparkan, Islam memiliki konsep sosial yang kuat melalui prinsip hablum minannas, yaitu hubungan baik dengan sesama manusia. Hanya saja, dimensi sosial inilah yang sering dilupakan ketika agama hanya dipahami sebagai ritual pribadi.
Padahal menurutnya, Islam mengenal gagasan masyarakat madani atau benevolent society, yakni masyarakat kebajikan yang terbentuk karena warganya saling peduli.
Ia menautkan konsep ini dengan pemikiran Inayat Hussain dari Pakistan, tentang ultimate goal society, yaitu tujuan tertinggi bermasyarakat adalah menyampaikan kebaikan dan mendorong kebahagiaan bersama.
Gagasan tersebut menurut Lia juga sejalan dengan logika utilitarianisme, yaitu menilai tindakan dari hasil akhirnya. Apakah tindakan tersebut berujung pada kesejahteraan umum, kebahagiaan bersama, atau justru hanya memaksimalkan kepentingan diri sendiri.
"Intinya sederhana, hasil akhir tindakan kita itu apa? Memaksimalkan kebahagiaan umum, atau hanya menguntungkan diri sendiri?" ucapnya.
Jika sebuah masyarakat didominasi orientasi kepentingan pribadi, menurutnya, itu akan menimbulkan kecurigaan, jarak, dan krisis empati, alih-alih kebajikan sosial.
Inilah mengapa, penulis 'Membingkai Pendidikan Bangsa (2022)' mengajak publik untuk menguatkan kembali kebiasaan peduli, yang ia sebut sebagai syarat menjadi manusia dalam pengertian sosial.
Kepedulian itu pun ia harap bukan reaksi sesaat melainkan menjadi budaya. "Kalau masyarakat ingin damai, kuat, dan bahagia, maka kebahagiaan itu harus dibangun bersama. Caranya adalah peduli dan bermanfaat," tandas penulis 'Transformasi Wajah Demokrasi di Era Digitalisasi (2025)'. ***
Editor: YAN
Baca juga: Umat Islam Kaya Ilmu, Miskin Tradisi Menulis



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?