![]() |
| Senator DPD RI, Lia Istifhama menyebut adanya determinisme teknologi, dan budaya sosial masa kini dapat dibentuk oleh cara bermedia sosial./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Jawa Timur Lia Istifhama mengangkat sebuah topik menarik di tengah era media sosial dalam kehidupan masa kini.
Di tengah kesibukannya di Kantor DPD RI Jatim, Surabaya (5/3), Lia menyempatkan diri untuk memberi pesan kepada masyarakat tentang teknologi komunikasi hari ini bukan lagi sekadar alat bantu.
Menurutnya Ning Lia--sapaannya, teknologi dewasa ini telah menjadi aktor perubahan budaya. Yaitu dengan membentuk cara masyarakat berpikir, berkomunikasi, dan memperlakukan perbedaan.
Ning Lia menyinggung konsep determinisme teknologi, yakni pandangan bahwa perkembangan teknologi komunikasi ikut menentukan arah perubahan sosial. Situasi ini membuatnya meminta publik untuk tidak serta-merta memandang media sosial sebagai ruang netral yang dampaknya otomatis baik.
"Budaya kita hari ini dibentuk oleh cara kita bermedia sosial. Kalau ruang digital diisi adab, maka budaya ikut beradab. Tapi kalau ruang digital dipenuhi kebencian dan fitnah, budaya kita ikut rusak," ucap Senator Lia.
Sebenarnya, perubahan struktur sosial sudah berlangsung sejak lama. Pada konsep sosiologi, masyarakat tradisional banyak ditopang pola patembayan yaitu relasi yang kuat karena ikatan keluarga, kekerabatan, atau hubungan darah.
Namun, seiring perkembangan zaman, relasi sosial meluas. Orang membangun hubungan baru karena sekolah, pekerjaan, organisasi, dan perjumpaan yang makin kompleks.
Kini, teknologi komunikasi membawa perubahan yang lebih tajam. Relasi sosial bahkan tidak lagi menunggu pertemuan fisik.
Keberadaan media sosial dapat mempertemukan orang yang bahkan tidak saling mengenal. Dapat pula untuk membentuk komunitas baru, memproduksi opini, dan menggerakkan emosi publik dengan cepat. Dari sinilah lahir apa yang disebut Lia sebagai masyarakat maya.
"Kita sekarang terhubung dalam dunia digital, hidup dalam masyarakat maya. Maka kita harus melek digital," ujar penulis 'Transformasi Wajah Demokrasi di Era Digitalisasi (2025)'.
Kemudian, Lia mengingatkan dua potensi ekstrem yang sama-sama berbahaya. Pertama, mereka yang tidak paham digital berisiko terpental alias mudah tertipu informasi, mudah dimanipulasi, dan tertinggal dari perubahan.
Kedua, mereka yang terlalu larut berisiko terjebak yaitu kehilangan kendali, larut dalam konflik, dan menjadikan media sosial sebagai ruang pelampiasan emosi.
"Kita jangan sampai terpental karena tidak tahu digital. Tapi kita juga jangan sampai terjebak dalam digital," imbaunya.
Ini membuat Lia mendorong publik untuk menarik nilai kebaikan ke ruang digital. Ia menekankan pentingnya menjadi netizen positif, yakni aktif menyebarkan informasi yang benar, menjaga bahasa, menghormati orang lain, dan menahan diri dari perilaku yang merusak.
Ukuran kemajuan digital bagi Lia bukan hanya soal teknologi, melainkan soal etika komunikasi. Apakah media sosial membuat masyarakat makin saling memahami, atau justru makin mudah saling menuduh. Apakah ruang digital menjadi ladang pengetahuan, atau hanya arena pertengkaran yang memperlebar jarak.
"Kebaikan itu bisa ditarik ke dunia digital. Sederhana saja, jangan menyebarkan yang belum pasti, jangan membangun opini dengan kebencian, dan jangan menjadikan media sosial sebagai tempat menjatuhkan orang," lanjutnya.
Penulis buku 'Membingkai Pendidikan Bangsa (2022)' menegaskan, masa depan budaya publik sangat ditentukan oleh perilaku warganya di ruang digital. Teknologi akan terus berkembang, tetapi yang menentukan kualitasnya adalah manusia yang menggunakannya.
"Media sosial bisa menjadi ladang kebaikan kalau kita isi dengan kebaikan. Kalau tidak, ia bisa menjadi mesin yang merusak budaya kita sendiri," tutup penulis 'Serangan Amerika–Israel ke Iran: Dalih Keamanan, Bayang-Bayang Energi, dan Perebutan Mineral Strategis (2026)'. ***
Editor: YAN
Baca juga: Jika Tak Bermanfaat bagi Orang Lain itu Bukan Kehidupan Manusia



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?