![]() |
| Anggota DPD RI, Lia Istifhama mengingatkan kepada sesama pentingnya mengedepankan akhlak yang baik daripada berlomba menunjukkan kemapanan harta./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama menyebut satu hal penting yang justru dapat membuat banyak orang terkesan, yaitu akhlak.
Senator Lia Istifhama menegaskan, banyaknya harta bukan jaminan seseorang akan dihormati atau dicintai orang lain. Justru, yang paling membekas di hati orang lain adalah wajah yang ramah dan budi pekerti yang baik.
Pesan ini disampaikan Lia saat bekerja di Kantor DPD RI Jatim, Surabaya pada Kamis (5/3).
Ia mengatakan, tidak semua orang memiliki kemampuan membantu sesama dengan materi. Namun, semua orang tetap bisa menghadirkan kebaikan melalui sikap yang santun, empati, dan penghormatan kepada orang lain.
"Tidak semua orang bisa menolong dengan harta. Tapi setiap orang bisa menolong lewat sikap yang baik, lewat keramahan, lewat cara memperlakukan orang lain dengan hormat," tutur Lia.
Ia lalu mengutip hadis dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya kalian tidak akan mampu mencukupi manusia dengan harta-harta kalian, tetapi hendaklah mencukupi mereka dengan wajah yang bersahabat dan perangai yang baik." Hadis ini diriwayatkan Imam Abu Ya’la dan dinyatakan sahih oleh Imam Hakim.
Bagi Ning Lia--sapaannya, pesan Nabi sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Di tengah masyarakat yang kerap mengukur keberhasilan dari materi, banyak orang justru lupa bahwa akhlak adalah kekuatan sosial yang paling bertahan lama. Harta bisa habis, jabatan bisa berganti, tetapi perangai yang baik akan selalu dikenang.
"Orang tidak selalu terpesona dengan hartamu yang banyak, melainkan dengan budi pekertimu yang baik," imbuhnya.
Keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ini menambahkan, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang sebenarnya tidak sedang membutuhkan bantuan besar. Yang mereka perlukan sering kali hanyalah sapaan hangat, wajah yang bersahabat, serta kesediaan untuk mendengar tanpa merendahkan.
Momen positif seperti ini juga selaras dengan Ramadan, bulan suci yang dapat menjadi momentum memperbanyak ibadah ritual sekaligus memperhalus akhlak dalam pergaulan sosial.
Menurutnya, puasa semestinya melatih seseorang untuk lebih sabar, lebih lembut, dan tidak mudah menyakiti orang lain lewat ucapan maupun sikap.
"Jangan sampai ibadah kita rajin, tapi lisan kita kasar. Jangan sampai puasa kita penuh, tapi akhlak kita kosong. Justru Ramadan harus membuat kita lebih ramah, lebih tenang, dan lebih berempati," tegasnya.
Lia juga mengajak masyarakat menempatkan akhlak sebagai identitas utama, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di ruang publik. Sebab, kebaikan paling mudah dilakukan siapa pun adalah menghadirkan kenyamanan bagi orang lain lewat sikap yang baik.
"Kalau belum bisa memberi banyak, setidaknya jangan menyakiti. Mulailah dari wajah ramah dan perangai yang baik," pungkas Lia. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?