Banner Iklan

Senator Lia Istifhama Ingatkan Grahadi Milik Bersama, Ajak Masyarakat Jaga Cagar Budaya Lewat Dialog

JSN Admin 2
27 Juni 2026 | 16.30 WIB Last Updated 2026-06-27T09:31:36Z
Anggota DPD RI, Lia Istifhama mengingatkan masyarakat bahwa Grahadi milik bersama dan tekankan pentingnya dialog dalam menyampaikan aspirasi, bukan dengan kerusuhan./dok.istimewa

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Lia Istifhama mengingatkan kepada masyarakat khususnya Surabaya dan Jawa Timur bahwa Gedung Negara Grahadi di Surabaya adalah milik bersama.

Senator Lia Istifhama juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan dialog dan menjaga semangat guyub rukun, alih-alih melakukan kekisruhan hingga merusak fasilitas umum.

Pesan ini disampaikan Lia saat menanggapi aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, yang berujung ricuh hingga menyebabkan kerusakan sejumlah fasilitas umum.

Senator yang akrab disapa Ning Lia ini menyampaikan keprihatinan atas munculnya tindakan anarkis dalam penyampaian aspirasi. Menurutnya, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak konstitusional yang harus dihormati, namun juga perlu disertai tanggung jawab bersama dalam menjaga ketertiban dan fasilitas publik.

"Saya sangat mendukung masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsa. Namun, saya sangat menyayangkan jika aksi tersebut harus dibarengi tindakan anarkisme, apalagi hingga merusak fasilitas umum," ungkap Lia, Sabtu (27/6).

Menurut Lia, penyampaian aspirasi tetap dapat dilakukan dengan cara yang damai dan bermartabat tanpa harus menimbulkan kerusakan.

"Mari kita tunjukkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang cerdas dan beradab. Aspirasi tetap bisa tersampaikan dengan elegan tanpa harus merusak. Semangat guyub rukun harus tetap menjadi ruh kita dalam berbangsa," imbaunya.

Lia juga menyoroti kerusakan yang terjadi di sekitar Gedung Negara Grahadi. Menurutnya, Grahadi bukan sekadar pusat aktivitas pemerintahan, tetapi juga merupakan bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi dan wajib dijaga bersama.

Ia menegaskan, menjaga bangunan bersejarah merupakan salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa.

"Dunia menaruh perhatian besar pada negara yang mampu menjaga warisan sejarahnya. Jika kita ingin Indonesia menjadi pusat wisata dunia, langkah kecilnya adalah dengan menghargai dan merawat aset-aset sejarah milik negara seperti Grahadi ini," lanjutnya.

Putri KH Maskur Hasyim ini juga mengingatkan masyarakat terhadap peristiwa kebakaran yang pernah terjadi di Grahadi beberapa waktu lalu. Menurutnya, kejadian tersebut seharusnya menjadi pelajaran agar seluruh pihak lebih waspada dalam menjaga aset negara.

Pesan lainnya dari Lia adalah pentingnya langkah preventif dari Aparat Penegak Hukum (APH) guna mengantisipasi potensi kericuhan dalam setiap aksi unjuk rasa.

"Kolaborasi antara kesadaran masyarakat untuk menjaga fasilitas umum dan kesigapan APH dalam melakukan antisipasi sejak dini adalah kunci. Mari kita jaga marwah rumah rakyat ini bersama-sama, karena ini adalah warisan negara yang harus kita titipkan dengan kondisi baik kepada generasi mendatang," tegasnya.

Adapun dari laporan sisi Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, ia menegaskan aparat tetap menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, namun tidak akan membiarkan tindakan yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

Sebelumnya, banyak kabar di media sosial mengenai kericuhan yang diduga dipicu setelah sejumlah oknum membakar sampah di depan pintu masuk Grahadi dan merusak pagar pembatas karena tidak ada perwakilan pemerintah yang menemui massa.

Setelah tiga kali imbauan pembubaran tidak terjadi, aparat gabungan TNI-Polri mengerahkan kendaraan taktis serta water cannon untuk membubarkan massa. Pada proses tersebut, aparat mengamankan belasan orang di sekitar lokasi.

Unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi digerakkan oleh aliansi masyarakat dan mahasiswa yang memprotes memburuknya kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah. Aksi ini bertajuk #IndonesiaSekarat dan menuntut penurunan harga bahan pokok dan BBM, penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pencabutan UU Polri dan UU TNI.

Para pengunjuk rasa ini tergabung dalam berbagai elemen salah satunya seperti Front Anti Kapitalisme yang membawa 11 tuntutan utama, di antaranya menyangkut kondisi nasional secara umum dan kondisi Surabaya secara khusus.

Walau penyampaian aspirasi masyarakat dan mahasiswa didukung Lia sebagai bagian dari praktik demokrasi, namun Lia menegaskan pentingnya mengusung semangat dialog dalam penyampaian aspirasi tanpa ada kerusuhan hingga merusak fasilitas umum. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Senator Lia Istifhama Ingatkan Grahadi Milik Bersama, Ajak Masyarakat Jaga Cagar Budaya Lewat Dialog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now