Foto: Dokumentasi dengan dewan penguji
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM — Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan keilmuan Manajemen Pendidikan Islam melalui lahirnya inovasi konseptual di bidang kepemimpinan pendidikan Islam. Dalam Ujian Promosi Doktor yang diselenggarakan di Gedung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Mohamad Kamil Salas berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Kepemimpinan Kiai dalam Membangun Jiwa Entrepreneurship Santri di Pesantren Rakyat (Studi Kasus di Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung Malang)."
Menjawab Tantangan Pendidikan Islam Kontemporer
Penelitian ini berangkat dari realitas meningkatnya tantangan bonus demografi, disrupsi ekonomi global, perubahan dunia kerja, serta tingginya angka pengangguran pada usia produktif. Kondisi tersebut menuntut lembaga pendidikan Islam untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi keagamaan, tetapi juga mampu membangun karakter mandiri, produktif, kreatif, dan memiliki jiwa kewirausahaan.
Di sisi lain, berbagai penelitian mengenai kewirausahaan pesantren selama ini lebih banyak menitikberatkan pada pengembangan unit usaha atau aspek manajemen bisnis pesantren. Kajian mengenai bagaimana kepemimpinan kiai secara sistematis membentuk jiwa entrepreneurship santri melalui integrasi nilai-nilai spiritual, pendidikan karakter, pemberdayaan ekonomi, dan budaya pesantren masih relatif terbatas. Kesenjangan inilah yang menjadi titik tolak lahirnya penelitian ini.
Pesantren Rakyat sebagai Model Pemberdayaan Umat
Penelitian ini menegaskan bahwa Pesantren Rakyat tidak dapat dipahami semata sebagai lembaga pendidikan gratis bagi masyarakat kurang mampu. Lebih dari itu, Pesantren Rakyat merupakan model pendidikan Islam berbasis pemberdayaan umat (community empowerment-based Islamic education) yang mengintegrasikan fungsi pendidikan (tarbiyah), dakwah, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, dan pembangunan masyarakat dalam satu ekosistem pendidikan yang utuh.
Dalam model ini, aktivitas ekonomi bukan diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai media pendidikan yang menanamkan nilai kerja keras, tanggung jawab, disiplin, kreativitas, solidaritas sosial, serta kemandirian hidup. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami ilmu agama, tetapi juga melahirkan insan yang mampu menciptakan peluang usaha, memberdayakan masyarakat, dan menjaga keberlanjutan lembaga pendidikan Islam.
Kepemimpinan Kiai sebagai Arsitek Transformasi Sosial
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah bahwa kepemimpinan kiai di Pesantren Rakyat memiliki karakteristik yang berbeda dengan model kepemimpinan pendidikan pada umumnya.
Kiai tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pemimpin formal, pendidik, dan pembimbing spiritual, tetapi juga berperan sebagai arsitek transformasi sosial (social architect) yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kepemimpinan tersebut diwujudkan melalui keteladanan (uswah hasanah), pembiasaan, kedekatan emosional, pemberdayaan partisipatif, pendampingan personal, serta penguatan jejaring sosial dengan masyarakat, alumni, pemerintah, dan berbagai mitra strategis. Seluruh aktivitas kehidupan pesantren dijadikan sebagai life curriculum, yaitu kurikulum kehidupan yang memungkinkan santri belajar secara langsung melalui pengalaman nyata (learning by doing).
Entrepreneurship sebagai Pendidikan Karakter
Berbeda dengan paradigma kewirausahaan yang berorientasi pada keuntungan ekonomi, penelitian ini menemukan bahwa entrepreneurship dalam perspektif pesantren merupakan instrumen pendidikan karakter.
Jiwa entrepreneurship dibangun melalui internalisasi nilai amanah, kerja keras (itqan), kejujuran, tanggung jawab, kreativitas, inovasi, keberanian mengambil risiko, kepedulian sosial, dan etos kerja tinggi.
Karakter tersebut tidak dibentuk melalui pembelajaran teoritis semata, tetapi melalui pengalaman langsung, pembiasaan, keteladanan kiai, budaya pesantren, serta keterlibatan aktif santri dalam berbagai unit usaha produktif. Oleh karena itu, entrepreneurship dipahami sebagai bagian dari ibadah (ibadah muamalah) dan pengabdian kepada masyarakat (khairunnas anfa'uhum linnas), bukan sekadar aktivitas ekonomi.
Lahirnya Model Kepemimpinan Holistik-Transformatif (KHT)
- Spiritual-Integrative Values, yaitu kepemimpinan berbasis nilai-nilai tauhid, amanah, ihsan, dan keteladanan.
- Participatory Entrepreneurial Empowerment, yaitu pemberdayaan santri melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas produktif.
- Adaptive Entrepreneurial Character, yaitu pembentukan karakter entrepreneur yang adaptif, kreatif, inovatif, disiplin, dan bertanggung jawab.
- Economic Sustainability Pesantren, yaitu penguatan kemandirian ekonomi lembaga melalui unit-unit usaha produktif.
- Transformative Leadership, yaitu kepemimpinan yang mampu mentransformasikan keterbatasan menjadi kekuatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Model ini memperlihatkan bahwa keberhasilan kepemimpinan pendidikan Islam tidak cukup diukur dari keberhasilan membentuk perilaku religius santri, tetapi juga dari kemampuannya membangun sistem pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan sosial yang berkelanjutan.
Perspektif Islam: Membangun Kemandirian Umat
Secara filosofis, Model Kepemimpinan Holistik-Transformatif berpijak pada paradigma Islam tentang istiqlal al-ummah (kemandirian umat). Pendidikan Islam tidak hanya bertujuan membentuk pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu membangun kekuatan ekonomi, sosial, dan peradaban sebagai wujud pelaksanaan fungsi manusia sebagai khalifah fil ardh.
Dalam perspektif Maqashid al-Syari'ah, model ini memiliki relevansi yang kuat dengan tujuan-tujuan pokok syariat. Pada dimensi Hifz al-Din, kewirausahaan diarahkan menjadi bagian dari ibadah sehingga seluruh aktivitas ekonomi dijalankan berdasarkan prinsip halal, amanah, dan keberkahan.
Pada dimensi Hifz al-Mal, pendidikan kewirausahaan menjadi instrumen menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan harta secara bertanggung jawab untuk kemaslahatan bersama. Pada dimensi Hifz al-Nasl, model ini mempersiapkan generasi yang mandiri sehingga mampu membangun keluarga yang kuat secara ekonomi, moral, dan spiritual. Prinsip tersebut selaras dengan firman Allah SWT:
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya..." (QS. An-Nisa' [4]: 9).
Ayat tersebut mengandung pesan bahwa kelemahan generasi tidak hanya bermakna kelemahan fisik, tetapi juga kelemahan ekonomi, pendidikan, moral, dan agama. Oleh karena itu, membangun jiwa entrepreneurship santri merupakan bagian dari ikhtiar menciptakan generasi yang kuat dan berdaya.
Pada dimensi Hifz al-'Aql, pembelajaran kewirausahaan melatih santri berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Sedangkan pada dimensi Hifz al-Nafs, kemandirian ekonomi menjadi salah satu instrumen penting dalam mengurangi kemiskinan, ketergantungan, serta berbagai persoalan sosial yang mengancam kualitas kehidupan masyarakat.
Kemandirian Ekonomi sebagai Penguat Keimanan
"Hampir saja kefakiran membawa seseorang kepada kekufuran."
Meskipun kualitas sanad hadis tersebut diperselisihkan, substansi maknanya sejalan dengan banyak ajaran Islam yang menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi agar umat mampu menjaga agama, martabat, dan kehormatan hidupnya. Dalam konteks ini, pendidikan entrepreneurship di pesantren dipandang sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan kemaslahatan umat melalui penguatan iman, akhlak, dan kesejahteraan sosial.
Ketua Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., memberikan apresiasi atas lahirnya disertasi ini karena berhasil mengangkat Pesantren Rakyat sebagai objek kajian ilmiah yang memiliki kontribusi strategis bagi pengembangan Manajemen Pendidikan Islam.
Menurut beliau, selama ini perhatian penelitian pendidikan Islam relatif lebih banyak diarahkan kepada lembaga-lembaga pendidikan yang telah mapan, memiliki sumber daya yang kuat, serta memperoleh dukungan kelembagaan yang memadai. Sementara itu, masih banyak lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dari masyarakat akar rumput, melayani kelompok dhuafa dan masyarakat marginal, namun belum banyak menjadi perhatian dalam pengembangan teori maupun kebijakan pendidikan Islam.
Padahal, justru pada ruang-ruang pendidikan masyarakat inilah sering lahir praktik-praktik kepemimpinan, pemberdayaan, dan inovasi sosial yang mampu menjawab persoalan riil umat.
Pesantren Rakyat Al-Amin menjadi salah satu contoh bagaimana keterbatasan sumber daya tidak menjadi penghalang untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan memberdayakan. Melalui kepemimpinan kiai yang visioner dan transformatif, pesantren mampu membuka akses pendidikan bagi masyarakat yang selama ini berada di pinggiran sistem pendidikan, sekaligus membangun kemandirian ekonomi tanpa kehilangan identitas sebagai lembaga dakwah dan pendidikan Islam.
Disertasi ini sekaligus membuka ruang baru bagi pengembangan keilmuan Manajemen Pendidikan Islam. Pesantren Rakyat, pendidikan berbasis komunitas, kepemimpinan kiai dalam pemberdayaan masyarakat, kewirausahaan sosial pesantren, ketahanan ekonomi lembaga pendidikan Islam, filantropi Islam, pemberdayaan masyarakat marginal, serta pembangunan pendidikan berbasis Maqashid al-Syari'ah merupakan bidang-bidang strategis yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan melalui penelitian doktoral.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?