Foto: Dokumentasi bersama dewan penguji
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM — Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan keilmuan Manajemen Pendidikan Islam melalui lahirnya inovasi konseptual di bidang manajemen kurikulum pendidikan Islam. Dalam Ujian Promosi Doktor yang diselenggarakan di Gedung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Jumat (26) kemarin, Dr. Ahmad Mubarok, dosen Institut Agama Islam (IAI) Sunan Kalijogo Malang, berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Manajemen Kurikulum Integratif Sekolah Berbasis Pesantren Tahfidz Al-Qur'an (Studi Multikasus di SMA Unggulan Harapan Ummat Mojokerto dan MA IT Darul Fikri Sidoarjo)."
Menjawab Tantangan Pendidikan Islam Kontemporer
Perkembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia menunjukkan transformasi yang sangat pesat. Berbagai sekolah berbasis pesantren kini tidak hanya mengimplementasikan Kurikulum Nasional, tetapi juga mengembangkan kurikulum kepesantrenan, Tahfidz Al-Qur'an, bahasa asing, hingga kurikulum internasional seperti Cambridge maupun Al-Azhar Cairo sebagai upaya melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, religius, dan berdaya saing global.
Namun demikian, keberagaman kurikulum tersebut pada banyak lembaga masih berjalan secara parsial. Setiap kurikulum dikembangkan berdasarkan kebutuhan program masing-masing sehingga belum membentuk satu sistem manajemen kurikulum kelembagaan yang terpadu. Program Tahfidz Al-Qur'an yang seharusnya menjadi identitas utama sekolah berbasis pesantren sering kali masih diposisikan sebagai program pelengkap, belum menjadi pusat orientasi dalam keseluruhan pengelolaan pendidikan.
Berangkat dari realitas tersebut, penelitian ini berupaya menjawab kebutuhan akan model manajemen kurikulum yang tidak hanya mengintegrasikan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mengintegrasikan seluruh sistem sekolah dan pesantren secara kelembagaan sesuai karakteristik masing-masing lembaga.
Integrasi Kurikulum sebagai Sistem Kelembagaan
Penelitian menegaskan bahwa keberhasilan sekolah berbasis pesantren tidak cukup diukur dari banyaknya kurikulum yang diterapkan, tetapi ditentukan oleh kemampuan lembaga membangun sistem manajemen yang mampu menyatukan seluruh kurikulum dalam satu arah pendidikan yang utuh.
Melalui pendekatan kualitatif studi multikasus pada SMA Unggulan Harapan Ummat Mojokerto dan MA IT Darul Fikri Sidoarjo, penelitian menemukan bahwa integrasi kurikulum harus dibangun melalui kesatuan visi Qur'ani, perencanaan kolaboratif, pengorganisasian terpadu, implementasi pembelajaran integratif, monitoring berkelanjutan, dan evaluasi akademik-spiritual yang dilakukan secara sistematis antara sekolah dan karateristik pesantren yang terbangun dalam system kelembagaan dan budaya pesatren.
Lahirnya Tiga Model Konseptual
Penelitian ini menghasilkan tiga temuan konseptual yang memperkaya khazanah Manajemen Pendidikan Islam.
- Pertama, QURANIC (Quality Unified Regulation and Academic-Nurturing Integrated Curriculum) yang menjelaskan bahwa integrasi kurikulum dibangun melalui penyatuan visi Qur'ani, regulasi terpadu, implementasi kolaboratif, serta evaluasi akademik dan spiritual secara berkelanjutan.
- Kedua, INTEGRATE (Integrated Networking, Theology, Education Governance, Reinforcement, and Tahfidz Education System) yang menegaskan bahwa keberhasilan integrasi sekolah dan pesantren ditentukan oleh sinergi jejaring kelembagaan, fondasi teologis, tata kelola pendidikan, budaya Qur'ani, dan sistem pendidikan Tahfidz yang terintegrasi dalam seluruh aktivitas pendidikan.
- Ketiga, TAHFIDZ (Transformative Academic, Holistic, Faith, Integrity, Discipline, and Zikir-Oriented Development) yang menggambarkan bahwa implementasi kurikulum integratif mampu menghasilkan transformasi akademik, spiritual, sosial, dan moral peserta didik melalui pembentukan karakter Qur'ani, kedisiplinan, integritas, tanggung jawab, kepemimpinan, dan budaya belajar yang kuat.
Lahirnya Q-TISS Model
Sintesis seluruh temuan penelitian kemudian melahirkan Q-TISS Model (Quranic Tahfidz Integrated System School-Pesantren) sebagai model manajemen kurikulum integratif berbasis Tahfidz Al-Qur'an.
Model ini mengintegrasikan lima dimensi utama, yaitu integrasi nilai-nilai Qur'ani, integrasi sistem sekolah dan pesantren, penguatan budaya Tahfidz, pembelajaran holistik integratif, serta transformasi spiritual dan akademik peserta didik.
Melalui model ini, Tahfidz Al-Qur'an tidak lagi dipahami sebagai program tambahan, tetapi menjadi core curriculum yang menjadi fondasi seluruh kebijakan, budaya organisasi, proses pembelajaran, dan pengembangan karakter peserta didik.
Perspektif Islam: Al-Qur'an sebagai Fondasi Manajemen Pendidikan
Secara filosofis, penelitian ini memperkuat paradigma bahwa Al-Qur'an tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi menjadi landasan dalam seluruh proses manajemen pendidikan.
Dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam, kurikulum dipandang sebagai instrumen pembentukan insan kamil yang mengintegrasikan dimensi keilmuan, spiritualitas, akhlak, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, pengelolaan kurikulum harus dibangun di atas nilai-nilai wahyu sehingga seluruh aktivitas pendidikan menjadi bagian dari ibadah dan proses membangun peradaban.
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103).
Ayat tersebut menjadi landasan penting bahwa integrasi merupakan prinsip utama dalam membangun sistem pendidikan Islam sehingga seluruh komponen pendidikan berjalan dalam satu visi, satu tujuan, dan satu sistem yang saling menguatkan.
Kontribusi bagi Pengembangan Manajemen Pendidikan Islam
Ketua Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., memberikan apresiasi atas lahirnya penelitian ini. Menurut beliau, disertasi tersebut berhasil menjawab kebutuhan pengembangan sekolah berbasis pesantren yang saat ini berkembang sangat pesat di Indonesia.
Selama ini, kajian integrasi kurikulum lebih banyak berhenti pada aspek pedagogis dalam proses pembelajaran. Padahal, tantangan yang dihadapi sekolah berbasis pesantren jauh lebih kompleks karena harus mengelola berbagai kurikulum dalam satu sistem kelembagaan. Oleh sebab itu, lahirnya Q-TISS Model menjadi kontribusi penting bagi pengembangan Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam, sekaligus menawarkan paradigma baru Quranic Transformational Curriculum Management, yaitu manajemen kurikulum yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai pusat integrasi seluruh sistem pendidikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?