Banner Iklan

Hampir 50 Tahun Istikamah, Muslimat NU Belung Rawat Tradisi Santunan Yatim Piatu dan Dhuafa

JSN Admin 2
25 Juni 2026 | 22.44 WIB Last Updated 2026-06-25T15:44:38Z
Pengurus ranting muslimat dari masa ke masa: Dra.Hj.Raudhatul Jannah (kiri), Hj.Lilik Rohana, dan Hj.Umi Zahriah (kedua dari kanan) dalam acara Santunan Yatim Piatu & Dhuafa 10 Muharram 1448 H (25/6)./dok.istimewa


MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Semangat kepedulian sosial yang diwariskan lintas generasi kembali terpatri dalam kegiatan santunan anak yatim dan dhuafa yang diselenggarakan Pimpinan Ranting (PR) Muslimat NU Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Kamis (25/6) malam.

Mengusung tema 'Merajut Kepedulian, Menebar Kebaikan dalam Menggapai Ridha Allah', kegiatan yang berlangsung di Pendopo Balai Desa Belung tersebut dihadiri ratusan jamaah Muslimat NU, jajaran pengurus NU dan badan otonom (Banom), pemerintah desa, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Lebih dari sekadar agenda tahunan, santunan yang diberikan kepada 58 anak yatim dan 260 dhuafa itu menjadi manifestasi nyata dari ajaran ta'awun (tolong-menolong), takaful ijtima'i (solidaritas sosial), dan semangat pengabdian yang selama ini menjadi karakter gerakan Nahdlatul Ulama.

Ketua PR Muslimat NU Desa Belung, Dra. Hj. Raudhatul Jannah, menegaskan bahwa kegiatan tersebut dilandasi semangat Tahun Baru Islam dan keutamaan 10 Muharam sebagai momentum memperkuat kesalehan sosial di tengah masyarakat.

"Kegiatan santunan ini dilandasi semangat Tahun Baru Islam dan keutamaan 10 Muharam sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial. Tahun ini santunan diberikan kepada 58 anak yatim dan 260 dhuafa dengan dukungan para aghniya, warga NU, serta masyarakat Desa Belung. Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat tinggi," ujar Raudhatul Jannah.

Menurutnya, santunan bukan sekadar aktivitas filantropi yang berorientasi pada bantuan material, melainkan ikhtiar membangun peradaban sosial yang berlandaskan kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab bersama terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian.

Ia berharap semakin banyak masyarakat yang diberikan kelapangan rezeki untuk berbagi sehingga keberadaan kaum dhuafa semakin berkurang dan kesejahteraan sosial masyarakat semakin meningkat.

"Kami berharap seluruh panitia senantiasa diberikan kekuatan lahir dan batin, ghirah perjuangan yang kokoh, serta keikhlasan dalam mengabdi demi meraih ridha Allah SWT dan keberkahan para muassis Nahdlatul Ulama," tegasnya.

Keistimewaan kegiatan ini tidak hanya terletak pada jumlah penerima manfaat, tetapi juga pada konsistensi pelaksanaannya yang telah berlangsung hampir setengah abad. Mantan Ketua PR Muslimat NU Desa Belung periode 1990–2014, Hj. Umi Zahriyah, menuturkan bahwa tradisi santunan tersebut telah dimulai sejak sekitar tahun 1978 pada masa kepemimpinan almarhumah Hj. Rodhiyah.

Tongkat estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Hj. Maryam, Hj. Umi Zahriyah, Hj. Lilik Roihana, hingga kini berada di bawah kepemimpinan Dra. Hj. Raudhatul Jannah periode 2024–2029.

"Istiqamahnya kegiatan ini menunjukkan bahwa Muslimat NU tidak hanya mewariskan sebuah program kerja, tetapi juga mewariskan nilai pengabdian, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kemanusiaan yang terus hidup dari generasi ke generasi," ungkapnya.

Melalui tausiyahnya, Dr. Agus Ichwan Mahmudi turut mengajak masyarakat untuk memaknai perhatian kepada anak yatim sebagai bentuk penghormatan terhadap martabat manusia. Menurutnya, mengusap kepala anak yatim bukan sekadar simbol kasih sayang, melainkan wujud kehadiran sosial yang mampu menumbuhkan harapan dan rasa percaya diri bagi mereka yang kehilangan figur pelindung dalam hidupnya.

"Peradaban yang besar tidak diukur dari tingginya bangunan yang dimiliki, tetapi dari kemampuannya memuliakan kelompok yang lemah dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi generasi penerusnya," ujarnya.

Sementara itu, Rois Syuriah PRNU Belung, Ustaz Kasiali, menegaskan bahwa keberkahan 10 Muharam hendaknya menjadi energi spiritual untuk membangun optimisme sosial. Menurutnya, jalan paling mulia untuk mengangkat derajat kaum dhuafa dan anak yatim adalah melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan.

"Semoga dengan keberkahan 10 Muharam ini, kaum dhuafa memperoleh kemudahan hidup dan anak-anak yatim dapat mengangkat derajatnya melalui kesungguhan menuntut ilmu. Sebab ilmu adalah jalan kemuliaan yang mampu mengubah nasib seseorang sekaligus masa depan masyarakat," tuturnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Penjabat Kepala Desa Belung Erdie Fuadi, H. Mashudi, Slamet Suyono, Ustaz Abdul Muntolib, Hj. Lilik Roihana, Mahsusotur Rohmania selaku Ketua PR Fatayat NU Belung, Ustaz Imron Afandi dari PRNU Belung, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Keberhasilan penyelenggaraan santunan ini menjadi gambaran kuatnya sinergi antara PRNU Belung, Muslimat NU, Fatayat NU, Banom NU, pemerintah desa, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut membuktikan bahwa nilai gotong royong yang menjadi karakter bangsa masih hidup dan terus dirawat sebagai modal sosial dalam membangun kemaslahatan bersama.

Di tengah berbagai tantangan sosial yang terus berkembang, tradisi santunan yang telah bertahan sejak 1978 itu menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuannya menjaga kepedulian, merawat solidaritas, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. (Rof)

Kontributor LTNU Ranting Belung

Dokumentasi acara:





***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hampir 50 Tahun Istikamah, Muslimat NU Belung Rawat Tradisi Santunan Yatim Piatu dan Dhuafa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now