Banner Iklan

Hikam Hulwanullah Tegaskan Pentingnya Ruang Dialog Bagi Mahasiswa, Kampus Harus Jadi Arena Adu Gagasan

Anis Hidayatie
17 Juni 2026 | 07.48 WIB Last Updated 2026-06-17T00:48:28Z

 

Dosen Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya, Hikam Hulwanullah

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM — Kampus sebagai pusat lahirnya pemikiran kritis dan gagasan perubahan diharapkan tetap menjadi ruang dialog yang sehat, terbuka, dan beradab. Perbedaan pandangan yang muncul dalam dinamika akademik seharusnya menjadi bahan diskusi yang memperkaya wawasan, bukan justru memicu intimidasi, tekanan, maupun persekusi terhadap pihak yang berbeda pendapat.

Dalam tradisi akademik, kritik merupakan bagian penting dari proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, kritik yang disampaikan harus didasarkan pada argumentasi yang kuat, data yang valid, dan etika yang baik. Sebaliknya, tindakan intimidatif justru berpotensi merusak budaya akademik yang selama ini menjadi fondasi kehidupan kampus.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya, Hikam Hulwanullah, menegaskan bahwa forum diskusi perlu lebih sering dihadirkan dan diperkuat, baik oleh mahasiswa maupun pihak yang menjadi sasaran kritik. Menurutnya, ruang dialog merupakan kebutuhan akademik sekaligus kebutuhan masyarakat Indonesia secara umum.

“Ini kebutuhan akademik dan kebutuhan rakyat Indonesia pada umumnya karena kita mendapat forum untuk sharing dan bertukar pikiran. Harus konsisten dan terus menjadi jembatan bagi mahasiswa menyampaikan pendapat secara elegan dan profesional,” ujarnya.

Ia menilai kampus memiliki peran strategis dalam membentuk budaya diskusi yang sehat. Melalui forum-forum akademik, mahasiswa dapat menyampaikan kritik, aspirasi, maupun gagasan secara terbuka tanpa harus mengedepankan tekanan atau tindakan yang berpotensi menimbulkan konflik.

Menurut Hikam, mahasiswa sebagai agen perubahan harus mampu menangkap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Persoalan-persoalan tersebut kemudian diolah menjadi pemikiran yang solutif, argumentatif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Kampus harus menjadi ruang bagi lahirnya solusi atas berbagai persoalan bangsa. Mahasiswa tidak hanya menyuarakan kritik, tetapi juga menawarkan gagasan yang konstruktif dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga nama baik kampus merupakan tanggung jawab bersama seluruh civitas akademika. Budaya saling menghormati, menghargai perbedaan pendapat, dan mengedepankan dialog menjadi kunci terciptanya lingkungan akademik yang produktif.

Dalam konteks tersebut, perbedaan pandangan tidak semestinya berujung pada konflik. Justru keberagaman perspektif harus dipandang sebagai kekayaan intelektual yang dapat memperkuat kualitas diskusi dan menghasilkan solusi yang lebih komprehensif.

Semangat kebebasan berpikir yang menjadi ruh dunia akademik, lanjut Hikam, harus terus dirawat melalui tradisi dialog yang sehat. Dengan demikian, kampus dapat tetap menjalankan fungsinya sebagai arena adu gagasan, tempat lahirnya pemikiran-pemikiran kritis, sekaligus ruang pembelajaran demokrasi yang menjunjung tinggi etika dan penghormatan terhadap perbedaan.

Melalui penguatan budaya diskusi dan argumentasi yang berkualitas, kampus diharapkan mampu menjadi contoh bagi masyarakat luas bahwa perbedaan pendapat bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk menemukan solusi terbaik bagi kemajuan bersama.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hikam Hulwanullah Tegaskan Pentingnya Ruang Dialog Bagi Mahasiswa, Kampus Harus Jadi Arena Adu Gagasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now