Puasa ke-20: Puasa dalam Bingkai Abe Rebbe — Sedekah dan Berbagi di Tengah Krisis Ekonomi
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Salah satu pembaca setia Kolom Ramadhan, Juhri “Irama”, Pontianak Kalimantan Barat, mengusulkan agar pembahasan puasa juga dilihat dalam bingkai “abe rebbe”, sebuah ungkapan yang dalam tradisi masyarakat (Madura) berarti semangat bersedekah dan berbagi kepada sesama. Usulan ini sangat menarik, dan memang sesuai dengan tema pembahasan Puasa ke-20, karena sebenarnya puasa tidak hanya mengajarkan menahan lapar dan haus, tetapi juga menumbuhkan kepekaan sosial terhadap orang lain yang hidup dalam kesulitan.
Hari ini banyak masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan dan kesehatan meningkat, sementara penghasilan sebagian orang tidak selalu bertambah. Fenomena yang dikenal sebagai inflation membuat daya beli masyarakat kecil semakin tertekan. Ketika harga beras, minyak goreng, atau bahan pokok lainnya naik, kelompok yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat berpenghasilan rendah.
Di banyak kota, kita bisa melihat realitas ini dengan jelas. Ada pekerja harian yang harus mengatur penghasilan agar cukup untuk makan keluarga sampai akhir bulan. Ada pedagang kecil yang penghasilannya tidak menentu. Bahkan ada keluarga yang kadang harus mengurangi porsi makan agar kebutuhan anak-anak tetap terpenuhi. Bagi mereka, lapar bukan sekadar latihan spiritual seperti yang kita rasakan saat puasa, tetapi bisa menjadi bagian dari kenyataan hidup sehari-hari.
Dalam situasi seperti itu, puasa sebenarnya mengajarkan manusia untuk memahami realitas sosial tersebut. Ketika kita menahan lapar sepanjang hari, kita diingatkan bahwa ada banyak orang yang merasakan kondisi itu bukan karena pilihan ibadah, tetapi karena keterbatasan ekonomi. Dari sinilah lahir semangat abe rebbe, yaitu dorongan untuk berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan. Al-Qur’an memberikan penegasan yang sangat kuat tentang pentingnya berbagi kepada orang yang membutuhkan. Allah berfirman:
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan pada harta mereka ada hak bagi orang yang meminta dan orang yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19).
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam setiap harta yang kita miliki sebenarnya ada hak orang lain, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan. Puasa menjadi momen penting untuk mengingat kembali tanggung jawab sosial tersebut. Rasulullah Muhammad saw juga memberikan teladan luar biasa dalam hal berbagi. Dalam sebuah hadits disebutkan:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).
Makna hadits ini bukan hanya bahwa sedekah tidak membuat seseorang menjadi miskin, tetapi justru membuka pintu keberkahan dalam kehidupan. Dalam konteks masyarakat modern yang sering diliputi kecemasan ekonomi, pesan ini sangat relevan, berbagi bukanlah kerugian, melainkan cara memperkuat solidaritas sosial.
Yang menarik, sedekah dalam Islam tidak selalu harus dalam jumlah besar. Bahkan sesuatu yang sangat sederhana pun bisa menjadi sedekah yang bernilai besar jika dilakukan dengan niat yang tulus. Dalam tradisi masyarakat kita dahulu, sering kali seseorang mengantarkan sepiring nasi lengkap dengan lauk sederhana kepada tetangga kanan dan kiri, terutama pada bulan Ramadhan atau ketika memasak makanan yang agak lebih banyak dari biasanya. Sepiring nasi mungkin terlihat kecil nilainya, tetapi di dalamnya terdapat pesan kemanusiaan yang sangat dalam, bahwa tidak seorang pun boleh merasa sendirian dalam kehidupan sosial.
Tradisi seperti ini sebenarnya sangat indah dan pernah hidup kuat di banyak kampung dan desa. Sayangnya, dalam masyarakat modern yang semakin bergerak menuju pola hidup individualistik dan liberal, kebiasaan berbagi sederhana seperti itu mulai jarang dilakukan. Orang sering hidup berdampingan dengan tetangganya, tetapi tidak saling mengenal dengan baik.
Karena itu, semangat abe rebbe perlu dihidupkan kembali. Tidak harus dengan sedekah besar atau program yang rumit. Kadang cukup dengan tindakan sederhana, mengantarkan sepiring nasi kepada tetangga yang mungkin sedang kesulitan, membagikan makanan berbuka kepada orang yang bekerja di jalanan, atau membantu keluarga yang membutuhkan dengan cara yang kita mampu.
Tindakan kecil seperti itu memiliki dampak sosial yang besar. Ia memperkuat kohesi sosial, mempererat hubungan antarwarga, dan menghidupkan kembali rasa kebersamaan dalam masyarakat. Orang tidak lagi merasa hidup sendiri, tetapi merasa menjadi bagian dari komunitas yang saling peduli.
Dalam konteks krisis ekonomi global yang kadang datang silih berganti, seperti yang pernah terjadi pada peristiwa 2008 Global Financial Crisis atau perlambatan ekonomi akibat COVID-19 Recession, nilai berbagi menjadi semakin penting. Ketika ekonomi melemah, yang paling rentan terkena dampaknya adalah kelompok masyarakat kecil. Karena itu solidaritas sosial menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan kehidupan bersama.
Puasa seharusnya membuat hati manusia menjadi lebih peka. Setelah merasakan lapar sepanjang hari, seseorang tidak hanya memikirkan bagaimana ia berbuka dengan makanan yang lezat, tetapi juga bertanya: siapa di sekitar kita yang mungkin belum tentu bisa makan dengan layak malam ini?
Di situlah puasa menemukan makna sosialnya. Ia tidak berhenti pada ibadah pribadi, tetapi berkembang menjadi gerakan empati dan solidaritas. Melalui semangat abe rebbe—sedekah dan berbagi, puasa mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya datang dari apa yang kita miliki, tetapi juga dari apa yang bisa kita bagikan kepada orang lain. Bahkan sepiring nasi yang dibagi kepada tetangga dapat menjadi jembatan kemanusiaan yang memperkuat persaudaraan dalam masyarakat.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?