![]() |
| Anggota DPD RI, Lia Istifhama mengajak masyarakat setanah air untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat selama Ramadan./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbanyak aktivitas yang bermanfaat. Sekaligus, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat alias mubazir.
Senator Lia Istifhama yang tetap bekerja di kantornya--Surabaya--pada Kamis (5/3) kemarin, memberi pesan terbuka kepada umat Muslim setanah air untuk menjadikan Ramadan 2026 sebagai momentum membersihkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
Menurutnya, kualitas keislaman seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kemampuannya menahan diri dari perbuatan, ucapan, dan kebiasaan yang sia-sia.
Pesan itu disampaikan Lia dengan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah, serta dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani.
Bagi putri Kyai Maskur Hasyim, hadis tersebut sangat relevan dengan suasana Ramadan. Sebab, bulan suci bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perdebatan yang tidak perlu, obrolan yang tidak produktif, hingga kebiasaan yang menghabiskan waktu tanpa nilai ibadah maupun manfaat sosial.
"Ramadan itu sekolah pengendalian diri. Jadi bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri agar tidak larut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat," ungkap Lia.
Menurut senator yang akrab disapa Ning Lia ini, pada era digital tantangan meninggalkan hal sia-sia justru makin besar. Arus media sosial, konten hiburan tanpa batas, hingga kebiasaan berkomentar berlebihan di ruang publik sering membuat orang lalai dari esensi Ramadan.
Maka dari itu, ia mengingatkan agar masyarakat lebih bijak menggunakan waktu, tenaga, dan perhatian selama Ramadan.
Lia menilai, meninggalkan hal yang tidak bermanfaat juga berarti mengalihkan energi pada aktivitas yang bernilai. Misalnya memperbanyak membaca Al-Qur’an, membantu sesama, menjaga silaturahmi, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan produktivitas kerja dan pengabdian sosial.
"Kalau seseorang mampu meninggalkan yang sia-sia, maka hidupnya akan lebih tertata. Waktunya terjaga, lisannya terjaga, hatinya juga lebih tenang. Itulah salah satu tanda baiknya Islam dalam diri seseorang," tuturnya.
Ia berharap Ramadan tidak berlalu hanya sebagai rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi momentum perubahan karakter. Menurut Lia, ukuran keberhasilan puasa bukan hanya selesai menjalani 30 hari, melainkan sejauh mana seseorang menjadi pribadi yang lebih selektif dalam berkata, bertindak, dan menggunakan waktunya.
"Jangan sampai Ramadan hanya ramai secara suasana, tetapi kosong secara makna. Justru di bulan ini kita harus belajar meninggalkan yang tidak bermanfaat agar setelah Ramadan, hidup kita menjadi lebih berkualitas," tegas politisi 42 tahun ini. ***
Editor: YAN
Baca juga: Puasa Momentum Menata 3 Hal Ini



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?