Banner Iklan

Separuh Ramadan Berjalan: Senator Lia Istifhama Ingatkan Pentingnya Menata Sehat, Waktu, dan Akhlak

Admin JSN
06 Maret 2026 | 14.05 WIB Last Updated 2026-03-06T07:05:34Z
Senator DPD RI Lia Istifhama mengungkap catatan apa saja yang penting diketahui dan dijalani umat Muslim selama Ramadan 2026 yang telah berjalan separuh./dok. Istimewa

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Ramadan 2026 sudah berada di pertengahan bulan. Lebih dari 15 hari terlalui, dan menjadi momen penting bagi umat Muslim untuk menata tiga hal penting dalam kehidupan.

Kesehatan, waktu, dan akhlak. Inilah yang diingatkan oleh Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama.

Ning Lia, begitu ia sering disapa, mengajak masyarakat berhenti sekadar menghitung hari, melainkan mulai menghitung perubahan.

Menurut dia, pertengahan Ramadan adalah titik evaluasi. Apakah puasa sudah membentuk disiplin dalam menjaga tubuh, memperhalus akhlak, serta membuat seseorang lebih bermanfaat bagi orang lain dengan waktu yang dijalani.

Pesan ini disampaikan Senator Lia Istifhama ketika ditemui di kantornya, Kamis (5/3) kemarin.

Keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa ini menyampaikan serangkaian catatan Ramadan yang merujuk pesan-pesan Nabi Muhammad SAW.

Ia menilai, Ramadan adalah sekolah pengendalian diri yang tidak boleh berhenti pada ritual. Justru di pertengahan bulan suci, orang perlu berani mengukur dirinya. Apakah lisannya lebih terjaga, emosinya lebih stabil, dan waktunya lebih tertib dibanding sebelum Ramadan.

"Kadang kita merasa sudah banyak ibadah, tapi lupa menilai apakah kita sudah meninggalkan hal yang sia-sia. Memasuki pertengahan Ramadan, ini saatnya menata ulang," ungkap Lia.

Catatan pertama, Lia menekankan pentingnya meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ia mengutip sabda Nabi, "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat."

Menurut Lia, pesan itu makin relevan di era digital, ketika banyak orang terjebak pada konten yang menghabiskan waktu, perdebatan yang tak produktif, hingga kebiasaan yang menguras energi tanpa nilai ibadah maupun manfaat sosial.

"Ramadan itu bukan hanya menahan makan dan minum. Tapi juga menahan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat, yang membuat hati kotor dan waktu habis tanpa nilai," imbuhnya.

Catatan selanjutnya, Lia mengingatkan tentang dua nikmat yang kerap dianggap biasa yaitu kesehatan dan waktu luang.

Ia mengutip hadis riwayat Bukhari, “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang."

Menurut Lia, banyak orang baru menghargai sehat setelah jatuh sakit, dan baru menghargai waktu setelah kesempatan berlalu. Dengan memasuki pertengahan Ramadan, orang semestinya makin sadar bahwa sehat adalah modal untuk memperbanyak amal, sementara waktu luang adalah ruang untuk memperbaiki kualitas diri.

"Sehat itu kesempatan besar untuk ibadah dan kerja yang bermanfaat. Waktu luang juga bukan ruang untuk sia-sia, tapi peluang memperbaiki diri," lanjutnya.

Lia juga menekankan bahwa pembenahan diri tidak cukup hanya bersifat personal. Ia mengingatkan dimensi sosial dalam agama yakni, bagaimana seseorang hadir bagi orang lain.

Ia lalu mengutip hadis tentang manusia yang tidak selalu bisa mencukupi sesama dengan harta, tetapi bisa mencukupi dengan wajah yang bersahabat dan perangai yang baik.

"Tidak semua orang bisa membantu dengan materi. Tapi semua orang bisa membantu dengan sikap. Ramah itu sedekah. Akhlak baik itu yang membuat orang merasa dihargai," jelasnya.

Bagi Lia, pertengahan Ramadan dapat menjadi momen untuk menguji apakah ibadah sudah melahirkan kelembutan yaitu lebih sabar, lebih empatik, dan lebih bijak dalam memperlakukan orang lain--baik di rumah, di tempat kerja, maupun di ruang digital.

Ia juga mengingatkan, orang tidak selalu terkesan pada banyaknya harta, melainkan pada budi pekerti yang baik. Yaitu sikap yang menenangkan, tidak menghakimi, dan tidak merendahkan.

Catatan Ramadan Lia berikutnya adalah peringatan yang lebih tajam, yaitu bahaya 'bangkrut' di akhirat.

Ia mengutip hadis riwayat Muslim tentang 'orang bangkrut' yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi pahalanya habis karena di dunia pernah menghina orang lain, menuduh tanpa bukti, merampas hak, menyakiti, bahkan melakukan kekerasan.

"Yang ditakutkan itu bukan hanya bangkrut harta. Tapi bangkrut di akhirat. Pahalanya banyak, tapi habis karena menyakiti sesama," tuturnya.

Menurut Lia, pesan ini sangat relevan ketika memasuki pertengahan Ramadan, saat sebagian orang mulai longgar menjaga diri dengan mudah terpancing emosi, mudah melontarkan komentar tajam, atau merasa paling benar.

Secara hakikat, hak manusia bukan perkara kecil bagi Lia. Inilah mengapa, fitnah, ujaran kebencian, tuduhan tanpa data, hingga kebiasaan merendahkan orang lain secara langsung maupun di media sosial dapat menjadi sebab runtuhnya pahala yang dikumpulkan.

"Jangan sampai ibadah kita ramai, tapi lisan dan sikap justru melukai. Ramadan harus membuat kita lebih tertib, lebih halus akhlaknya, dan lebih takut menyakiti," tegasnya.

Peraih 2.739.123 suara pada pemilu legislatif 2024 ini mengajak masyarakat menjadikan pertengahan Ramadan sebagai momentum evaluasi dan perbaikan.

Termasuk pentingnya meminta maaf jika pernah melukai, memperbaiki hubungan yang renggang, dan menata ulang orientasi hidup agar lebih bermanfaat.

"Selama masih ada waktu, bereskan urusan dengan sesama. Jangan menunggu hisab. Karena yang paling mahal di akhirat adalah pahala yang habis untuk membayar kezaliman kita sendiri," tandasnya.

Adapun Ramadan 1447 Hijriah telah berlangsung sejak 19 Februari 2026 berdasarkan hasil sidang isbat Kementerian Agama RI. Artinya, sudah dua pekan puasa Ramadan berjalan dan menyisakan kurang dari dua pekan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

Dengan sisa tersebut, Senator Lia pun memberi pesan kepada masyarakat untuk memanfaatkan waktu selama Ramadan untuk berbuat baik secara jasmani dan rohani, serta secara personal dan sosial, agar bulan puasa tak berlalu secara sia-sia. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Separuh Ramadan Berjalan: Senator Lia Istifhama Ingatkan Pentingnya Menata Sehat, Waktu, dan Akhlak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now