Banner Iklan

Zajuli, Anak Pesantren yang Betah Kuliah di Universitas Ma Chung

Anis Hidayatie
08 Agustus 2026 • 04.30 WIB

 


Zajuli Anak Pesantren yang Betah Kuliah di Universitas Ma Chung (tengah) bersama diapit dosen Lucky Tirma Irawan dan Ayyub Anshari Sukmaraga.

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Ma Chung, selama ini kerap dipersepsikan sebagai kampus dengan identitas etnis atau agama tertentu. Kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Kampus ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dari beragam suku, agama, budaya, hingga latar belakang pendidikan dalam suasana yang inklusif.

Salah satu kisah menarik dituturkan Zajuli, mahasiswa semester VII Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), alumni Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Kota Malang. Ia mengaku memilih Universitas Ma Chung atas inisiatifnya sendiri. Setelah berkeliling mencari kampus yang sesuai dengan minatnya di bidang desain.

"Saya cari sendiri kampusnya karena ingin kuliah DKV. Fasilitasnya lengkap untuk menggambar, fotografi, videografi, dan dosen-dosennya sangat ramah. Kalau ada kekurangan, mereka memberi motivasi dan arahan," ungkap Zajuli saat wawancara didampingi 2 dosen Lucky dan Ayyub di pinggir kolam renang Student Center 4/8/2026.


Sebelum masuk kuliah Zajuli sempat mendengar berbagai anggapan mengenai Universitas Ma Chung. Namun setelah menjadi mahasiswa, semua persepsi tersebut tidak terbukti.

Ia mengaku justru mendapatkan lingkungan belajar yang nyaman serta dukungan dari teman-teman maupun dosen.

"Awalnya saya juga kaget karena ada pelajaran Bahasa Mandarin. Ternyata teman-teman banyak membantu. Tidak semenakutkan seperti yang dibayangkan orang," katanya.

Sebagai lulusan pesantren, Zajuli juga tidak mengalami kesulitan beradaptasi. Kampus menyediakan mushalla sebagai fasilitas ibadah dan memberikan keleluasaan bagi mahasiswa muslim untuk menjalankan salat 5 waktu maupun salat Jumat.

"Untuk ibadah tidak ada masalah. Mushalla tersedia, jadi tidak mengganggu aktivitas kami sebagai mahasiswa muslim," ujarnya.

Saat ini Zajuli tengah menyusun skripsi berupa rancangan video dokumenter mengenai kesenian Bantengan, salah satu budaya khas Malang.

Sudah mengalami proses sampai betah di kampus sejuk ini, Ia pun tak ragu mengajak calon mahasiswa agar memilih Universitas Ma Chung.

"Jangan takut. Belajar dulu, nikmati prosesnya, saya sungguh sangat betah kuliah di sini," ujarnya.

Dosen Ayub Ansori Submarga yang ikut menemani Zajuli menyampaikan pandangannya soal keramahan yang bikin betah di Universitas Ma Chung. Dosen berdarah arab ini menyebut sebenarnya keramahan lahir dari budaya akademik yang menempatkan mahasiswa sebagai mitra belajar.

"Saya menganggap mahasiswa juga sebagai teman. Minimal ketika bertemu ya saling menyapa dan tersenyum. Hal sederhana seperti itu ternyata membuat mereka merasa dekat," katanya.

Ayub mengaku tidak pernah secara khusus berusaha membangun citra tertentu. Namun hubungan yang cair antara dosen dan mahasiswa membuat proses pembelajaran menjadi lebih nyaman.

Menurutnya, pendekatan humanis menjadi salah satu kekuatan Universitas Ma Chung dalam membangun suasana akademik.

Ayyub juga menanggapi stigma yang selama ini melekat pada Universitas Ma Chung sebagai kampus khusus etnis Tionghoa atau kampus dengan identitas agama tertentu.

Ia menegaskan anggapan tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

"Karena nama Ma Chung dan sejarah pendirinya, masyarakat sering menganggap ini kampus Tionghoa atau kampus agama tertentu. Padahal itu tidak benar. Mahasiswa kami berasal dari berbagai latar belakang. Bahkan pernah ada lulusan terbaik yang berasal dari etnis Arab dan sangat mahir berbahasa Mandarin," jelasnya.

Senada dengan Ayyub dosen Lucky menyebut keberagama menjadi keniscayaan yang lebur di universitas Ma Chung.

" Kami bergaul tanpa sekat. Akrab dengan semua golongan dan etnis sebagai sesama manusia. Ini adalah budaya kami di Universitas Ma Chung," ucapnya.

Melalui Mata Kuliah Umum (MKU), mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terjun langsung ke berbagai komunitas lintas agama, suku, dan budaya untuk memahami keberagaman Indonesia.

"Kami mengajak mahasiswa masuk ke komunitas lintas golongan agar mereka memahami bahwa stigma-stigma yang berkembang di masyarakat sering kali tidak sesuai kenyataan. Mereka belajar langsung sehingga memiliki perspektif yang lebih luas," ujarnya disepakati senyum anggukan dan kata betul oleh dosen Ayyub dan mahasiswa Zajuli.

Zajuli diapit dosen Lucky dan Ayyub di depan gedung Student Center 

Keberadaan mahasiswa dari berbagai etnis, mulai Jawa, Arab, Tionghoa hingga daerah-daerah lain di Indonesia, menjadi potret nyata bahwa Universitas Ma Chung merupakan kampus nasional yang menjunjung tinggi nilai keberagaman.

Di tengah derasnya berbagai stereotip yang masih berkembang di masyarakat, kisah Jazuli dan budaya akademik yang dibangun para dosen menjadi bukti bahwa Universitas Ma Chung terus menghadirkan ruang pendidikan yang inklusif, ramah, dan bikin betah, mempersatukan keberagaman dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Ans


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Zajuli, Anak Pesantren yang Betah Kuliah di Universitas Ma Chung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?