Banner Iklan

Bertemu Ayyub Dosen Berwajah Arab di Universitas Ma Chung, Runtuhkan Sekat Identitas

Admin JSN
08 Agustus 2026 • 17.43 WIB
Dosen Universitas Ma Chung yang memiliki garis keturunan Arab, Ayyub Anshari Sukmaraga.

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: "Kalau masyarakat mendengar nama Ma Chung, yang terbayang sering kali kampus Tionghoa. Bahkan ada yang mengira kampus agama tertentu."

Kalimat itu meluncur tenang dari Ayyub Anshari Sukmaraga, seorang dosen Universitas Ma Chung yang memiliki garis keturunan Arab. Senyum ramahnya seolah menjadi jawaban paling lugas atas berbagai stereotip yang selama bertahun-tahun melekat pada kampus di kawasan Puncak Tidar, Kota Malang tersebut.

Dosen Lucky, Jazuli dan dosen Ayyub di pinggir kolam renang.

Di pinggir kolam renang kampus, ditemani rekan dosen etnis Tionghoa, Lucky, dan seorang mahasiswa asli Jawa, Zajuli, Ayyub menceritakan realitas keberagaman yang ia saksikan setiap hari. Di kampus ini, mahasiswa dari berbagai suku, agama, budaya, hingga lulusan pesantren, belajar bersama dalam satu ruang kelas tanpa sekat identitas.

"Stigma itu sebenarnya sudah lama tidak sesuai dengan kenyataan," ujar Ayyub menegaskan.

Universitas Ma Chung memang lahir dari gagasan para tokoh Tionghoa Indonesia yang ingin membangun pendidikan berkualitas. Namun, identitas pendiri tidak pernah menjadi batas bagi siapa yang boleh belajar maupun mengajar di kampus tersebut.

Kehadiran sosok Ayyub dengan wajah khas Timur Tengah dan nama Arab yang disandangnya kerap memberikan kejutan manis bagi mereka yang baru mengenalnya. Ia telah menjadi dosen tetap di Universitas Ma Chung sejak tahun 2013, membuktikan bahwa keberagaman di kampus ini bukan sekadar wacana.

"Saya sendiri malah sering dijadikan contoh bahwa persepsi masyarakat itu tidak selalu benar," katanya sambil tersenyum.

Ayyub mengisahkan, ketika pertama kali melamar, ia belum mengenal Universitas Ma Chung secara mendalam. Almarhum ayahnya yang juga seorang dosen sempat berharap dirinya mengikuti jejak mengajar di perguruan tinggi negeri. Namun, Ayyub memilih membangun jalan kariernya sendiri.

"Tahun 2013 saya mengikuti seleksi, diterima, dan ternyata sampai sekarang saya tetap nyaman mengajar di sini," ungkapnya. Sudah lebih dari satu dekade ia mengabdi, menjadikan Universitas Ma Chung bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.

Menariknya, nama Ayyub kerap muncul ketika mahasiswa diminta menyebutkan dosen favorit mereka. Salah satu apresiasi datang dari Zajuli, mahasiswa semester VII Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Kota Malang.

Menurut Zajuli, keramahan para dosen menjadi alasan utama ia betah berkuliah. "Kalau ada kekurangan, dosen memberi motivasi dan arahan. Kami merasa didampingi, bukan dihakimi," ujarnya.

Bagi Ayyub, toleransi bukanlah materi yang cukup diajarkan lewat ceramah di dalam kelas. Universitas Ma Chung menghadirkan pembelajaran lintas budaya yang aplikatif, salah satunya melalui Mata Kuliah Umum (MKU).

Inisiatif Ayyub mengajak mahasiswa DKV membuat Mural

Sebuah inisiatif menarik pernah dilakukan Ayyub saat ia mengajak mahasiswa DKV dari kelas yang diampunya untuk terjun langsung ke lingkungan Biara Pasionis, Bandulan, Kota Malang. Di sana, para mahasiswa DKV ini tidak hanya membuat karya mural, tetapi mereka juga berkesempatan untuk memberikan materi dan berbagi ilmu secara langsung di ruangan yang telah disediakan.

"Mereka belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, tetapi kesempatan untuk saling mengenal. Setelah melihat langsung, cara pandang mahasiswa berubah menjadi lebih terbuka," jelas Ayyub.

Pertemuan dengan Ayyub menghadirkan satu kesimpulan sederhana: Universitas Ma Chung hari ini tidak bisa lagi sekadar dinilai dari nama, latar belakang sejarah pendiri, ataupun prasangka lama.

Di dalamnya berbaur dosen berdarah Arab, mahasiswa lulusan pesantren, hingga pemuda dari berbagai etnis Nusantara yang menimba ilmu dengan semangat kebersamaan.

Sosok Ayyub Anshari Sukmaraga adalah simbol nyata bahwa ruang akademik yang inklusif dan keberagaman sejati bukan sekadar slogan, melainkan kehidupan harmonis yang terus berdetak setiap hari di lereng sejuk Puncak Tidar.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bertemu Ayyub Dosen Berwajah Arab di Universitas Ma Chung, Runtuhkan Sekat Identitas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?