Banner Iklan

Program Pengabdian UM: Tingkatkan Kompetensi Guru Kenali Anak Berbakat Sejak Dini

Eko Rudianto
29 Juli 2026 • 21.04 WIB

Mahasiswa, dosen, dan guru yang terlibat dalam Pelatihan identifikasi siswa Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (CIBI)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM : Tim dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) menggelar program pengabdian kepada masyarakat berupa "Pelatihan identifikasi siswa Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (CIBI)" bagi guru TK Aisyiyah Bustanul Athfal 10, Sumberpucung pada hari Sabtu, 25 Juli 2026. Program ini didanai melalui skema Non APBN UM dengan skema Pengabdian PPG PPKB.

Kegiatan ini digagas untuk menjawab kesenjangan yang selama ini terjadi di lapangan, yakni minimnya kompetensi guru dalam mengenali potensi anak dengan kemampuan diatas rata rata sejak usia dini. Tim pelaksana diketuai oleh Dr. Nur Eva, M.Psi., bersama anggota Jati Fatmawiyati, M.Si. dan Rizka Fibria Nugraheni, S.Psi., M.Si., serta didukung sejumlah mahasiswa Psikologi UM angkatan 2024 yaitu, Ayesha Naura Maritza Arif, Alifia Khoirun Nisa', Azalia Davina Putri, Habibur Rahman Sayyidan, Mohamad Farid Rizal

Latar Belakang: Potensi Anak Berbakat yang Berisiko Terlewatkan

TK Aisyiyah Bustanul Athfal 10 merupakan satuan PAUD formal yang telah berdiri sejak tahun 1980an dan melayani masyarakat dengan karakteristik sosial ekonomi menengah ke bawah. Selama ini, layanan pembelajaran di lembaga tersebut masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan spesifik anak dengan potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Menurut tim pelaksana, tanpa instrumen dan prosedur identifikasi yang terstandar, potensi anak anak berbakat berisiko tidak berkembang optimal karena tidak terdeteksi sejak dini. Persoalan ini teridentifikasi pada tiga aspek utama: kompetensi guru yang belum terlatih menggunakan alat skrining keberbakatan, layanan pendidikan yang masih klasikal tanpa strategi diferensiasi, serta rendahnya literasi orang tua mengenai tanda tanda anak berbakat.

Pelatihan Berbasis Praktik dan Pendampingan Berkelanjutan

Program dirancang dengan pendekatan partisipatif berbasis praktik, mengacu pada prinsip identifikasi keberbakatan multikriteria yang dikembangkan Joseph Renzulli, yakni integrasi antara kemampuan umum, kreativitas, dan komitmen terhadap tugas. Pelaksanaannya mencakup lima tahap, persiapan dan koordinasi, workshop pelatihan guru, pendampingan implementasi di kelas, edukasi bagi orang tua serta pengerjaan pre-test dan post-test, hingga monitoring dan evaluasi.

Pada tahap workshop, guru dibekali materi mengenai konsep kecerdasan dan keberbakatan anak usia dini, karakteristik anak cerdas dan berbakat istimewa, prinsip identifikasi dini, serta peran guru dalam mendeteksi potensi unggul anak. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan analisis studi kasus.

Hasil pengukuran melalui pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru setelah mengikuti pelatihan. Tim pelaksana mencatat, secara kualitatif, banyak guru yang baru menyadari adanya perbedaan antara anak yang sekadar aktif dan anak yang menunjukkan indikasi keberbakatan  dua karakteristik yang selama ini kerap disamaratakan dalam pengamatan sehari-hari di kelas.

Pendampingan di Kelas dan Penyusunan Strategi Diferensiasi

Setelah pelatihan, tim melakukan pendampingan langsung melalui observasi praktik guru dalam menerapkan instrumen identifikasi berupa checklist perkembangan dan lembar observasi. Dari proses ini, tersusun data awal pemetaan potensi siswa yang menunjukkan sejumlah anak memiliki indikasi kemampuan di atas rata-rata pada domain tertentu, seperti kemampuan verbal, kreativitas, atau rasa ingin tahu yang tinggi.

Guru juga didampingi menyusun strategi pembelajaran diferensiasi sederhana, mencakup diferensiasi konten, proses, dan produk. Meski masih dalam skala terbatas, penerapan strategi ini disebut mulai berdampak positif terhadap keterlibatan anak dalam pembelajaran, terutama bagi mereka yang sebelumnya cenderung bosan dengan kegiatan klasikal.

Kendala yang ditemui di lapangan antara lain keterbatasan waktu guru untuk melakukan observasi individual secara konsisten, mengingat rasio jumlah anak dan tenaga pendidik yang cukup tinggi, serta minimnya sarana penunjang kegiatan pengayaan (enrichment).

Orang Tua Turut Dilibatkan

Wali murid yang menghadiri Pelatihan identifikasi siswa Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (CIBI)

Untuk memperkuat dukungan dari lingkungan keluarga, tim pelaksana juga menggelar psikoedukasi bagi orang tua peserta didik melalui seminar dan diskusi kelompok. Materi yang disampaikan meliputi tanda-tanda anak berbakat yang bisa diamati di rumah, strategi stimulasi potensi anak, hingga pola asuh yang mendukung kreativitas.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman orang tua mengenai karakteristik anak berbakat. Sejumlah orang tua bahkan mengaku baru menyadari bahwa perilaku anak yang selama ini dianggap "sulit diatur" ternyata merupakan indikasi rasa ingin tahu tinggi atau kemampuan berpikir kritis yang belum terfasilitasi dengan tepat.

Tiga Capaian Utama Program

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan melalui kombinasi pre test - post test, observasi implementasi instrumen, penilaian kepuasan peserta, dan diskusi reflektif bersama guru dan kepala sekolah, tim pelaksana mencatat tiga capaian utama program:

1. Kompetensi guru meningkat dalam mengidentifikasi karakteristik anak cerdas dan berbakat istimewa, serta mampu menggunakan instrumen identifikasi secara lebih mandiri.

2. Layanan pendidikan mulai menunjukkan praktik awal diferensiasi pembelajaran di kelas, meski implementasinya masih memerlukan penguatan lebih lanjut.

3. Dukungan orang tua meningkat, ditandai literasi yang lebih baik mengenai keberbakatan anak serta terbentuknya komitmen awal kolaborasi dengan sekolah.

Peserta pelatihan secara umum menyatakan kepuasan terhadap materi yang disampaikan karena dinilai relevan dan aplikatif dengan kebutuhan mereka di lapangan. Namun, sejumlah masukan juga disampaikan agar pendampingan dapat dilakukan lebih intensif dan berkelanjutan, mengingat perubahan praktik pembelajaran memerlukan waktu adaptasi yang tidak sebentar.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Program Pengabdian UM: Tingkatkan Kompetensi Guru Kenali Anak Berbakat Sejak Dini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?