Banner Iklan

Panas! Tak Terima Dicap "Londo Ireng", Gabungan Wartawan Malang Raya Turun ke Jalan Tuntut Presiden Minta Maaf

Admin JSN
27 Juli 2026 | 19.16 WIB Last Updated 2026-07-27T12:27:11Z


Aksi solid wartawan se-Malang Raya di Bundaran Tugu, berbusana hitam membawa poster pahlawan-jurnalis seperti Adam Malik, menolak stigma 'Londo Ireng'.

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kekecewaan mendalam tengah menyelimuti insan pers di Bumi Arema. Tak terima dengan ucapan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyematkan julukan "Londo Ireng" kepada wartawan, awak media dari lintas organisasi se-Malang Raya menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Tugu Kota Malang pada Senin (27/07/2026).

Aksi turun ke jalan ini menjadi bentuk protes keras sekaligus unjuk solidaritas. Barisan aksi damai ini dimotori oleh kolaborasi empat organisasi pers utama di wilayah Malang Raya, yakni:

  1. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya
  2. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang
  3. Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang
  4. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang

Ketua AJI Malang, Benni Indo, tampil berapi-api dalam orasinya. Ia menegaskan bahwa tema aksi *"Kami Bukan Londo Ireng!"* sengaja diangkat sebagai bentuk perlawanan atas stigmatisasi yang menyamakan jurnalis dengan penjajah, pengkhianat, maupun penindas rakyat ala era kolonial.

"Frasa 'Londo Ireng' yang disematkan kepada wartawan itu sangat kontradiktif. Dalam catatan sejarah bangsa kita, banyak pahlawan nasional yang justru berlatar belakang jurnalis! Sebut saja WR Supratman sang pencipta lagu Indonesia Raya, Tirto Adhi Suryo, Adam Malik, Roehana Koeddoes, hingga HOS Cokroaminoto," tegas jurnalis harian Surya tersebut.

Benni juga menyayangkan ironi dari pernyataan tersebut. "Orang yang selama ini menasbihkan dirinya paling nasionalis, nyatanya malah mencela para pejuang. Bahkan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang selalu dinyanyikan dengan bangga itu adalah ciptaan seorang jurnalis," imbuhnya tajam.

Tuntut Permintaan Maaf Terbuka

Kekecewaan serupa disuarakan oleh Ketua IJTI Korda Malang Raya, Hilda Daningtyas. Ia mengungkapkan bahwa ucapan tersebut sukses melukai harga diri, independensi, dan marwah profesi jurnalis.

"Sebagai Kepala Negara, Presiden seharusnya tahu bahwa kita ini bukan kaki tangan asing. Tugas kita adalah menghadirkan informasi yang jujur bagi masyarakat," ujar jurnalis Kompas TV tersebut.

Lebih lanjut, Ketua PWI Malang Raya, Ir. Cahyono, menegaskan bahwa aksi di jantung Kota Malang ini membawa satu tuntutan moral yang jelas kepada kepala negara atas pencemaran nama baik profesi.

"Melalui aksi ini, para wartawan meminta supaya Presiden Prabowo mencabut ucapannya. Kami mendesak beliau menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh insan pers karena telah mencoreng marwah profesi jurnalis," ujar Cahyono lugas.

Kritik Pers Bukan Berarti Melawan

Menutup rangkaian aspirasi, Ketua PFI Malang yang juga fotografer Jawa Pos Radar Malang, Darmono, mengingatkan kembali fungsi krusial pers sebagai pilar keempat demokrasi. Menurutnya, kritik adalah bagian tak terpisahkan dari social control.

"Pernyataan Presiden Prabowo mencederai profesi jurnalis. Sebagai salah satu pilar demokrasi, pers berkewajiban untuk mengkritik berbagai kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat," ungkap Darmono.

"Jika mengkritik dianggap melawan, beliau perlu diingatkan bahwa ia menerima mandat dari rakyat dan digaji dari uang rakyat. Janganlah memberi contoh buruk apalagi di atas podium resmi seperti itu," pungkasnya memberi peringatan keras.



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Panas! Tak Terima Dicap "Londo Ireng", Gabungan Wartawan Malang Raya Turun ke Jalan Tuntut Presiden Minta Maaf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now