Guru Besar UB Professor Chomsin S Widodo
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kebijakan hilirisasi sumber daya alam dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia. Kehadiran fasilitas pemurnian mineral seperti smelter tembaga tidak hanya meningkatkan nilai tambah hasil tambang, tetapi juga membuka peluang tumbuhnya industri nasional serta menciptakan lapangan kerja baru.
Guru Besar Departemen Fisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Chomsin Widodo Senin 27 Juli 2026 mengatakan pembangunan dan penyelesaian smelter AMMAN merupakan capaian penting dalam upaya Indonesia mengubah paradigma dari negara pengekspor bahan mentah menjadi negara yang mampu mengolah sumber daya alam secara mandiri.
Menurutnya, Indonesia selama ini tidak boleh berhenti sebagai eksportir konsentrat mineral. Melalui proses pemurnian di dalam negeri, komoditas tambang dapat memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih besar bagi bangsa.
“Pemerintah mendorong pembangunan smelter tembaga karena Indonesia tidak ingin hanya menjadi eksportir konsentrat. Melalui pemurnian di dalam negeri, Indonesia dapat menghasilkan katoda tembaga sekaligus memperoleh nilai dari emas, perak, selenium, serta berbagai produk samping lainnya,” ujar Prof. Chomsin.
Ia menjelaskan, keberadaan smelter juga memiliki peran penting dalam menyediakan bahan baku bagi berbagai sektor strategis, mulai dari industri kabel, elektronik, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga pembangunan infrastruktur kelistrikan nasional.
Namun demikian, Prof. Chomsin menegaskan bahwa pembangunan smelter bukanlah akhir dari proses hilirisasi. Menurutnya, fasilitas pemurnian harus menjadi pintu masuk menuju industrialisasi yang lebih luas.
“Smelter seharusnya dipandang sebagai tahap awal industrialisasi, bukan sebagai tujuan akhir hilirisasi. Keberhasilan hilirisasi akan terlihat ketika produk hasil pemurnian mampu mendorong tumbuhnya industri manufaktur di dalam negeri,” jelasnya.
Terkait rampungnya pembangunan smelter AMMAN dan terpenuhinya performance guarantee test, Prof. Chomsin menyebut hal tersebut sebagai pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap harus diukur dari kemampuan fasilitas tersebut dalam beroperasi secara konsisten dan memberikan manfaat luas.
“Keberhasilan sesungguhnya harus dinilai dari kemampuan fasilitas tersebut untuk beroperasi secara stabil pada kapasitas tinggi, menjaga keselamatan dan lingkungan, menyerap tenaga kerja lokal, serta mendorong tumbuhnya industri pengguna katoda tembaga di Indonesia,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya transparansi dan evaluasi berkelanjutan dalam pengelolaan smelter, terutama berkaitan dengan tingkat produksi, utilisasi fasilitas, pengendalian emisi, aspek keselamatan kerja, serta rencana perbaikan jangka panjang.
Hal itu, lanjutnya, menjadi penting mengingat fasilitas industri berskala besar seperti smelter memiliki tantangan teknis dan operasional yang harus terus dikawal.
“Transparansi mengenai tingkat produksi, utilisasi, emisi, keselamatan, dan rencana perbaikan jangka panjang tetap sangat penting. Industri besar harus berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” ungkapnya.
Prof. Chomsin berharap keberadaan smelter AMMAN dapat memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional. Hilirisasi, menurutnya, akan benar-benar memperkuat kemandirian ekonomi apabila manfaatnya tidak hanya berhenti di kawasan industri, tetapi menyebar kepada masyarakat dan sektor usaha di sekitarnya.
“Hilirisasi harus mampu menciptakan rantai nilai baru. Manfaatnya harus dirasakan melalui tumbuhnya industri turunan, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan penguatan industri pengolahan mineral, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing ekonomi, mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah, sekaligus membangun fondasi industri nasional yang lebih mandiri. Ans



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?