![]() |
| Ilustrasi komunikasi di era digital yang penuh tantangan dan juga peluang./Pixabay |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
Sistem Komunikasi Indonesia di Era Digital: Tantangan dan Peluang di Tengah Arus Konektivitas
Penulis: M. Wafiq Khoirum Mizan
Perubahan cara masyarakat Indonesia berkomunikasi dalam satu dekade terakhir terasa begitu cepat. Jika dulu informasi mengalir lewat surat kabar, radio, dan televisi, kini genggaman tangan saja sudah cukup untuk mengakses dunia.
Hal inilah yang membuat M. Wafiq Khoirum Mizan, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, tertarik mengangkat topik transformasi sistem komunikasi nasional di tengah derasnya digitalisasi sebagai bahan tulisannya kali ini. Tulisan ini disusun sebagai bagian dari tugas mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia di bawah bimbingan dosen pengampu, Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., yang kerap menekankan pentingnya mahasiswa peka terhadap isu aktual seputar arus informasi di tanah air.
Pertanyaan mendasarnya sederhana: apa yang sebenarnya terjadi pada sistem komunikasi Indonesia saat ini? Jawabannya terletak pada angka.
Berdasarkan survei Profil Internet Indonesia 2025 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet nasional telah mencapai 80,66 persen, naik dari 79,50 persen pada tahun sebelumnya, dengan total pengguna internet sekitar 229 juta orang dari seluruh penduduk Indonesia.
Siapa yang paling banyak terhubung? Data tersebut menunjukkan dominasi penetrasi tertinggi justru ada pada generasi milenial dengan angka 89,12 persen, disusul Generasi Z sebesar 87,80 persen. Artinya, anggapan bahwa Gen Z paling melek digital ternyata perlu diluruskan; generasi milenial-lah yang justru paling intensif menggunakan internet saat ini.
Di mana pertumbuhan ini terjadi? Jawabannya merata, meski belum sepenuhnya setara. Wilayah yang tergolong tidak tertinggal mencatat penetrasi 80,95 persen, sementara daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) berada di angka 80,55 persen, sebuah capaian yang menggembirakan namun tetap menyisakan pekerjaan rumah soal pemerataan infrastruktur.
Kapan tren ini mulai terlihat jelas? Sejak 2018, penetrasi internet Indonesia baru menyentuh 64,8 persen, lalu merangkak naik menjadi 73,7 persen pada 2020 dan 77,01 persen pada 2022, sebelum akhirnya menembus angka 80 persenan pada 2025. Tren ini memperlihatkan bahwa digitalisasi komunikasi bukan fenomena dadakan, melainkan proses bertahap yang dipercepat oleh kebutuhan masyarakat akan informasi, pekerjaan, dan hiburan.
Mengapa fenomena ini penting dibahas? Karena sistem komunikasi tidak lagi sekadar soal media massa konvensional seperti surat kabar atau televisi, melainkan ekosistem digital yang menyatukan jurnalisme, media sosial, dan komunikasi interpersonal dalam satu platform.
Platform digital kini menjadi ruang utama publik memperoleh berita, berdiskusi, sekaligus membentuk opini. Pergeseran ini membawa konsekuensi besar: kecepatan penyebaran informasi meningkat tajam, tetapi risiko hoaks dan disinformasi pun ikut membesar seiring derasnya arus konten yang tidak selalu terverifikasi.
Bagaimana fenomena ini berdampak pada kehidupan sehari-hari? Internet kini menjadi kebutuhan, bukan sekadar pelengkap. Mayoritas masyarakat memanfaatkan internet untuk bekerja, dengan tingkat penetrasi penggunaan mencapai 78,57 persen, sementara hampir 36,77 persen pengguna mengakses internet melalui jaringan wifi gratis. Kondisi ini menggambarkan bahwa komunikasi digital telah merasuk ke ranah ekonomi dan produktivitas, bukan hanya ranah hiburan semata.
Namun, di balik capaian positif ini, tantangan literasi digital masih membayangi. Tidak semua pengguna internet memiliki kemampuan menyaring informasi secara kritis.
Maraknya penipuan daring, pencurian data pribadi, hingga penyebaran berita bohong menjadi catatan penting bagi pemerintah, penyedia layanan, maupun masyarakat itu sendiri. Sistem komunikasi yang semakin terbuka semestinya diiringi dengan kesadaran kolektif untuk menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, transformasi sistem komunikasi Indonesia di era digital adalah cerminan dari perubahan zaman yang tidak bisa dihindari. Konektivitas yang semakin luas membuka peluang besar bagi pemerataan informasi dan partisipasi publik, tetapi juga menuntut kesiapan literasi digital yang memadai. Tugas bersama ke depan bukan lagi sekadar memperluas jangkauan internet, melainkan memastikan bahwa setiap warga negara mampu memanfaatkannya secara cerdas dan bijak.
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, I. L., Aulya, N., & Satriya, S. H. (2024). Transformasi media dan dinamika komunikasi dalam era digital: Tantangan dan peluang ilmu komunikasi. Kampus Akademik Publishing Jurnal Ilmiah Research Student, 1(3), 168–181.
https://doi.org/10.61722/jirs.v1i3.554
Humairoh, A., & Nurjannah, A. (2025). Moderasi konten dan literasi digital: Tantangan komunikasi publik di era disinformasi di Indonesia. Journal Central Publisher, 2(12), 2891–2898. https://doi.org/10.60145/jcp.v2i12.566
Marchanda, F., & Akmaluddin, T. (2023). Dinamika media komunikasi: Tantangan, peluang, dan transformasi dalam era digital. ENCommunication Journal of Communication Studies, 1(2), 148–157. https://doi.org/10.71036/ejcs.v1i2.164
***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?