Banner Iklan

UMM Ciptakan Lingkungan Inklusif, Mahasiswa PPG Dilatih Tangkal Perundungan dan Kekerasan Seksual

Admin JSN
23 Juni 2026 | 14.03 WIB Last Updated 2026-06-23T07:03:19Z
UMM melatih mahasiswa PPG untuk menangkal perundungan dan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan./dok.UMM

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Universitas Muhammadiyah Malang turut memperhatikan maraknya kasus perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi di lingkungan pendidikan.

Ini menegaskan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman. Dampaknya sangat fatal, selain merusak prestasi akademis, juga mengancam kesehatan mental siswa hingga memicu depresi dan tindakan bunuh diri.

Menjawab kondisi darurat ini, Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertindak tegas dengan membekali para mahasiswa calon guru melalui 'Seminar Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual, Perundungan, dan Sikap Anti-Intoleransi' di Hotel Rayz UMM, Senin (22/6).

Kegiatan ini diikuti mahasiswa PPG calon guru semester 1 tahun akademik 2026 dan menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Ir. Alfi Nurhidayat, S.T., M.T., Ph.D., sebagai pemateri utama. Ia memaparkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang makin kompleks akibat teknologi digital dan penetrasi gawai yang mengubah pola pikir, interaksi, serta perilaku siswa.

Alfi mengingatkan, karena pendidik adalah figur teladan yang perilakunya akan ditiru, penyelesaian masalah intoleransi dan perundungan tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah, melainkan menuntut kolaborasi komprehensif antara guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat.

"Ketika guru mengajar dengan cinta, kebahagiaan, dan ketulusan, maka anak-anak akan merasa aman dan nyaman di sekolah. Sekolah yang aman itu bukan dicari, tetapi diciptakan bersama," ujar Alfi dikutip dari rilis UMM Selasa (23/6).

Melengkapi pandangan tersebut, Dosen Psikologi UMM, Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si., menekankan vitalnya peran guru sebagai active bystander atau sosok yang aktif mencegah dan sigap merespons berbagai bentuk kekerasan di sekolah. Ia menyoroti fakta bahwa korban sering kali memilih bungkam dan memendam traumanya cukup lama.

Yudi juga mengingatkan bahwa sepuluh menit pertama ketika seorang siswa melapor merupakan momen sangat krusial; guru dituntut untuk mampu mendengarkan secara utuh, memvalidasi perasaan korban, serta menjamin kerahasiaan agar siswa tersebut bersedia menceritakan kejadian sepenuhnya.

"Kasus yang tercatat sesungguhnya hanyalah puncak gunung es. Banyak korban tidak melapor karena takut, malu, atau merasa tidak akan mendapatkan perlindungan," ungkap Yudi.

Melihat tingginya urgensi pencegahan kekerasan tersebut, Ketua Program Studi PPG UMM sekaligus Koordinator PPG Nasional, Prof. Dr. Trisakti Handayani, F.M., mewajibkan setiap calon lulusan untuk memiliki pemahaman pencegahan yang terpadu. Ia menyoroti bahwa kewajiban utama guru masa kini bukan sekadar mentransfer ilmu di dalam kelas, melainkan juga harus mampu secara aktif menjamin terpenuhinya hak peserta didik untuk belajar tanpa adanya ancaman kekerasan.

"Jadilah guru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Ketika nanti terjun ke dunia pendidikan, jadilah garda terdepan dalam menciptakan sekolah yang aman, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik," imbau Trisakti.

Langkah konkret PPG UMM melalui seminar ini mengirimkan pesan kuat bagi dunia pendidikan nasional. Calon pendidik masa depan tidak boleh hanya pandai berteori, namun dituntut terjun membela siswa dan mempraktikkan pencegahan kekerasan secara nyata di lapangan.

Kolaborasi antarpemangku kepentingan, kepekaan sosial guru, dan ketegasan dalam bertindak adalah kunci utama untuk mengembalikan muruah sekolah sebagai ruang belajar yang benar-benar aman, inklusif, serta senantiasa menghargai keberagaman. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • UMM Ciptakan Lingkungan Inklusif, Mahasiswa PPG Dilatih Tangkal Perundungan dan Kekerasan Seksual

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now