Banner Iklan

Perempuan Dalam Membangun Peradaban Islam: Refleksi Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1448 H

M. Kholilur Rohman
14 Juni 2026 | 16.50 WIB Last Updated 2026-06-14T09:52:54Z

 

Foto: Prof. Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Penulis: Prof. Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

MALANG | ARTIKEL - Hijrah Nabi Muhammad saw. bukan sekadar peristiwa perpindahan tempat dari Makkah menuju Madinah yang tercatat dalam lembaran sejarah Islam. Hijrah juga bukan semata episode pribadi dalam perjalanan hidup Rasulullah saw. Lebih dari itu, hijrah merupakan titik balik besar yang mengubah arah kehidupan manusia; sebuah momentum lahirnya tatanan masyarakat baru yang dibangun di atas fondasi iman, nilai, persaudaraan, keadilan, dan tanggung jawab kemanusiaan. Dari peristiwa inilah dimulai sebuah transformasi yang tidak hanya membentuk peradaban Islam, tetapi juga memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan peradaban manusia sepanjang sejarah.

Karena itu, peringatan hijrah Nabi Muhammad saw. yang terus dihidupkan oleh umat Islam setiap tahun tidak seharusnya berhenti pada seremonial dan romantisme sejarah semata. Hijrah perlu dibaca sebagai sumber inspirasi, sumber pembelajaran, sekaligus sumber solusi bagi berbagai persoalan kehidupan manusia modern. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks ditambah dengan adanya krisis moral, perubahan sosial, ketimpangan kemanusiaan, dan lemahnya ketahanan keluarga serta masyarakat, nilai-nilai hijrah tetap relevan untuk dijadikan pijakan dalam membangun masa depan peradaban yang lebih bermartabat dan berkeadilan.

Salah satu pelajaran penting yang dapat digali dari peristiwa hijrah adalah besarnya peran perempuan dalam menyukseskan proses perubahan tersebut. Sejarah hijrah menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah Nabi Muhammad saw. tidak hanya ditopang oleh tokoh-tokoh laki-laki, tetapi juga melibatkan perempuan-perempuan yang memiliki keberanian, kecerdasan, ketangguhan, pengorbanan, dan tanggung jawab yang luar biasa. Mereka hadir bukan sebagai pelengkap sejarah, melainkan sebagai bagian integral dalam proses menjaga, menguatkan, dan mengantarkan lahirnya sebuah peradaban baru.

Melalui refleksi momentum 1 Muharram 1448 H ini, tulisan ringan ini berupaya mengangkat kembali peran sosok-sosok perempuan dalam peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw., sekaligus menelaah relevansi nilai dan keteladanan mereka bagi perempuan masa kini. Dengan demikian, pembahasan ini diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bersama bahwa membangun peradaban bukanlah tugas satu kelompok saja, melainkan kerja kolektif yang menempatkan perempuan sebagai salah satu pilar penting dalam menghadirkan masa depan umat dan kemanusiaan yang lebih baik.

Perempuan dalam Islam

Perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dan keberlangsungan sebuah masyarakat. Kehadiran perempuan bukan sekadar pelengkap dalam struktur sosial, tetapi merupakan unsur utama yang Allah hadirkan sebagai pasangan, penyeimbang, sekaligus pendukung keberlanjutan kehidupan manusia. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam pasangan laki-laki dan perempuan (QS. An-Najm: 45), dan bahwa proses kehidupan manusia berjalan melalui ketentuan Allah yang melibatkan keduanya secara seimbang (QS. Al-Qiyamah: 38–39). Dengan demikian, berbicara tentang pembangunan masyarakat dan peradaban tanpa melibatkan perempuan berarti mengabaikan separuh potensi besar yang Allah anugerahkan kepada umat manusia.

Lebih dari itu, perempuan merupakan karunia dan anugerah Allah yang memiliki kedudukan sangat mulia. Menariknya, ketika Al-Qur’an berbicara tentang karunia keturunan, Allah mendahulukan penyebutan anak perempuan sebelum anak laki-laki. Allah berfirman: “Dia menganugerahkan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan menganugerahkan anak-anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS. Asy-Syura: 49). Penyebutan ini mengandung pesan yang sangat dalam, terutama sebagai koreksi terhadap cara pandang masyarakat yang pada masa tertentu pernah merendahkan perempuan. Islam justru datang mengangkat martabat perempuan dan menempatkannya sebagai bagian penting dalam kehidupan dan pembangunan umat.

Di dalam ajaran Islam, perempuan bukan hanya dipandang sebagai amanah, tetapi juga dapat menjadi jalan menuju keberkahan dan surga. Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang memiliki tiga anak perempuan, atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengurus mereka, maka baginya surga” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa memperhatikan, mendidik, menjaga, dan memuliakan perempuan bukan sekadar tindakan sosial, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi di sisi Allah.

Tidak berhenti pada itu, perempuan juga merupakan pembentuk generasi dan pencipta para tokoh besar dalam sejarah. Dari tangan perempuan lahir para pemimpin, ulama, pejuang, pendidik, dan pembangun peradaban. Karena itulah sebuah syair Arab yang terkenal menyatakan: “Al-ummu madrasatun, idzā a‘dadtahā a‘dadtasya‘ban ṭayyibal-a‘rāq”,  Ibu adalah sekolah; apabila engkau mempersiapkannya dengan baik, maka sungguh engkau telah mempersiapkan sebuah bangsa yang berperadaban dan mulia. Ungkapan ini menegaskan bahwa kualitas suatu masyarakat pada hakikatnya sangat dipengaruhi oleh kualitas perempuan yang mendidik dan membentuk generasinya.

Atas dasar itu, menjadi sangat penting untuk menyiapkan perempuan, membuka ruang kontribusi yang sesuai dengan fitrah dan kapasitasnya, serta memberikan penghargaan terhadap peran strategis yang mereka emban dalam kehidupan. Perempuan tidak diciptakan untuk menggantikan laki-laki, dan tidak pula untuk dipinggirkan dari ruang kontribusi sosial. Perempuan dan laki-laki adalah dua unsur yang saling melengkapi dalam mengemban amanah memakmurkan bumi. Ketika perempuan dibina dengan ilmu, dikuatkan dengan nilai, dan diberi kesempatan berkontribusi secara benar, maka sesungguhnya kita sedang menyiapkan fondasi kokoh bagi lahirnya peradaban Islam dan peradaban kemanusiaan yang lebih maju, bermartabat, dan berkelanjutan. 

Refleksi Peran Perempuan dari Peristiwa Hijrah

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw., telah menampilkan sosok perempuan penting yang merefleksikan keteladanan sepanjang perjuang umat dalam membangun peradaban Islam. Diantara pelajaran penting dari sosok tersebut adalah:P

Perempuan sebagai Penjaga Amanah dan Kepercayaan Peradaban

Peradaban besar tidak dibangun hanya dengan kecerdasan dan kekuatan, tetapi juga oleh manusia-manusia yang dapat dipercaya. Dalam peristiwa hijrah, tampak bagaimana Asma’ binti Abu Bakar diberi kepercayaan menyimpan dan mendukung rahasia besar yang bahkan tidak diketahui banyak laki-laki. Dengan penuh keberanian dan kehati-hatian, ia membantu menyiapkan kebutuhan Rasulullah saw. dan Abu Bakar selama persembunyian di Gua Tsur serta menjaga amanah tersebut tanpa mengkhianatinya. Amanah itu dijaga dengan penuh kedewasaan, ketenangan, dan tanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas strategis dalam menjaga arah perjuangan dan keberlangsungan umat.

Di masa depan, peradaban Islam membutuhkan perempuan-perempuan yang menjadi penjaga amanah: amanah ilmu, keluarga, pendidikan, informasi, dan nilai-nilai agama. Ketika perempuan membangun integritas dalam dirinya, ia sedang melahirkan generasi yang dapat dipercaya, masyarakat yang kokoh, dan peradaban yang tidak mudah runtuh oleh krisis moral. Dari rumah hingga ruang publik, kepercayaan adalah fondasi kemajuan, dan perempuan adalah salah satu penjaganya yang paling kuat.

Perempuan sebagai Pilar Ketangguhan dan Keteguhan Nilai

Hijrah mengajarkan bahwa perempuan tidak selalu hadir di garis depan yang terlihat, tetapi sering menjadi benteng pertama yang menjaga prinsip ketika tekanan datang. Keteguhan Asma’ menghadapi ancaman dan intimidasi tanpa mengkhianati amanah menunjukkan bahwa kekuatan perempuan bukan hanya pada kelembutan, tetapi juga pada keberanian mempertahankan kebenaran. Ketahanan semacam ini menjadi modal utama dalam menghadapi perubahan zaman.

Peradaban Islam masa depan memerlukan perempuan yang tidak mudah goyah oleh tekanan budaya, arus informasi, atau godaan yang menjauhkan manusia dari nilai Islam. Keteguhan perempuan dalam menjaga akhlak, membimbing keluarga, dan tetap berkontribusi di tengah tantangan akan melahirkan masyarakat yang memiliki identitas kuat. Ketika perempuan teguh, generasi menjadi kokoh; dan ketika generasi kokoh, peradaban dapat bertahan.

Perempuan sebagai Penggerak Pengorbanan dan Pelayanan Umat

Salah satu pelajaran besar dari hijrah adalah bahwa perubahan selalu menuntut pengorbanan. Perempuan dalam sejarah Islam telah menunjukkan kesediaan menanggung lelah, menempuh perjalanan berat, dan menghadapi risiko demi menjaga keberlangsungan dakwah. Dalam peristiwa hijrah, kita dapat melihat keteladanan Asma’ binti Abu Bakar yang dengan keberanian dan kecerdasannya mengantarkan kebutuhan Rasulullah saw. dan ayahnya ke Gua Tsur, meskipun harus menghadapi ancaman dan tekanan. Begitu pula Ummu Salamah yang menunjukkan keteguhan luar biasa ketika harus berpisah sementara dari keluarga demi mempertahankan keimanan dan melanjutkan hijrah. Pengorbanan mereka bukan bentuk kelemahan, tetapi ekspresi cinta terhadap agama dan masa depan umat.

Hari ini dan masa depan, perempuan dapat menghadirkan semangat yang sama melalui pelayanan yang luas: mendidik generasi, mengembangkan pendidikan Islam, menguatkan ekonomi keluarga, terlibat dalam aktivitas sosial, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Peradaban tidak lahir dari kenyamanan semata, tetapi dari orang-orang yang rela memberi. Dan perempuan memiliki kemampuan luar biasa untuk menumbuhkan budaya memberi dan melayani itu.

Perempuan sebagai Pelopor Inovasi dan Kecerdasan Sosial

Peristiwa hijrah juga memperlihatkan kecerdasan perempuan dalam mengambil keputusan, membaca situasi, dan menemukan solusi di tengah keterbatasan. Sosok Asma’ binti Abu Bakar menjadi contoh bagaimana perempuan mampu berpikir cepat dan bertindak tepat pada situasi yang penuh risiko. Ketika menyiapkan kebutuhan perjalanan Rasulullah saw. dan Abu Bakar menuju Madinah, ia memanfaatkan apa yang tersedia dengan membelah ikat pinggangnya untuk mengikat bekal, sehingga kemudian dikenal dengan julukan Dzat an-Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang). Dari cara menjaga strategi, menenangkan keadaan, hingga memanfaatkan keterbatasan menjadi solusi, semuanya menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan berpikir cepat dan bertindak bijaksana. Peradaban selalu maju karena hadirnya manusia yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Masa depan peradaban Islam membutuhkan perempuan yang kreatif, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya. Inovasi dalam pendidikan, teknologi, media, dan pembinaan masyarakat membutuhkan sentuhan perempuan yang cerdas sekaligus berakar pada nilai. Dengan demikian, perempuan bukan hanya penerus peradaban, tetapi juga perancang arah dan wajah peradaban Islam yang akan datang.

Penutup

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. mengajarkan bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari satu pihak saja, melainkan dari kolaborasi orang-orang yang beriman, berilmu, dan berani mengambil peran sesuai amanahnya. Dalam sejarah itu, perempuan hadir bukan di pinggiran peradaban, tetapi di jantung perubahan, menjadi penjaga nilai, penguat perjuangan, pendidik generasi, sekaligus penopang lahirnya masyarakat yang berkeadaban. Karena itu, refleksi 1 Muharram 1448 H sepatutnya menjadi momentum untuk kembali melihat perempuan sebagai subjek penting dalam pembangunan umat, yang kontribusinya tidak hanya layak dihargai, tetapi juga perlu terus diberdayakan dan diperkuat.

Membangun peradaban Islam di masa kini dan masa depan tidak cukup hanya dengan kemajuan ilmu, teknologi, atau kekuatan ekonomi, tetapi juga membutuhkan manusia-manusia yang berakhlak, berintegritas, dan memiliki keberanian menjaga nilai di tengah perubahan zaman. Di titik inilah perempuan memiliki peran yang sangat strategis. Ketika perempuan tumbuh dengan ilmu, dimuliakan dengan nilai, dan diberi ruang untuk menghadirkan manfaat, maka sesungguhnya sedang dibangun fondasi bagi lahirnya generasi yang kuat dan masyarakat yang bermartabat. Semoga semangat hijrah terus menghidupkan tekad untuk menghadirkan perempuan-perempuan yang bukan hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga penulis dan pembangun peradaban yang membawa rahmat bagi umat dan kemanusiaan. 



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Perempuan Dalam Membangun Peradaban Islam: Refleksi Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1448 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now