Banner Iklan

Menjadi The Real Orang Tua Sebagai Guru Pertama

M. Kholilur Rohman
23 Juni 2026 | 20.32 WIB Last Updated 2026-06-23T13:32:28Z

 


Penulis: Mohammad Aqimuddin Al Majid (Mahasiswa PAI FITK UIN Malang) 

MALANG | ARTIKEL - Peran pendidik tentunya tidak lepas dari sosok orang tua, orang tualah yang nantinya akan berperan dalam membentuk karakter anak. Orang tua bertanggung jawab sebagai pendidik pertama dan utama serta berperan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Anak adalah sebuah karunia dari tuhan yang dititipkan kepada manusia terutama orang tua yang nanti pasti akan diminta pertanggungjawabannya.

Mendidik diri juga mencakup kesiapan ekonomi dan manajemen kehidupan. Meskipun bukan satu-satunya faktor, kemampuan mengelola keuangan, hidup sederhana, dan bertanggung jawab secara ekonomi akan mengurangi stres dalam rumah tangga. Stres yang tidak terkelola sering kali berdampak langsung pada pola pengasuhan anak. Orang tua yang siap secara ekonomi dan manajerial lebih mampu menciptakan lingkungan keluarga yang stabil dan aman.

Secara keseluruhan, “mendidik diri sebelum mendidik anak” adalah proses panjang pembentukan diri yang melibatkan kesadaran, pembelajaran, dan perbaikan berkelanjutan

Sebelum memasuki pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Dengan mempersiapkan diri secara spiritual, emosional, psikologis, relasional, dan praktis, seseorang tidak hanya siap menjadi pasangan hidup yang baik, tetapi juga siap menjadi orang tua yang mampu mendidik anak dengan kasih sayang, keteladanan, dan tanggung jawab. Prinsip ini menegaskan bahwa keluarga yang sehat lahir dari individu-individu yang terlebih dahulu berusaha menjadi pribadi yang sehat dan matang.

Sebelum seseorang siap menjadi orang tua, ia perlu memahami siapa dirinya. Proses mengenal diri (self-awareness) yang mencakup mengenali kelebihan, kekurangan, pola emosi, serta nilai-nilai hidup yang dipegang. Banyak masalah dalam pengasuhan muncul karena orang tua belum menyelesaikan persoalan pribadinya. Misalnya trauma masa kecil, ego yang tinggi, atau ketidakstabilan emosi. Seseorang bisa dikatakan siap secara emosional apabila tercapai penyelesaian masalah atau penanggulangan masalah yang telah disebutkan.

Seseorang bisa dikatakan siap secara emosional apabila ia mampu menyelesaikan masalah secara dewasa, contohnya seperti: mampu mengatasi trauma yang mungkin pernah ia alami, dia tidak akan berlarut-larut memikirkan traumanya dan mencoba untuk membuka lembaran baru. Kemudian contoh lainnya terkait ego yang tinggi dan ketidakstabilan emosi adalah ia mampu menurunkan ego dan memprioritaskan keputusan bersama. Untuk ketidakstabilan emosi dapat diredam dengan banyak cara, bisa dengan bersabar, memberikan ruang untuk sendiri, konseling dengan psikolog, dan lain sebagainya.

Menyusun visi dan misi keluarga merupakan langkah strategis dan mendasar dalam membangun rumah tangga yang sehat, harmonis, dan berorientasi jangka panjang. Visi keluarga berfungsi sebagai gambaran ideal tentang arah dan tujuan hidup bersama yang ingin dicapai, sedangkan misi keluarga menjadi panduan praktis berupa langkah-langkah nyata dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Tanpa visi dan misi yang jelas, keluarga cenderung berjalan tanpa arah, mudah goyah ketika menghadapi konflik, serta kurang memiliki kesepakatan nilai dalam mendidik anak dan mengelola hubungan antar anggota keluarga. Karena demikian, penyusunan visi dan misi keluarga sebaiknya dilakukan secara sadar, disepakati bersama, dan dievaluasi secara berkala.

Langkah awal dalam menyusun visi dan misi keluarga adalah merumuskan nilai dasar keluarga, yang mencakup nilai agama, moral, dan sosial. Nilai agama menjadi fondasi utama yang menuntun keluarga dalam memahami tujuan hidup, makna pernikahan, serta tanggung jawab sebagai hamba dan khalifah di muka bumi. Suami bertanggung jawab terhadap kondisi keluarganya, sementara istri bertanggung jawab terhadap harta benda milik suamiya.

Tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk mencapai keluarga sakinah, mawaddah, warahmah (tenang, penuh cinta, dan kasih sayang), memenuhi fitrah dan naluri manusia, menjaga kehormatan diri dari maksiat, mengikuti sunnah Nabi, melaksanakan ibadah kepada Allah, serta melahirkan dan mendidik keturunan yang sholeh dan shalihah, menjadikannya ibadah yang mendekatkan diri pada-Nya.

Ketika telah menikah melampiaskan emosi bukan berarti meluapkan kemarahan secara bebas, tetapi menyalurkan emosi dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab. Setiap individu baik suami maupun istri perlu memiliki kesadaran bahwa pasangan bukanlah sasaran pelampiasan emosi, melainkan mitra yang perlu diajak berkomunikasi.

Ketidakcocokan pada individu merupakan hal yang sangat normal, karena tiap individu baik itu suami maupun istri dibesarkan dalam kondisi lingkungan yang berbeda, sifat yang berbeda, genetik yang berbeda, gaya pendidikan yang berbeda, dan lain sebagainya. Terkadang kesalahan sekecil apapun dapat menimbulkan konflik dengan pasangan.

Konflik ketika menjalani rumah tangga merupakan hal yang sangat normal terjadi. Ketika dua insan yang saling bertemu pasti banyak sekali yang namanya perbedaan, mulai dari perbedaan pola asuh, beda genetik, beda kebiasaan, beda cara mengelola emosi, beda sifat, dan seterusnya. Bahkan hal kecil pun bisa menjadi masalah besar karena perbedaan ini, bahkan terkadang bisa mengarah KDRT dan perceraian.

Hal yang membedakan rumah tangga yang sehat dan tidak sehat bukanlah ada atau tidaknya konflik, melainkan cara konflik tersebut dikelola. Kekerasan, baik fisik maupun verbal, bukanlah solusi, melainkan sumber masalah baru yang merusak hubungan dan meninggalkan luka jangka panjang.

Langkah awal dalam mengelola konflik tanpa kekerasan adalah menyadari dan mengendalikan emosi. Saat konflik muncul, emosi seperti marah, kecewa, atau frustrasi sering kali mendominasi. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, pasangan cenderung bereaksi secara impulsif melalui kata-kata kasar atau tindakan menyakiti.

Oleh karena itu, penting bagi suami dan istri untuk belajar menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan. Mengambil jeda sejenak, menarik napas dalam-dalam, atau menunda diskusi hingga emosi lebih stabil merupakan bentuk kedewasaan dalam menghadapi konflik.

Pelampiasan emosi yang berujung pada pertengkaran di depan anak berdampak buruk pada kesehatan mental, emosional, dan fisik anak, memicu stres, kecemasan, depresi, hingga masalah perilaku seperti agresivitas dan kesulitan bersosialisasi, karena anak merasa tidak aman dan meniru pola konflik yang salah, yang bisa berlanjut hingga dewasa.

Dampaknya bisa mulai terasa sejak bayi yang memengaruhi perkembangan otak dan hormon stresnya. Orangtua yang semula sebagai tempat ternyaman bagi anaknya justru menjadi tempat yang mencekram bagi anak-anaknya. Anak akan merasa kehilangan sosok pelindung yang kini menjadi penyebab hilangnya rasa aman.

Dari sudut pandang psikologi, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan mengalami kecemasan kronis dan stres pascatrauma (PTSD) karena hilangnya rasa aman di dalam rumah mereka sendiri. Kondisi stres yang berkepanjangan ini mengganggu perkembangan otak, khususnya pada area yang mengatur emosi dan fungsi kognitif. Akibatnya, anak sering kali kesulitan meregulasi emosi, mengalami penurunan prestasi akademis, serta berisiko tinggi mengadopsi perilaku agresif sebagai mekanisme pertahanan diri.

Dalam jangka panjang, dampak psikologis ini dapat membentuk pola hubungan yang tidak sehat saat mereka dewasa melalui fenomena siklus kekerasan intergenerasional atau hubungan antar generasi yang diwariskan turun temurun.

Anak-anak cenderung menginternalisasi apa yang mereka lihat, sehingga mereka berisiko menganggap kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah yang normal dalam sebuah hubungan. Dampak internal lain yang sering muncul adalah depresi, penarikan diri dari lingkungan sosial, hingga krisis kepercayaan diri yang mendalam akibat rasa bersalah yang keliru, di mana anak merasa bertanggung jawab atas konflik kedua orang tuanya.

Proses pemulihan trauma ini membutuhkan intervensi psikologis yang intensif, seperti terapi trauma, guna memutus rantai dampak negatif dan mengembalikan kesejahteraan mental anak.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menjadi The Real Orang Tua Sebagai Guru Pertama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now