Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian angka pada kalender, melainkan ruang temu yang sakral antara spiritualitas Islam dan keluhuran budaya Jawa. Bagi masyarakat Kejawen, malam ini adalah waktu di mana "angkasa terbuka"—sebuah simbolisasi runtuhnya sekat antara jagat cilik (diri manusia) dan jagat gede (alam semesta).
Sebagai masyarakat Jawa yang religius, kita tidak perlu membuang tradisi leluhur untuk menjadi Muslim yang taat. Kuncinya ada pada penyelarasan niat: merawat tradisi Jawa sebagai bentuk perilaku kultural, sekaligus membingkainya dengan tauhid Islam yang murni.
1. Reinterpretasi Tirakat Melalui Filosofi "Eling lan Waspada"
Tradisi Jawa sangat kental dengan laku prihatin seperti tirakat, semedi, dan melek’an (tidak tidur semalaman) pada malam 1 Suro. Filosofi utama dari laku ini adalah "Eling lan Waspada".
- Makna Filosofi: Eling artinya manusia harus selalu ingat kepada sang Pencipta (Sangkan Paraning Dumadi) dan asal-usul dirinya. Waspada artinya kita harus jeli dan berhati-hati terhadap godaan hawa nafsu duniawi yang bisa menjerumuskan.
- Sinergi Islam: Prinsip ini sangat selaras dengan konsep muhasabah (evaluasi diri) dan taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) di bulan Muharram yang dijuluki Syahrullah (Bulannya Allah). Malam melek'an nanti malam dikonversi menjadi malam penuh dzikir, istighfar, membaca Al-Qur'an, dan shalat tahajud.
2. Filosofi Bubur Suro: Simbol Keselamatan dan Sedekah
Salah satu tradisi yang paling melekat adalah pembuatan Bubur Suro, yaitu bubur beras dengan berbagai ubapeja (lauk-pauk) yang dibagikan kepada tetangga.
- Makna Filosofi: Bubur Suro adalah simbol sukur (syukur) dan pengingat sejarah Islam, yang secara kultural dikaitkan dengan rasa syukur Nabi Nuh AS saat kapalnya berlabuh dengan selamat setelah banjir besar. Komponen yang beraneka ragam di atas bubur menyimbolkan persatuan dan harmoni sosial di tengah perbedaan.
- Sinergi Islam: Dalam syariat Islam, bulan Muharram adalah waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan menyantuni sesama. Membagikan Bubur Suro nanti malam diniatkan murni sebagai sedekah dan rasa syukur atas nikmat umur panjang yang diberikan oleh Allah SWT.
3. Memaknai Jamasan Pusaka sebagai Pembersihan Batin
Ritual membersihkan keris (jamasan) atau menyaksikan kirab pusaka adalah warisan sejarah Islam Kejawen yang bernilai tinggi.
- Merawat Sejarah: Menjamasi keris adalah wujud menghormati hasil karya leluhur. Keris dirawat agar tidak berkarat, sebagaimana hati manusia yang harus dibersihkan dari kotoran batin (iri, dengki, takabur) menjelang tahun baru.
- Menjaga Akidah: Kita menikmati keindahan tradisinya, namun hati kita tetap teguh meyakini bahwa berkah, nasib baik, dan perlindungan dari marabahaya (sengkala) mutlak hanya datang dari Gusti Allah SWT, bukan dari tuah sebilah besi.
Donga Slametan (Doa Selamat) Jawa Kromo Inggil
Sebagai penutup ritual tirakatan nanti malam, berikut adalah donga slametan yang biasa dilantunkan bersama untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT:
"Bismillahirrohmanirrohim. Gusti Allah Ingkang Maha Agung, wonten ing kalodhangan dalu 1 Suro punika, kawula nyuwun dumateng Paduka, mugi-mugi tansah pinaringan kesalasan, kawilujengan, lan karaharjan lahir batos. Mugi dipun tebihaken saking sedoyo sambekolo, sengkolo, lan pacoben gesang wonten ing taun enggal punika. Nyuwun berkah rejeki ingkang kathah tur halal, sarta pitedah sae supados saget dados manungso ingkang eling lan waspada. Amin ya Rabbal 'Alamin."
(Artinya: Ya Allah Yang Maha Agung, di kesempatan malam 1 Suro ini, kami memohon kepada-Mu, semoga selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan Kesejahteraan lahir batin. Semoga dijauhkan dari segala marabahaya, kesialan, dan cobaan hidup di tahun baru ini. Mohon berkah rezeki yang banyak dan halal, serta petunjuk baik agar bisa menjadi manusia yang ingat dan waspada. Amin).
Kesimpulan: Harmoni Lahir dan Batin
Islam Kejawen mengajarkan kita untuk tidak menjadi manusia yang tercerabut dari akar budayanya. Menjelang malam 1 Suro nanti malam, mari kita jalani tradisi ini dengan prinsip: Raga dan budaya kita tetap Jawa, namun jiwa dan tauhid kita sepenuhnya Islam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?