MOJOKERTO – Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Jawa. Momentum sakral ini menjadi ruang perenungan diri, penyucian batin, serta penyelarasan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Bagi masyarakat Islam Kejawen dan penghayat budaya, momen ini menandai runtuhnya sekat antara jagat cilik (diri manusia) dan jagat gede (alam semesta) yang dikenal sebagai simbol "angkasa terbuka".
Memasuki Tahun Jawa 1960 atau Tahun Be dalam siklus Windu Sancaya, Malam 1 Suro tahun ini jatuh pada Selasa Wage malam Rabu Kliwon, bertepatan dengan 16–17 Juni 2026. Peringatan sakral tersebut digelar khidmat di Padepokan Sambung Roso Mojopahit, Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Rangkaian acara budaya dan spiritual ini menjadi wujud nyata pelestarian tradisi leluhur yang selaras dengan nilai keislaman.
Pesan Ki Suryo Alam: Laku Eling lan Waspada
Pendiri Padepokan Sambung Roso Mojopahit, Ki Suryo Alam, menegaskan bahwa Malam 1 Suro adalah malam yang keramat dan penuh perenungan. Beliau mengajak masyarakat untuk kembali memperkuat fondasi spiritualitas melalui introspeksi diri.
"Malam 1 Suro ini adalah momentum besar untuk kita melakukan laku Eling lan Waspada. Kita harus selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa dan senantiasa waspada terhadap setiap jengkal perilaku serta tutur kata diri sendiri. Ini bukan sekadar perayaan, melainkan saatnya manusia berkaca pada apa yang telah diperbuat di masa lalu demi menyongsong masa depan yang lebih bersih," ujar Ki Suryo Alam.
Ruwat Sukerto Massal: Simbol Penyucian Lahir Batin
Salah satu agenda utama yang menyedot perhatian masyarakat adalah prosesi Ruwat Sukerto atau Siram Jamas Tujuh Sumber Air. Acara ini digelar secara massal tanpa dipungut biaya di Paseban Padepokan Sambung Roso Mojopahit, dimulai tepat pukul 00.00 WIB atau saat lingsir wengi.
Dalam pemaknaan budaya Jawa, Ruwat Sukerto bukan sekadar membersihkan jasad fisik. Prosesi ini merupakan simbolisasi pelepasan sesuker—segala kotoran lahir dan batin yang melekat pada diri manusia, mulai dari sifat buruk, beban pikiran, hingga energi negatif. Melalui ruwatan ini, warga berharap dapat menjalani kehidupan baru dengan lebih baik, terhindar dari kesialan, dan memperoleh keselamatan. Namun demikian, ritual ini tetap ditempatkan dalam perspektif tauhid Islam, di mana segala bentuk perlindungan dan rezeki diyakini mutlak berasal dari Allah SWT.
Tradisi Bubur Suro dan Jamasan Pusaka
Kemeriahan dan kehangatan sosial juga tampak sejak sore hari melalui tradisi pembuatan Bubur Suro. Bubur beras dengan aneka lauk-pauk ini dibagikan kepada tetangga sekitar sebagai simbol syukur atas nikmat umur panjang serta wujud sedekah di bulan Muharram. Tradisi ini juga lekat dengan kisah penyelamatan Nabi Nuh AS dari banjir besar, yang kemudian dirayakan warga lewat acara jagong bareng untuk mempererat tali silaturahmi.
Selain urusan sosial dan spiritual diri, padepokan juga menggelar jamasan pusaka berupa pembersihan keris dan benda warisan leluhur. Secara simbolis, proses menggosok karat dari bilah besi keris ini dianalogikan sebagai upaya manusia mengikis penyakit hati seperti iri, dengki, dan kesombongan.
Melalui perayaan Mangesti Malam 1 Suro 2026 ini, Padepokan Sambung Roso Mojopahit berhasil membuktikan bahwa budaya Jawa dapat terus lestari sebagai identitas kultural tanpa harus mengikis akidah Islam yang menjadi fondasi utama kehidupan religius masyarakat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?