Banner Iklan

Ketua PW RMI Jawa Timur Gus Hakim Tanggapi Pernyataan Sikap PC RMI Pamekasan, Termasuk Soal Kasus Asusila

Anis Hidayatie
13 Juni 2026 | 21.51 WIB Last Updated 2026-06-13T14:52:02Z

 


Ketua PC RMI Kraksaan Gus Hilmi, Ketua PW RMI KH. Abdul Hakim Hidayat atau Gus Hakim, Sekjen PW RMI H. Ahmad Najib, M.Th.I 

PROBOLINGGO | JATIMSATUNEWS.COM:  Komitmen mewujudkan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan berintegritas terus diperkuat. Hal itu tercermin dalam Seminar “Pesantren Aman & Amanah” yang dirangkaikan dengan Sosialisasi Beasiswa Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2026, yang diselenggarakan oleh RMI PWNU Jawa Timur bekerja sama dengan LPPD Provinsi Jawa Timur di Pondok Pesantren Nurul Qodim, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Dr. H. M. Noor Harisuddin, S.Ag., SH., M.Fil.I., CLA., CWC, Prof. Dr. KH. Abdul Halim Subahar selaku Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur, R. Hari Chandra Noviyanto, SE., MM dari DP3AK Provinsi Jawa Timur, serta Kombes Pol. Gatot Soegeng S., SH yang memberikan materi terkait pencegahan narkoba dan perlindungan santri.

Seminar ini mengangkat sejumlah isu strategis, mulai dari penguatan tata kelola pesantren yang aman dan amanah, perlindungan santri, pencegahan penyalahgunaan narkoba, hingga sosialisasi program beasiswa bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pada kesempatan tersebut Ketua PC RMI Kraksaan Gus Hilmi juga menyampaikan Keprihatinan atas rumor asusila sehingga menyampaikan pernyataan sikap, diantaranya: 

1. RMI PCNU Kraksaan berkomitmen menjaga marwah Kyai, Ulama, Pondok Pesantren dan Lembaga Pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Ulama sebagai pusat pendidikan, dakwah, pembinaan akhlak dan penguatan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

2. RMI PCNU Kraksaan mendukung penuh langkah aparat penegak hukum dalam menindak tegas segala macam bentuk perbuatan asusila, kekerasan seksual, kekerasan fisik dan penyalahgunaan agama maupun lembaga pesantren oleh siapapun sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

3. Menegaskan bahwa perbuatan tercela oleh oknum tertentu tidak dapat digeneralisasi sebagai wajah Pesantren, Ulama, maupun Nahdlatul Ulama secara keseluruhan dan menghimbau kepada semua pesantren untuk melakukan muhasabah dan evaluasi diri secara menyeluruh.

4. Mendorong pesantren dan lembaga keagamaan memperkuat tata kelola, pengawasan internal, perlindungan santri serta pembinaan akhlakul karimah, untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan bermartabat.

5. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menggunakan media sosial dan ruang publik secara bijaksana, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi serta mengedepankan etika, persatuan dan kemaslahatan bersama. Ans

Menyepakati, Ketua RMI PWNU Jawa Timur, Gus Hakim, menyampaikan keprihatinannya terhadap berbagai rumor maupun isu asusila yang belakangan menyeret nama lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pesantren harus tetap menjadi ruang pendidikan yang aman dan dipercaya masyarakat.

Menurutnya, seminar ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman seluruh elemen pesantren mengenai tantangan yang dihadapi dunia pesantren saat ini sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga marwah pesantren.

“Apapun situasi yang terjadi, teman-teman RMI Jawa Timur berusaha menjalankan amanah yang dibebankan kepada kami untuk terus bergerak bersama pondok pesantren. Kami hadir untuk menyambung silaturahmi sekaligus menguatkan program-program yang bermanfaat bagi santri dan pesantren,” ujarnya.

Gus Hakim juga menekankan pentingnya pemanfaatan program beasiswa yang disediakan LPPD Jawa Timur. Menurutnya, sebagai lembaga yang fokus pada pengembangan pesantren dan pendidikan diniyah, keberadaan program tersebut harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh kalangan pesantren.

“Program ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga pesantren di Jawa Timur. Ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya bagi warga Nahdlatul Ulama yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” katanya.

Ketua RMI PWNU Jawa Timur Gus Hakim menegaskan bahwa setiap kejadian yang muncul di tengah masyarakat harus menjadi bahan evaluasi dan perbaikan bersama.

Ia mengakui bahwa berbagai persoalan sosial dapat terjadi di mana saja. Namun sebagai pengelola lembaga pendidikan berbasis pesantren, pihaknya memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk terus menjaga kepercayaan masyarakat.

“Pesantren memiliki tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri. Kami ingin memastikan bahwa perlindungan terhadap santri menjadi perhatian utama. Gerakan Pesantren Aman dan Amanah ini akan terus digaungkan di seluruh Jawa Timur,” tegasnya.

Menurut Gus Hakim, implementasi program tersebut nantinya akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah, mengingat setiap kabupaten dan kota memiliki tantangan yang berbeda.

Meski demikian, secara umum seluruh pesantren di bawah naungan RMI diharapkan memiliki komitmen yang sama dalam membangun sistem perlindungan santri dan menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, serta kondusif.

Pada sesi sosialisasi, Sekretaris Jenderal Gus Najib menjelaskan bahwa program Beasiswa LPPD Provinsi Jawa Timur 2026 dirancang untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi para santri.

Menurutnya, mayoritas santri berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah sehingga keberadaan beasiswa menjadi sangat penting untuk membantu mereka melanjutkan pendidikan.

“Program ini sangat membantu santri-santri di Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Probolinggo. Karena itu kami berharap informasi ini dapat disampaikan seluas-luasnya kepada para santri agar tidak ada yang kehilangan kesempatan memperoleh bantuan pendidikan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa santri memiliki potensi dan kemampuan yang sama dengan pelajar lainnya. Oleh sebab itu, kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi harus terbuka secara adil dan merata.

“Jangan sampai program ini terlewatkan. Kita ingin memberikan kesempatan yang sama kepada para santri untuk menikmati pendidikan yang lebih tinggi dan mengembangkan potensi mereka secara maksimal,” katanya.

Melalui seminar ini, RMI PWNU Jawa Timur dan LPPD Provinsi Jawa Timur berharap lahir penguatan komitmen bersama dalam menjaga pesantren sebagai pusat pendidikan karakter, keilmuan, dan pembentukan akhlak generasi muda.

Selain menjadi forum silaturahmi para kiai, pengasuh pesantren, dan pengurus RMI, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai perlindungan santri, pencegahan narkoba, serta perluasan akses pendidikan melalui program beasiswa.

Dengan semangat “Pesantren Aman dan Amanah”, seluruh elemen pesantren diharapkan terus berbenah, memperkuat tata kelola kelembagaan, dan memastikan setiap santri memperoleh lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta mendukung lahirnya generasi penerus bangsa yang berkarakter, berilmu, dan berdaya saing.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ketua PW RMI Jawa Timur Gus Hakim Tanggapi Pernyataan Sikap PC RMI Pamekasan, Termasuk Soal Kasus Asusila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now