Banner Iklan

Doktor MPI UIN Malang Lahirkan Model IKAD, Inovasi Pengembangan Karier Dosen Menuju Program Studi Unggul Berstandar LAMDIK

M. Kholilur Rohman
26 Juni 2026 | 13.59 WIB Last Updated 2026-06-26T06:59:11Z

Foto: Dokumentasi bersama dewan penguji

MALANG | JATIMSATUNEWS. COM - Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menorehkan kontribusi akademik melalui lahirnya inovasi keilmuan di bidang Manajemen Pendidikan Islam. Dalam Ujian Promosi Doktor Program Studi Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam (MPI), yang berlangsung di gedung SBY lantai IV pada Kamis (25) kemarin. 

Dr. Shobihatul Fitroh Noviyanti berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Pengembangan Karier Dosen Program Studi Unggul Standar LAMDIK pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan: Studi Multisitus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Sunan Ampel Surabaya."

Ujian promosi doktor tersebut bukan sekadar menandai keberhasilan promovendus meraih gelar doktor, tetapi juga melahirkan sebuah model konseptual baru yang diberi nama Model IKAD (Integratif Karier Akademik Dosen). Model ini menjadi salah satu kontribusi ilmiah dalam pengembangan Manajemen Pendidikan Islam, khususnya pada bidang pengelolaan sumber daya manusia pendidikan tinggi.

Penelitian ini berangkat dari realitas bahwa tuntutan akreditasi LAMDIK saat ini semakin menempatkan dosen sebagai faktor strategis dalam menentukan mutu program studi. Program studi unggul tidak lagi cukup ditopang oleh kelengkapan dokumen administrasi ataupun sarana prasarana, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas karier akademik dosen, produktivitas tridharma, budaya akademik, serta kemampuan institusi membangun sistem pengembangan dosen yang berkelanjutan.

Melalui penelitian kualitatif dengan desain multisitus di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Sunan Ampel Surabaya, Shobihatul menemukan bahwa keberhasilan pengembangan karier dosen merupakan hasil sinergi berbagai komponen. Roadmap pengembangan dosen, kepemimpinan akademik, budaya mutu, sistem penjaminan mutu, teknologi informasi, jejaring kolaborasi, serta monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan menjadi faktor utama yang memperkuat kualitas akademik dosen.

Di sisi lain, penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih dihadapi perguruan tinggi, antara lain tingginya beban tridharma, tuntutan publikasi ilmiah bereputasi, keterbatasan waktu akademik, serta cepatnya perubahan teknologi yang menuntut dosen terus meningkatkan kompetensinya.

Berangkat dari sintesis berbagai temuan empiris tersebut, lahirlah Model IKAD sebagai model pengembangan karier dosen berbasis IPOO (Input–Process–Output–Outcome). Model ini menempatkan roadmap pengembangan dosen sebagai fondasi utama, kemudian diimplementasikan melalui penguatan tridharma perguruan tinggi, peningkatan kompetensi dan produktivitas akademik dosen, hingga menghasilkan mutu program studi unggul dan reputasi institusi yang berkelanjutan.

Model IKAD menawarkan paradigma baru bahwa pengembangan karier dosen bukan sekadar proses administratif untuk kenaikan jabatan fungsional atau kepangkatan, melainkan sebuah sistem manajemen akademik yang mampu mendorong transformasi mutu perguruan tinggi secara menyeluruh. Semakin baik sistem pengembangan karier dosen, semakin besar peluang program studi mencapai keunggulan akademik dan mempertahankan akreditasi unggul.

Dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam, model ini memperkuat pemahaman bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan inti keberhasilan lembaga pendidikan. Dosen diposisikan sebagai human capital sekaligus intellectual capital yang menentukan keberhasilan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan reputasi kelembagaan.

Lebih jauh, Model IKAD juga memiliki landasan filosofis dan nilai-nilai Islam. Pengembangan karier dosen dipandang sebagai bagian dari amanah untuk terus meningkatkan kualitas ilmu dan kemanfaatan bagi umat. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujādilah: 11).

Ayat tersebut menegaskan bahwa peningkatan kompetensi akademik merupakan bagian dari ibadah, sekaligus tanggung jawab moral seorang pendidik dalam membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan.

Ketua Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, hasil penelitian ini memiliki kontribusi yang sangat strategis bagi pengembangan perguruan tinggi.

"Model IKAD menunjukkan bahwa kualitas dosen merupakan faktor utama dalam membangun program studi unggul. Temuan ini dapat menjadi referensi bagi PTKIN maupun perguruan tinggi lainnya dalam merancang sistem pengembangan karier dosen yang adaptif terhadap perubahan kebijakan akreditasi nasional maupun internasional. Penelitian ini juga memperkaya khazanah keilmuan Manajemen Pendidikan Islam melalui lahirnya model baru yang aplikatif dan berkelanjutan."

Model IKAD diharapkan tidak hanya menjadi kontribusi akademik pada tingkat disertasi doktor, tetapi juga menjadi acuan praktis bagi perguruan tinggi dalam membangun kebijakan pengembangan dosen yang lebih terarah, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan. Dengan demikian, dosen tidak lagi dipandang sebagai pelaksana tridharma semata, melainkan sebagai aktor utama yang menentukan daya saing, reputasi, dan keberlanjutan program studi unggul di era transformasi pendidikan tinggi.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Doktor MPI UIN Malang Lahirkan Model IKAD, Inovasi Pengembangan Karier Dosen Menuju Program Studi Unggul Berstandar LAMDIK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now