Forum yang juga dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko itu awalnya berlangsung sebagai ruang dialog terbuka yang membahas berbagai isu kebangsaan dan pembangunan.
Namun suasana berubah ketika sejumlah peserta menyampaikan protes di tengah jalannya diskusi. Situasi yang semakin memanas membuat aparat keamanan dan petugas protokoler melakukan langkah pengamanan terhadap para narasumber.
Menanggapi berbagai video yang beredar di media sosial, Sudaryono menegaskan bahwa dirinya bersama para pejabat lainnya hadir dengan tujuan membuka ruang dialog dan mendengarkan aspirasi mahasiswa.
Menurutnya, kondisi di dalam forum menjadi tidak kondusif setelah terjadi teriakan dari massa, pelemparan air, hingga desakan dari kerumunan peserta. Sudaryono bahkan mengaku sempat mengalami kontak fisik saat situasi berlangsung.
“Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar,” ujar Sudaryono saat menjelaskan kronologi evakuasi dari lokasi forum.
Ia menjelaskan bahwa keputusan meninggalkan area kegiatan dilakukan atas pertimbangan keamanan setelah mendapatkan rekomendasi dari petugas yang berjaga di lokasi. Karena kondisi yang terus memanas, para narasumber kemudian diarahkan keluar dari gedung untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Meski demikian, Sudaryono membantah anggapan yang berkembang di media sosial bahwa dirinya bersama narasumber lain meninggalkan lokasi untuk menghindari mahasiswa. Menurutnya, setelah keluar dari area gedung, dirinya tetap berupaya menemui mahasiswa yang ingin berdialog.
“Kalau ada yang mengatakan kami kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” tegasnya.
Sudaryono mengatakan dialog tetap berlangsung secara langsung di luar lokasi kegiatan. Dalam kesempatan tersebut, sejumlah aspirasi mahasiswa terkait persoalan agraria, pembangunan, dan berbagai isu publik lainnya tetap didengarkan serta menjadi bahan masukan bagi pemerintah.
Ia menilai perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati. Karena itu, ruang diskusi antara pemerintah dan mahasiswa perlu terus dijaga sebagai sarana pertukaran gagasan dan penyampaian aspirasi masyarakat.
Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada peserta yang tidak dapat mengikuti jalannya diskusi secara utuh akibat situasi yang berkembang di lapangan. Menurutnya, tujuan utama kegiatan tersebut adalah membangun dialog yang konstruktif serta mendengarkan berbagai pandangan yang berkembang di kalangan mahasiswa.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu dinamika dalam ruang demokrasi kampus yang mempertemukan mahasiswa dengan para pemangku kebijakan. Meski sempat diwarnai ketegangan, dialog dan penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi yang sehat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?