Kampus Harus Jadi Arena Adu Gagasan, Bukan Ruang Intimidasi
PASURUAN| JATIMSATUNEWS.COM: Kebebasan berpikir, berdialog, dan menyampaikan kritik merupakan ruh utama dunia akademik. Karena itu, kampus harus tetap menjadi ruang adu gagasan yang sehat, bukan arena tekanan maupun intimidasi terhadap perbedaan pendapat.
Pernyataan tersebut disampaikan Koordinator Aliansi BEM Pasuruan Raya, Muhammad Ubaidillah Abdi, menanggapi berbagai dinamika yang berkembang di lingkungan perguruan tinggi, baik terkait penyampaian aspirasi mahasiswa maupun kebebasan berpendapat di internal kampus, Selasa 16 Juni 2026.
Menurut Ubaidillah yang juga merupakan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan, kampus sejatinya dibangun sebagai ruang dialog yang mengedepankan argumentasi dan pemikiran kritis. Oleh karena itu, setiap kritik yang disampaikan mahasiswa harus dipandang sebagai bagian dari proses akademik yang sehat.
"Kampus adalah ruang dialog. Kritik harus berbasis argumentasi dan data, bukan dibungkam ataupun dihadapi dengan tekanan. Perbedaan pandangan tidak perlu berujung pada intimidasi karena diskusi jauh lebih kuat daripada kekerasan," tegasnya.
Ia menyoroti adanya sumbatan aspirasi yang kerap dihadapi mahasiswa di tingkat daerah. Menurutnya, tidak sedikit persoalan yang telah diperjuangkan mahasiswa melalui berbagai forum audiensi, namun belum memperoleh penyelesaian yang memadai.
"Di Pasuruan dengan embel-embel kota santri, mahasiswa itu jangan cuma sekadar sami'na wa atho'na (mendengar dan taat), melainkan sami'na wa analisa (mendengar dan menganalisa). Mahasiswa harus tetap kritis, mampu membaca persoalan, dan berani menyampaikan solusi," ujarnya.
Lebih lanjut, Ubaidillah mengangkat persoalan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) yang hingga kini masih menjadi perhatian mahasiswa. Ia menyebut adanya indikasi keterlibatan oknum di lingkungan perguruan tinggi yang menyebabkan berbagai persoalan terkait program tersebut belum menemukan titik terang, meski telah dibawa melalui tahapan audiensi hingga ke tingkat DPR RI.
Menurutnya, penyelesaian berbagai persoalan pendidikan membutuhkan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Kampus, pemerintah, dan mahasiswa harus membangun komunikasi yang terbuka sehingga setiap aspirasi dapat ditindaklanjuti secara konstruktif.
"Mahasiswa tidak sedang mencari konflik. Yang kami perjuangkan adalah ruang dialog yang sehat dan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat maupun dunia pendidikan. Marwah akademik harus dijaga bersama," katanya.
Ia menegaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan akademik. Justru dari perbedaan itulah lahir gagasan-gagasan baru yang dapat menjadi dasar perbaikan kebijakan publik maupun tata kelola pendidikan.
Aliansi BEM Pasuruan Raya berharap seluruh elemen kampus dapat terus menjaga iklim akademik yang demokratis, menjunjung tinggi kebebasan berpikir, serta mengedepankan argumentasi ilmiah dalam setiap perdebatan. Dengan demikian, kampus dapat tetap menjalankan fungsinya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus ruang lahirnya agen-agen perubahan yang kritis dan solutif.
Pesan yang ingin ditegaskan adalah bahwa kampus harus menjadi tempat bertemunya ide dan pemikiran, bukan arena saling menekan. Dialog yang terbuka, kritik yang argumentatif, dan penghormatan terhadap perbedaan merupakan fondasi utama untuk menjaga marwah akademik dan memperkuat demokrasi di lingkungan perguruan tinggi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?