“Ruang Antara” lahir dari ruang-ruang yang sering kali tak disadari keberadaannya, di antara tawa dan luka, jarak dan pelukan, hingga antara rasa ingin menyerah dan keputusan untuk tetap bertahan. Semua fase itu menjadi potongan cerita yang menyatukan mereka hingga hari ini.
Perjalanan panjang tersebut dituangkan ke dalam 16 lagu yang menjadi simbol usia dan perjalanan musikal mereka. Beberapa karya lama dihidupkan kembali dengan aransemen dan rasa yang lebih matang, seperti Cinta Semu, Biarkan Cinta Memilih, Tetap Tersenyum, I Can’t Be Perfect, hingga Arti Kehidupan. Lagu-lagu itu hadir dengan napas baru tanpa kehilangan kejujuran emosional yang menjadi ciri khas mereka sejak awal.
Tak hanya bernostalgia, Rival Sekota juga memperlihatkan sisi eksploratif melalui lagu-lagu baru seperti Kehidupan Yang Lain, It’s Not For You, Kayutangan Kelingan, Cerita Kita, hingga Futari No Ai. Deretan lagu tersebut menjadi bukti bahwa mereka masih terus berkembang, terus mencari suara baru, dan terus bercerita.
Album ini menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini, refleksi kedewasaan musikal yang membawa mereka melangkah lebih luas lewat sentuhan lirik berbahasa Inggris dan Jepang, tanpa meninggalkan akar kuat mereka sebagai band indie rock alternatif.
Di balik perjalanan panjang itu, Rival Sekota juga dikenal sebagai band yang digawangi enam personel yang mungkin tak lagi muda, namun tetap memiliki semangat, energi, dan jiwa bermusik yang hangat serta segar. Formasi tersebut terdiri dari Galih Kharismawan (vokal), Djani Abimanyu (keyboard), Ofan Tjahyono (drum), Affand (gitar), Diyo Ilham (gitar), dan Catur Ahmad (bass).
Menariknya, di luar dunia musik mereka juga menjalani profesi dan kesibukan yang berbeda-beda. Galih berkarier di perusahaan BUMN, Djani aktif sebagai pemilik usaha distribusi, branding, dan marketing, Ofan bertugas di satuan keamanan BUMN, Affand menjalankan bisnis sebagai pengusaha, Diyo berprofesi sebagai currency analyst, sementara Catur dikenal sebagai pengajar di sekolah negeri.
Meski disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, mereka tetap menjaga api kreativitas untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik bagi para penikmat musik mereka, yang akrab dikenal dengan sebutan “para rival”.
Namun perjalanan mereka tidak berhenti di “Ruang Antara”.
Setelah sukses merilis 16 lagu dalam album tersebut, Rival Sekota kini tengah menyiapkan album kedua bertajuk “Kolaborasa”. Sebuah proyek ambisius yang akan mempertemukan mereka dengan sejumlah musisi dan nama besar di industri musik Indonesia.
Dalam proyek ini, mereka membuka ruang kolaborasi bersama Nomaden (Band Indie Malang), sekaligus menyimpan harapan besar untuk dapat bekerja sama dengan Anji (Eks Drive) di lagu “Karena Lelaki Boleh Bercerita”. Lagu tersebut terinspirasi dari tragedi bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan yang beberapa kali terjadi di Kota Malang, membawa pesan tentang pentingnya ruang bagi laki-laki untuk bercerita dan mengungkapkan perasaan.
Selain itu, mereka juga berharap dapat menghadirkan kolaborasi emosional bersama Momo (Eks Geisha) dalam lagu “Selepas Hujan Turun”, bersama Pia (Eks Utopia) di lagu “Membencimu Sampai Mati”, hingga menggandeng Eka Gustiwana (Weird Genius) untuk single elektronik emosional bertajuk “When The Last Light Is Gone”.
Melalui “Kolaborasa”, Rival Sekota ingin menghadirkan sesuatu yang lebih luas dari sekadar album, mereka ingin membangun pertemuan rasa, perspektif, dan warna musik dari berbagai karakter musisi.
Bagi para penikmat musik indie dan alternatif, karya-karya Rival Sekota sudah dapat didengarkan melalui platform SoundCloud. Informasi terbaru serta perjalanan mereka juga bisa diikuti melalui Instagram dan TikTok dengan akun @rivalsekotaofficial.
“Ruang Antara” mungkin menjadi ruang untuk mengenang perjalanan. Namun “Kolaborasa” adalah langkah baru untuk membuka kemungkinan yang lebih besar.
**red/Dnh



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?