![]() |
| Kisah inspiratif dari jejak panjang Djoko Winahyu dalam menjaga denyut informasi Malang Raya, mengarungi era telepon koin hingga media digital./dok. Istimewa |
SAPA TOKOH | JATIMSATUNEWS.COM:
Ketika televisi masih menjadi barang mewah dan siaran dikuasai TVRI serta TPI, radio adalah nyawa informasi masyarakat Malang Raya.
Mulai dari pedagang pasar di Pasar Besar hingga sopir angkot yang siaga (ngetem) di Arjosari, semua menempelkan telinga pada frekuensi KDS 8 FM.
Tiap pagi hingga malam, suara penyiar mengabarkan kecelakaan di Soekarno-Hatta, macet di Jalan Borobudur, hingga rapat penting di Balai Kota.
Program Malang Hari Ini, Malang Melintang, dan Lintas Pagi jadi rutinitas wajib warga. Di balik suara-suara cepat dan lugas itu, ada satu nama yang nyaris tak pernah lepas dari UGD RSSA dan kamar mayat yakni Djoko Winahyu.
Kini di usia 61 tahun, Djoko masih duduk di kursi Direktur Malangpariwara.com. Tapi jalannya ke sana dimulai dari telepon koin, gaji Rp 50 ribu per bulan, dan panggilan pager tengah malam.
Masuk Dunia Jurnalistik karena Satu Kalimat: Siap, Bisa!
Perjalanan Djoko di dunia jurnalistik tidak dimulai dari bangku kuliah jurnalistik. Ia merupakan lulusan SMA yang kala itu bekerja di bidang marketing, bahkan belum tahu apa itu reportage.
Titik balik datang dari Sapto Pratolo, penyiar senior KDS 8 FM. "Coba jadi reporter," kata Sapto kala itu. Tanpa pengalaman, Djoko nekat melamar.
Tes di hadapan Kepala Bagian Siar KDS 8, Darsono Soendro, terasa mencekam. Pertanyaan tentang siaran dan jurnalistik datang bertubi-tubi. Jawaban Djoko hanya satu, "Siap, bisa!"
Selama seminggu ia dikurung di ruang siar. Belajar humming voice, teknik vokal radio, hingga siaran pandangan mata. Di situlah naluri jurnalistiknya bangkit.
"Setiap melihat sesuatu di depan mata, saya spontan merangkai kata-kata jadi informasi," kenangnya dalam proses terjun di bidang jurnalistik. Pada 1995, Djoko resmi menjadi reporter KDS 8 FM.
Zaman Telepon Koin dan Pager: Reporter Tanpa Waktu Istirahat
Dekade 90-an, reporter radio bekerja di dunia tanpa WhatsApp, tanpa ponsel, tanpa internet. Kalau ada kecelakaan, Djoko harus lari cari gardu telepon umum koin untuk siaran langsung ke studio.
Lokasi favoritnya waktu itu adalah UGD dan kamar mayat RSSA Malang. Dari sanalah informasi kecelakaan, kriminalitas, dan kejadian darurat mengalir ke telinga warga Malang Raya.
Kepuasan itu nyata baginya. "Kadang baru setengah jam selesai siaran, keluarga korban sudah datang ke rumah sakit karena mendengar KDS," kenangnya lagi.
Rutinitas Djoko pun sangat padat. Mulai pukul 07.00 pagi hingga 18.00 sore, pulang sebentar, lalu kembali bertugas sampai tengah malam.
Saat pukul 24.00 pun pernah dipanggil petugas kamar mayat lewat pager karena ada mayat tanpa identitas. Lalu terkadang ada orang tenggelam, korban laka kereta api yang sudah tidak utuh bagian tubuhnya, hingga penemuan mayat sudah menjadi rutinitas pekerjaannya.
Tanpa kata malas, takut atau jijik, Djoko berangkat. Mendata ciri-ciri korban untuk disiarkan agar keluarga cepat menemukan.
Gajinya saat itu Rp 50 ribu per bulan. Jika dikonversi ke dolar AS saat itu senilai 22-23 dolar yang jika dikonversikan lagi ke nilai rupiah hari ini (15/5/2026) setara Rp 387-405 ribu.
"Capek iya, tapi rasanya senang karena bisa membantu orang," ungkap Djoko yang bangga mengenang perjuangannya merintis sebagai reporter.
Seiring waktu, KDS 8 bekerja sama dengan rumah sakit. HT radio menjadi alat wajib. Sandi panggilannya '082'. Melalui frekuensi itu, Djoko mengabarkan stok darah PMI, berita kehilangan, hingga informasi layanan masyarakat setiap hari.
Meliput Era 'Ninja' dan Menolak Sensor Aparat
Masa paling mencekam datang ketika Malang dilanda teror pembunuhan misterius yang dikenal sebagai kasus 'ninja'. Guru ngaji dan warga dituduh menjadi target. Banyak korban ditemukan mengenaskan.
Djoko hampir tak pulang. Setiap hari ia meliput TKP, membantu warga mencari keluarga di kamar mayat.
Satu peristiwa paling membekas baginya adalah ketika seorang nenek meninggal tertabrak truk aparat. Identitas tak diketahui karena tasnya hilang. Ketika Djoko menyiarkan, aparat datang ke kantor KDS dan meminta berita tidak disiarkan lengkap.
Panggilan hatinya tak takut intervensi, Djoko pun tetap menayangkan.
Keesokan harinya, seorang tukang becak datang membawa tas korban. Isinya lengkap yaitu identitas, buku tabungan, dan uang. "Ia mengaku takut setelah dengar siaran KDS," beber Djoko.
Peristiwa itu menjadi bukti bahwa radio bisa menyentuh masyarakat langsung, bahkan menyelamatkan kebenaran.
Dari Radio ke TV Lokal, Lalu Bangun Media Sendiri
![]() |
| Kartu pers Djoko Winahyu, pendiri Malang Pariwara./dok. Istimewa |
Perjalanan Djoko berlanjut saat KDS mendirikan MalangTV. Ia menjadi reporter lapangan yang ikut merintis televisi lokal dari nol. Dalam satu waktu, ia bekerja untuk radio KDS-8 FM dan MalangTV sekaligus.
Namun, perubahan zaman tak bisa ditolak. Pada 2016, manajemen KDS merumahkan karyawan karena perusahaan pailit. Reportage khas KDS 8 yang menjadi denyut informasi Malang Raya perlahan menghilang. MalangTV juga bubar.
Djoko tak berhenti. Ia sudah lulus Uji Kompetensi Wartawan Madya pada 2013, saat Dewan Pers dipimpin Prof. Dr. Bagir Manan. Ia juga tercatat sebagai anggota PWI dan pengurus PWI Malang Raya selama 3 periode.
Setelah keluar dari KDS, ia tetap menulis untuk berbagai media. Hingga akhirnya mendirikan Malangpariwara.com di bawah PT Agbi Naya Pariwara.
Jurnalis Tak Pernah Mati
Bagi Djoko Winahyu, jurnalistik bukan profesi. Ini jalan hidup yang membentuk cara pandang, keberanian, dan pengabdiannya kepada publik.
Dari telepon koin di pinggir jalan, HT di saku, hingga era media digital hari ini, ia tetap di jalur yang sama yaitu menyampaikan informasi.
"Saya punya dua anak perempuan dan 4 cucu. Hingga usia 61 tahun saya masih tetap semangat bekerja sebagai Direktur Malangpariwara sekaligus jurnalis. Jurnalis tak pernah mati," tegasnya.
***
Editor: YAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?