Banner Iklan

Rekonstruksi Makna “Sukses” dalam Kacamata Bersyukur di Lingkungan Masyarakat

Anis Hidayatie
11 April 2026 | 12.12 WIB Last Updated 2026-04-11T05:12:39Z

 


Rekonstruksi Makna “Sukses” dalam Kacamata Bersyukur di Lingkungan Masyarakat

Oleh : Muhammad Zahrudin Afnan (Guru Biologi SMA Nation Star Academy Surabaya dan Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UNESA)

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Di tengah hiruk-pikuk masyarakat yang semakin gemar memamerkan capaian, kita sedang hidup dalam zaman ketika makna sukses mengalami penyempitan yang diam-diam berbahaya. Gelar, jabatan, saldo rekening, kendaraan baru, dan simbol kemewahan lainnya telah berubah menjadi semacam “mata uang sosial” yang menentukan nilai seseorang di mata publik. Ironisnya, semakin banyak orang mengejar standar itu semakin sedikit yang benar-benar merasa tenang. Kita diajarkan untuk berlomba menjadi lebih kaya, lebih tinggi, lebih terlihat, tetapi jarang diajak bertanya: apakah semua itu sungguh membawa kepenuhan hidup? Dalam perlombaan tanpa garis akhir ini, manusia sering lupa bahwa sukses sejatinya bukan hanya soal memiliki lebih banyak, melainkan juga tentang memahami kapan hidup telah cukup, kapan hati mampu bersyukur, dan kapan kebahagiaan tidak lagi bergantung pada pengakuan orang lain.

Ketika Sukses Diukur dari Angka, Kita Kehilangan Manusia

Ketika ucapan selamat lebih sering diberikan kepada orang yang membeli mobil baru daripada kepada orang yang berhasil tidur nyenyak tanpa cemas, kita patut curiga: jangan-jangan definisi “sukses” yang kita warisi memang sedang sakit. Hari ini, sukses nyaris selalu dibayangkan dalam bentuk yang sama—rekening bertambah, rumah membesar, jabatan meninggi, dan pengakuan sosial meluas. Seolah-olah hidup manusia hanya lembar laporan keuangan yang harus menunjukkan grafik naik setiap tahun.

Masyarakat modern telah menjadikan sukses sebagai arena perlombaan tanpa garis akhir. Anak-anak ditanya ingin jadi apa agar bisa kaya. Mahasiswa dipaksa memilih jurusan yang “menjamin masa depan”. Orang dewasa bekerja melebihi batas tubuhnya demi mengejar angka yang terus bergerak. Bahkan media sosial memperparah keadaan: sukses dipertontonkan sebagai citra visual—foto liburan, kendaraan mewah, kopi mahal, dan ruang kerja estetik. Kita hidup dalam budaya yang memuja kemewahan, tetapi lupa menanyakan: apakah semua itu sungguh membuat manusia cukup? Masalahnya bukan pada kekayaan itu sendiri. Kekayaan adalah alat, bukan dosa. Yang bermasalah adalah ketika kekayaan dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan manusia. Masyarakat mulai kehilangan kepekaan terhadap bentuk-bentuk sukses lain: hidup sederhana tetapi damai, bekerja secukupnya tetapi bahagia, atau memilih waktu bersama keluarga daripada lembur demi bonus tahunan.

Filsafat ekonomi modern sering bergerak di bawah asumsi keliru bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas. Dari asumsi ini lahir sistem yang memproduksi hasrat tanpa henti. Kita dibuat merasa selalu kurang. Ponsel tahun lalu dianggap usang, rumah sederhana dianggap gagal, pekerjaan stabil dianggap tidak ambisius. Akibatnya, manusia tidak lagi hidup untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk mengejar citra sukses yang diciptakan pasar. jika ditelusuri lebih dalam, banyak krisis psikologis modern berakar dari definisi sukses yang terlalu sempit. Burnout, kecemasan kronis, depresi karena perbandingan sosial semuanya tumbuh dari keyakinan bahwa hidup harus terus naik, tak boleh stagnan, tak boleh biasa-biasa saja. Kita lupa bahwa menjadi “cukup” bukan kegagalan. Kadang justru di sanalah kebijaksanaan dimulai. Kita perlu memindahkan pusat gravitasi sukses: dari akumulasi menuju kecukupan, dari gengsi menuju makna, dari ambisi tanpa akhir menuju rasa syukur yang sadar batas.

Filosofis Ekonomi Cukup

Manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia memiliki, melainkan dari kemampuannya mengenali batas kebutuhan menurut filosofis ekonomi cukup. Konsep ini bukan romantisme kemiskinan, melainkan kritik terhadap kerakusan yang dilembagakan. Ekonomi cukup mengajarkan bahwa kesejahteraan sejati lahir bukan dari kelimpahan tak terbatas, melainkan dari kemampuan berkata: “Ini sudah cukup.”

Gagasan ini memiliki akar panjang dalam tradisi filsafat Timur maupun Barat. Aristoteles pernah membedakan antara ekonomi rumah tangga yang bertujuan memenuhi kebutuhan hidup dan khrematistik aktivitas menumpuk kekayaan demi kekayaan itu sendiri. Yang pertama sehat, yang kedua patologis. Dalam tradisi Jawa, kita mengenal falsafah nrimo ing pandum yang sering disalahpahami sebagai pasrah pasif, padahal makna terdalamnya adalah kesadaran etis untuk menerima secukupnya tanpa diperbudak nafsu memiliki. Ekonomi cukup menolak logika kapitalisme ekstrem yang menganggap pertumbuhan tanpa batas sebagai tanda keberhasilan. Sebab pertumbuhan tanpa batas dalam dunia yang terbatas adalah absurditas. Bumi punya sumber daya terbatas, tubuh manusia punya energi terbatas, umur manusia pun terbatas. Maka mengejar pertumbuhan material tanpa henti sesungguhnya adalah proyek bunuh diri kolektif yang dibungkus slogan motivasi.

Lihatlah bagaimana masyarakat urban bekerja hari ini. Banyak orang berangkat pagi pulang malam, kehilangan waktu bersama anak, kehilangan kesehatan, kehilangan relasi intim, demi apa? Demi cicilan rumah yang lebih besar dari kebutuhan nyata. Demi gengsi lingkungan. Demi standar sukses yang bahkan tidak mereka tetapkan sendiri. Mereka bekerja bukan lagi untuk hidup, tetapi hidup untuk bekerja. Ekonomi cukup menawarkan jalan lain: keseimbangan. Bekerja secukupnya agar hidup bermakna. Mengonsumsi seperlunya agar tidak diperbudak benda. Menabung seperlunya tanpa kehilangan kenikmatan hari ini. Dalam kerangka ini, sukses bukan siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling merdeka dari rasa kurang. Ekonomi cukup memulihkan otonomi manusia dari pasar. Ia mengembalikan keputusan hidup ke tangan individu, bukan algoritma iklan. Ia mengajarkan bahwa nilai hidup tak bisa disamakan dengan nilai tukar.

Bersyukur Sebagai Tindakan Filosofis, Bukan Sekadar Ucapan Religius

Dalam kehidupan sehari-hari, kata “syukur” sering kali berhenti hanya sebagai ungkapan verbal yang diucapkan secara otomatis—“alhamdulillah”, “puji Tuhan”, atau “untung masih diberi rezeki”—tanpa pernah sungguh-sungguh dihayati sebagai cara pandang hidup. Syukur diperlakukan seperti etika sopan santun spiritual: diucapkan saat mendapat promosi, ketika membeli barang baru, atau setelah menerima keberuntungan. Namun jarang dipahami sebagai fondasi kesadaran yang mengubah cara manusia memandang dirinya, orang lain, dan dunia. Padahal, dalam dimensi filsafat hidup, syukur bukan sekadar respons terhadap keberhasilan, melainkan sikap eksistensial yang menentukan bagaimana seseorang menempatkan dirinya di tengah godaan hasrat tanpa batas. Syukur adalah cara manusia berdamai dengan realitas, mengenali batas kebutuhan, dan menolak diperbudak oleh rasa kurang yang terus diproduksi oleh budaya konsumsi.

Dalam masyarakat modern yang dibangun di atas logika kompetisi dan perbandingan, syukur sesungguhnya adalah tindakan yang revolusioner. Mengapa revolusioner? Karena ia menentang arus utama sistem sosial yang terus-menerus menanamkan rasa tidak puas. Iklan, media sosial, industri hiburan, bahkan budaya kerja hari ini hidup dari satu mesin yang sama: menciptakan ketidakcukupan. Kita dibuat merasa kurang cantik jika tidak membeli produk tertentu, kurang sukses jika belum memiliki kendaraan mewah, kurang bernilai jika belum mencapai standar hidup orang lain. Dalam situasi seperti ini, rasa syukur menjadi bentuk perlawanan diam-diam terhadap sistem yang memaksa manusia terus merasa kurang. Ketika seseorang berkata dengan sadar, “Apa yang saya miliki hari ini sudah bernilai,” ia sedang meruntuhkan logika pasar yang menjadikan ketidakpuasan sebagai bahan bakar utama konsumsi.

Rasa syukur juga penting dipahami sebagai pembebasan dari tirani perbandingan. Salah satu sumber penderitaan terbesar manusia modern adalah kebiasaan membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Media sosial memperparah kecenderungan ini dengan menghadirkan panggung tanpa henti tempat orang memamerkan versi terbaik hidup mereka: liburan mewah, rumah baru, pencapaian karier, tubuh ideal, hingga relasi yang tampak sempurna. Tanpa disadari, seseorang mulai mengukur nilai dirinya berdasarkan kehidupan orang lain yang bahkan belum tentu nyata sepenuhnya. Dari sinilah lahir iri hati, kecemasan, rasa tertinggal, bahkan kebencian terhadap diri sendiri. Syukur mematahkan rantai ini, karena orang yang bersyukur berhenti menjadikan hidup orang lain sebagai cermin utama bagi harga dirinya. Ia belajar memandang hidup dari dalam, bukan dari sorotan eksternal. Ia sadar bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki lebih banyak, tetapi oleh siapa yang mampu menghargai apa yang sudah ada.

Namun syukur bukan berarti mematikan ambisi atau menolak cita-cita. Inilah salah satu kesalahpahaman terbesar dalam memaknai syukur. Banyak orang mengira bahwa bersyukur berarti pasrah, berhenti berjuang, dan menerima keadaan tanpa upaya perubahan. Padahal syukur justru adalah landasan bagi ambisi yang sehat. Orang yang bersyukur tetap boleh bercita-cita tinggi, membangun usaha besar, mengejar pendidikan terbaik, atau meraih keberhasilan ekonomi. Bedanya, ia tidak menjadikan pencapaian itu sebagai sumber tunggal harga dirinya. Ia mengejar impian bukan karena merasa dirinya kurang berharga, melainkan karena ingin mengembangkan potensi hidupnya secara bermakna. 

Syukur juga menjadi koreksi moral terhadap budaya kerakusan. Dunia hari ini mengajarkan manusia untuk terus menambah: lebih banyak uang, lebih besar rumah, lebih tinggi jabatan, lebih luas pengaruh. Tidak ada titik selesai dalam logika ini. Setelah rumah pertama, muncul keinginan rumah kedua; setelah kendaraan satu, ingin kendaraan yang lebih mahal; setelah satu jabatan diraih, muncul obsesi berikutnya. Kerakusan bekerja dengan menipu manusia bahwa kebahagiaan selalu berada satu langkah di depan. Syukur mematahkan ilusi itu dengan mengajarkan bahwa keberlimpahan bukan semata soal kuantitas kepemilikan, tetapi kualitas kesadaran dalam menikmati yang telah dimiliki. Seseorang bisa hidup dalam rumah sederhana tetapi merasa kaya karena penuh cinta, sementara orang lain tinggal di rumah megah namun terus merasa miskin karena tak pernah puas.

Syukur adalah bentuk kedewasaan eksistensial: kemampuan menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai skenario keinginan. Orang yang bersyukur memahami bahwa kegagalan tidak otomatis menghapus makna hidupnya. Ia tidak runtuh hanya karena gagal membeli rumah kedua, gagal naik jabatan tahun ini, atau belum mencapai standar material tertentu. Ia menyadari bahwa martabat manusia tidak identik dengan pencapaian eksternal. Nilai dirinya tidak bergantung pada benda yang dimiliki, tetapi pada cara ia menjalani hidup dengan integritas, kasih, dan kebijaksanaan. Kesadaran inilah yang membuat syukur menjadi sumber ketenangan batin yang tidak mudah diguncang oleh fluktuasi nasib.

Dunia yang semakin bising oleh perlombaan status sosial, syukur adalah seni hidup yang makin langka tetapi justru makin penting. Ia mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perbandingan, menoleh ke dalam diri, lalu menyadari bahwa sering kali yang paling berharga justru sudah ada di dekat kita: kesehatan, keluarga, waktu, relasi yang tulus, dan kemampuan menikmati hidup tanpa terus-menerus merasa kurang. Syukur bukan sikap pasif terhadap kehidupan, melainkan cara aktif memulihkan kemanusiaan dari kerakusan zaman. Ia bukan tanda menyerah, tetapi bentuk kemenangan paling sunyi: kemenangan atas nafsu yang tak pernah tahu batas.

Syukur adalah bentuk pembangkangan. Iklan bekerja dengan membuat kita merasa kurang. Media sosial bekerja dengan membuat kita iri. Sistem ekonomi bekerja dengan membuat kita terus membeli. Maka ketika seseorang berkata, “Saya cukup,” ia sedang menolak tunduk pada mekanisme konsumsi massal. Filsuf Stoik seperti Epictetus mengajarkan bahwa kebahagiaan lahir dari menginginkan apa yang sudah kita miliki, bukan terus mengejar apa yang belum ada. Dalam tradisi sufistik, syukur adalah maqam spiritual yang membuat manusia tidak diperbudak oleh kehilangan maupun kelimpahan. Orang yang bersyukur tidak mabuk ketika mendapat, tidak runtuh ketika kehilangan.

Bayangkan jika rasa syukur benar-benar menjadi fondasi ekonomi sosial kita. Mungkin kita tidak akan melihat pesta konsumsi berlebihan di tengah tetangga yang kelaparan. Mungkin orang tua tidak memaksakan anak masuk profesi tertentu hanya demi prestise keluarga. Mungkin generasi muda tidak merasa gagal hanya karena di usia 25 belum punya mobil. Syukur juga menyehatkan demokrasi sosial. Sebab masyarakat yang tidak terobsesi menimbun cenderung lebih adil dalam distribusi. Ketika manusia berhenti mengambil berlebihan, ruang bagi sesama terbuka lebih luas. Maka bersyukur bukan hanya etika personal, tetapi juga tindakan politik yang mengurangi kerakusan struktural.

Membebaskan Sukses dari Penjara Materialisme

Kita perlu keberanian untuk mendefinisikan ulang sukses secara lebih manusiawi. Sukses bisa berarti seorang guru di desa yang mengajar dengan dedikasi meski gajinya kecil. Sukses bisa berarti petani yang hidup tenang tanpa utang. Sukses bisa berarti ibu rumah tangga yang membesarkan anak-anak penuh cinta. Sukses bahkan bisa berarti seseorang yang memilih hidup sederhana agar punya cukup waktu merawat orang tuanya. Mengapa bentuk-bentuk sukses seperti itu jarang dirayakan? Karena masyarakat kita terlalu lama memuja yang terlihat. Materialisme bekerja dengan logika visual: yang besar tampak lebih berhasil daripada yang sederhana. Kita lupa bahwa ketenangan batin tidak bisa dipamerkan dalam unggahan Instagram.

Rekonstruksi makna sukses tidak mungkin lahir begitu saja dari ceramah motivasi atau slogan inspiratif; ia harus dimulai dari ruang paling awal tempat manusia belajar mengenali dirinya: pendidikan. Sekolah selama ini terlalu sering menjadi pabrik pencetak prestasi yang mengukur keberhasilan dengan angka rapor, ranking kelas, gelar akademik, dan capaian kompetitif lainnya. Anak-anak dibiasakan memahami bahwa mereka bernilai jika menang lomba, masuk universitas ternama, atau kelak bekerja di profesi yang dianggap elite secara sosial. Akibatnya, sejak kecil mereka tumbuh dalam keyakinan keliru bahwa hidup adalah perlombaan hierarkis, bukan perjalanan menemukan makna diri. Pendidikan yang sehat seharusnya menanamkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki jalan keberhasilan yang berbeda: seorang petani yang menjaga sawahnya dengan jujur, seorang guru honorer yang tekun mencerdaskan desa, atau seorang perawat yang merawat pasien dengan kasih, sama berharganya dengan direktur perusahaan multinasional. Anak-anak perlu dikenalkan bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh label profesi, melainkan oleh integritas, manfaat, dan cara ia menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab.

Sistem pendidikan kita juga harus berhenti memelihara budaya perbandingan yang berlebihan. Ketika nilai anak terus dibandingkan, bakatnya diseragamkan, dan cita-citanya diarahkan hanya pada profesi-profesi “bergengsi”, kita sedang mencabut hak mereka untuk tumbuh sesuai potensi autentiknya. Tidak semua anak lahir untuk menjadi pengusaha sukses, dokter terkenal, atau eksekutif perusahaan. Ada yang berbakat menjadi seniman, pengrajin, petani inovatif, penulis, atau pekerja sosial profesi-profesi yang sering dipandang sebelah mata hanya karena tidak identik dengan kekayaan material. Rekonstruksi sukses menuntut pendidikan yang memberi ruang pada keragaman jalan hidup, bukan memaksa semua orang berlari di lintasan yang sama.

Media massa dan media sosial memiliki peran besar dalam membentuk imajinasi kolektif tentang apa itu sukses. Hari ini, media terlalu sering menjual narasi tunggal: sukses adalah muda, kaya, populer, sibuk, dan penuh pencapaian visual. Kita dijejali kisah “30 under 30”, miliarder muda, selebritas digital dengan rumah mewah, dan konten motivasi yang mengagungkan produktivitas tanpa jeda. Jarang sekali media menampilkan bahwa hidup sederhana tetapi damai juga merupakan keberhasilan. Jarang diberitakan tentang seseorang yang memilih tinggal di desa untuk membangun komunitas, atau pekerja biasa yang hidup cukup, sehat mental, dan bahagia bersama keluarganya. Akibat dominasi narasi tunggal ini, lahirlah generasi yang merasa gagal hanya karena hidup mereka tampak biasa. Mereka merasa tertinggal karena membandingkan proses hidup nyata dengan panggung pencitraan yang dikurasi algoritma.

Narasi “harus sukses sebelum usia 30” adalah salah satu mitos paling merusak dalam budaya modern. Ia menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa pada generasi muda, seolah usia adalah tenggat mutlak pencapaian. Padahal hidup manusia tidak berjalan dalam satu jadwal universal. Ada yang menemukan panggilan hidupnya di usia 20, ada pula yang baru menemukan makna sejatinya di usia 50. Ketika media terus mengulang standar usia sebagai ukuran keberhasilan, masyarakat tanpa sadar menginternalisasi kecemasan kolektif: takut terlambat, takut kalah cepat, takut terlihat biasa. Inilah sebabnya mengapa banyak anak muda hari ini mengalami krisis identitas bukan karena mereka gagal hidup, tetapi karena mereka dipaksa hidup dengan standar waktu orang lain.

Membebaskan sukses dari penjara materialisme memerlukan revolusi cara pandang bersama. Pendidikan harus menumbuhkan manusia yang mengenal dirinya, bukan hanya mengejar validasi luar. Media harus memberi ruang bagi kisah-kisah hidup yang lebih beragam, lebih manusiawi, dan lebih jujur. Kita perlu membangun masyarakat yang mampu berkata kepada generasi mudanya: tidak apa-apa berjalan pelan, tidak apa-apa hidup sederhana, tidak semua keberhasilan harus gemerlap. Sebab pada akhirnya, hidup yang bermakna bukanlah hidup yang paling banyak dipuji, melainkan hidup yang paling selaras dengan nilai batin dan rasa syukur yang dimiliki seseorang.

Kita sebagai individu harus berani keluar dari hipnosis sosial. Berani mengatakan bahwa hidup sederhana bukan aib. Bahwa tidak semua impian harus berupa akumulasi benda. Bahwa rumah kecil yang penuh tawa lebih sukses daripada mansion yang dipenuhi kecemasan. Sukses sejati adalah keadaan ketika manusia tidak lagi diperbudak oleh definisi orang lain. Ketika ia mampu hidup sesuai ukuran batinnya sendiri. Ketika ia tahu kapan harus mengejar, kapan harus berhenti, dan kapan harus berkata: saya sudah cukup. Sebab barangkali kegagalan terbesar manusia modern bukan karena ia miskin harta, melainkan karena ia tak pernah merasa kaya dalam rasa syukur. Dan masyarakat yang tak pernah merasa cukup akan terus lapar, bahkan di tengah meja makan yang penuh.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rekonstruksi Makna “Sukses” dalam Kacamata Bersyukur di Lingkungan Masyarakat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now