Banner Iklan

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Admin JSN
26 Mei 2026 | 22.03 WIB Last Updated 2026-05-26T15:04:07Z
Artikel opini Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern karya M. Abdul Hamid./dok.istimewa

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Di zaman modern, istilah 'kerja sama' sering kali terdengar indah dan menjanjikan. Hampir semua sektor kehidupan menjadikannya sebagai kata kunci kemajuan.

Dunia bisnis membutuhkan kolaborasi. Pemerintahan membutuhkan sinergi. Perguruan tinggi berlomba membangun jejaring kemitraan. Bahkan dalam kehidupan sosial, kerja sama dipandang sebagai jalan tercepat mencapai tujuan bersama.

Namun, di balik semua itu, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: apakah semua bentuk kerja sama selalu benar dan layak diterima? Pertanyaan inilah yang sejatinya dijawab secara sangat mendalam melalui kisah agung Nabi Ibrahim AS.

Kisah yang selama ini sering dipahami sebatas narasi pengorbanan ternyata menyimpan pelajaran besar tentang integritas moral, keteguhan prinsip, dan keberanian menolak ajakan menyimpang, meskipun dibungkus dengan logika yang tampak rasional.

Dalam Surat As-Saffat ayat 102, Allah SWT mengabadikan dialog monumental antara Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS: "Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu."

Mimpi para nabi adalah wahyu. Maka perintah itu bukan sekadar bunga tidur, melainkan amanah ilahiah yang harus dilaksanakan. Akan tetapi, Nabi Ibrahim tetap manusia. Beliau adalah seorang ayah yang memiliki cinta, rasa takut, dan gejolak kemanusiaan.

Membayangkan harus mengorbankan anak yang sangat dicintai tentu bukan perkara mudah. Di situlah letak kemuliaan Nabi Ibrahim AS, beliau tidak mendahulukan emosi pribadi di atas ketaatan kepada Allah SWT.

Lebih menakjubkan adalah respons Nabi Ismail AS: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Dialog ini bukan hanya percakapan antara ayah dan anak. Ini adalah percakapan antara iman dan kepatuhan. Antara cinta dunia dan ketundukan total kepada Tuhan. Namun perjalanan spiritual Nabi Ibrahim tidak berhenti di sana.

Dalam perjalanan menuju tempat penyembelihan, iblis datang menggoda. Ia mencoba memengaruhi Nabi Ibrahim agar membatalkan niatnya. Godaan itu tentu tidak hadir dengan wajah menyeramkan sebagaimana dalam imajinasi sebagian orang. Iblis hadir dengan logika, keraguan, dan rayuan yang tampak masuk akal.

Bukankah terlalu kejam mengorbankan anak sendiri? Bukankah masih ada cara lain? Bukankah cinta seorang ayah seharusnya lebih utama?

Di sinilah sesungguhnya iblis bekerja: bukan selalu melalui keburukan yang tampak jelas, tetapi melalui pembenaran-pembenaran yang perlahan menggoyahkan integritas. Godaan iblis kepada Nabi Ibrahim pada hakikatnya adalah sebuah ajakan kolaborasi. Sebuah tawaran untuk bersama-sama menyimpang dari perintah Allah SWT. Namun Nabi Ibrahim menolak dengan tegas.

Beliau melempari iblis dengan batu sebanyak tujuh kali. Peristiwa itulah yang kemudian diabadikan dalam salah satu rangkaian ibadah haji, yaitu lempar jumrah.

Prosesi jumrah bukan sekadar ritual simbolik melempar batu. Ia adalah deklarasi abadi bahwa seorang mukmin harus berani menolak segala bentuk ajakan yang menyesatkan, meskipun tampak logis, menguntungkan, atau dibungkus dengan bahasa yang meyakinkan. Lempar jumrah adalah simbol perlawanan terhadap kompromi moral.

Sayangnya, dalam kehidupan modern, banyak orang justru gagal membaca pesan besar dari kisah ini. Kita hidup di era ketika pelanggaran sering kali disamarkan menjadi 'strategi'.

Penyimpangan dibungkus dengan istilah 'fleksibilitas'. Pelanggaran etika diberi nama 'jalan cepat'. Bahkan tidak sedikit kerja sama yang secara hukum bermasalah, tetapi tetap dijalankan karena dianggap menguntungkan secara finansial atau politis.

Di titik inilah refleksi terhadap Nabi Ibrahim menjadi sangat relevan. Tidak semua tawaran kerja sama harus diterima. Tidak semua sinergi membawa kebaikan. Tidak semua kolaborasi menghasilkan keberkahan.

Ada kerja sama yang justru menghancurkan integritas. Ada kemitraan yang perlahan menyeret seseorang pada pelanggaran hukum dan pengkhianatan moral. Ada pula kolaborasi yang tampak menguntungkan di awal, tetapi menyimpan kehancuran jangka panjang.

Ironisnya, banyak kehancuran besar bermula dari satu kompromi kecil. Awalnya hanya toleransi kecil terhadap pelanggaran. Awalnya hanya 'sekadar membantu'. Awalnya hanya 'ikut arus'. Namun dari situlah integritas runtuh sedikit demi sedikit.

Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa ketika sesuatu jelas bertentangan dengan aturan Allah SWT, hukum, norma, dan etika, maka sikap yang benar bukanlah mencari pembenaran, melainkan menolaknya secara tegas. Kadang-kadang, keberanian terbesar bukanlah menerima kerja sama, melainkan menolak kerja sama.

Dalam konteks kepemimpinan modern, pelajaran ini menjadi semakin penting. Seorang pemimpin sering kali dihadapkan pada banyak tawaran yang tampak sangat menggiurkan. Ada janji keuntungan besar, akses kekuasaan, kemudahan birokrasi, hingga dukungan politik atau finansial.

Semua tampak rasional. Semua tampak menguntungkan. Namun seorang pemimpin sejati tidak boleh hanya menggunakan logika untung-rugi. Ia harus menggunakan kompas moral.

Prinsip kehati-hatian atau prudence menjadi sangat penting. Setiap keputusan harus diuji bukan hanya dari sisi manfaat pragmatis, tetapi juga dari sisi legalitas, etika, dan dampak jangka panjang.

Sebab sejarah menunjukkan bahwa banyak institusi besar runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kehilangan integritas. Ketika integritas dikorbankan demi keuntungan sesaat, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu. Hal ini sangat relevan bagi dunia perguruan tinggi.

Hari ini, kampus didorong untuk semakin terbuka terhadap kerja sama eksternal. Kolaborasi internasional, kemitraan industri, jejaring kelembagaan, hingga proyek riset bersama menjadi bagian penting dalam pengembangan institusi. Tidak ada yang salah dengan itu.

Bahkan kerja sama dapat menjadi motor kemajuan perguruan tinggi. Ia dapat membuka akses sumber daya, memperluas jaringan akademik, meningkatkan kualitas penelitian, dan memperkuat reputasi institusi. 

Namun di balik peluang besar itu, ada risiko yang tidak kecil. Perguruan tinggi harus tetap waspada agar tidak terjebak dalam kerja sama yang justru mencederai marwah akademik. Sebab kampus bukan sekadar institusi administratif. Kampus adalah penjaga moralitas intelektual.

Ketika perguruan tinggi mulai menghalalkan segala cara demi keuntungan, maka yang hancur bukan hanya nama institusi, tetapi juga masa depan generasi muda. Kerja sama yang salah dapat mencemarkan nama baik institusi. Ia dapat menjerumuskan dosen dan peneliti pada konflik kepentingan. Ia dapat merusak independensi akademik.

Lebih jauh lagi, ia dapat merugikan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Karena itu, selektivitas dalam membangun kerja sama bukanlah bentuk anti-kolaborasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral.

Perguruan tinggi harus memiliki keberanian seperti Nabi Ibrahim, yaitu berani mengatakan 'tidak' terhadap tawaran yang bertentangan dengan nilai, etika, dan aturan.

Dalam banyak kasus, godaan terbesar justru datang ketika sebuah tawaran tampak sangat menguntungkan. Di situlah integritas diuji. Sebab integritas sejati tidak diuji saat keadaan sulit, tetapi ketika seseorang memiliki peluang besar untuk melanggar dan tetap memilih jalan yang benar.

Nabi Ibrahim telah menunjukkan teladan itu. Beliau tidak bernegosiasi dengan iblis. Beliau tidak mencari kompromi. Beliau tidak berkata, "Mari kita cari jalan tengah." Yang beliau lakukan adalah menolak dengan tegas. Melempar. Mengusir. Menjauhkan diri dari segala bentuk penyimpangan.

Pesan ini sangat penting di tengah budaya permisif zaman sekarang. Kita hidup di era ketika orang sering takut dianggap tidak fleksibel jika menolak sesuatu yang salah. Banyak orang akhirnya memilih diam demi menjaga relasi, jabatan, atau keuntungan pribadi. Padahal diam terhadap penyimpangan sering kali adalah awal dari keterlibatan.

Karena itu, refleksi kisah Nabi Ibrahim sejatinya mengajarkan keberanian moral. Keberanian untuk berkata benar. Keberanian untuk menolak. Keberanian untuk menjaga integritas meskipun harus kehilangan peluang tertentu. Sebab tidak semua keuntungan membawa keberkahan. Ada keuntungan yang justru menjadi awal kehancuran.

Sebaliknya, ada penolakan yang tampak merugikan dalam jangka pendek, tetapi menyelamatkan kehormatan dan masa depan dalam jangka panjang. Nabi Ibrahim membuktikan bahwa ketundukan kepada Allah SWT tidak pernah berakhir dengan kerugian.

Ketika beliau lulus dalam ujian keimanan itu, Allah SWT justru mengganti Nabi Ismail dengan sembelihan yang lebih baik dan mengangkat Nabi Ibrahim sebagai teladan sepanjang zaman.

Ini menunjukkan bahwa menjaga integritas mungkin terasa berat, tetapi hasilnya selalu mulia. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang sebenarnya sedang menghadapi 'iblis-iblis' modern. Bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa berupa suap, manipulasi data, penyalahgunaan jabatan, konflik kepentingan, kerja sama ilegal, hingga kompromi terhadap etika.

Semua datang dengan bahasa yang meyakinkan. Semua menawarkan keuntungan. Namun pertanyaannya sederhana, apakah itu benar?

Jika jawabannya tidak, maka sikap seorang mukmin seharusnya jelas, menolak. Bukan menunda. Bukan mencari celah. Bukan mencoba berkompromi. Tetapi menolak dengan tegas. Sebagaimana Nabi Ibrahim melempar iblis.

Pada akhirnya, kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa iman bukan hanya soal ritual spiritual, tetapi juga keberanian moral dalam mengambil keputusan. Keimanan sejati tercermin dari kemampuan menjaga prinsip di tengah godaan.

Integritas sejati terlihat dari keberanian menolak sesuatu yang salah meskipun tampak menguntungkan. Dan, kepemimpinan sejati lahir dari keteguhan menempatkan aturan Allah SWT, hukum, serta etika di atas kepentingan sesaat.

Di tengah dunia yang semakin permisif terhadap kompromi moral, keteladanan Nabi Ibrahim adalah cahaya yang terus relevan. Bahwa tidak semua kerja sama harus diterima. Bahwa tidak semua ajakan layak diikuti. Dan bahwa terkadang, tindakan paling benar adalah melempar 'iblis' sejauh-jauhnya dari kehidupan kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh M. Abdul Hamid, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now