
Puasa ke-17: Puasa dan Etika Kekuasaan, Belajar dari 17 Ranadhan, Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif
KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Tanggal 17 Ramadhan hari ini mengingatkan saya pada satu peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu Battle of Badr. Peristiwa ini bukan sekadar cerita kemenangan militer pertama umat Islam, tetapi sebenarnya pelajaran tentang etika kekuasaan. Badar terjadi ketika umat Islam berada dalam kondisi lemah, jumlah sedikit, perlengkapan terbatas, dan sebagian sedang menjalani puasa. Namun justru di tengah keterbatasan itulah lahir pelajaran besar tentang bagaimana kekuatan seharusnya dijalankan. Al-Qur’an menggambarkan peristiwa itu dalam ayat:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ التَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (الأنفال: 41).
Ayat ini menyebut “يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ التَقَى الْجَمْعَانِ” — hari pembeda antara yang benar dan yang batil, hari bertemunya dua pasukan. Para ulama menafsirkan bahwa ayat ini merujuk pada peristiwa Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan. Pada momentum yang sama, umat Islam juga mengingat turunnya Al-Qur’an kepada Muhammad, yang menjadi petunjuk bagi manusia dan cahaya yang membimbing kehidupan.
Di sinilah Ramadhan memiliki makna yang sangat dalam. Al-Qur’an yang turun pada tanggal 17 Ramadhan bukan hanya kitab hukum atau kitab bacaan ritual, tetapi cahaya bagi hati manusia. Ketika dunia terasa bising oleh konflik, perebutan kekuasaan, dan pertarungan kepentingan, Al-Qur’an justru hadir sebagai penenang jiwa. Karena itu para ulama selalu menganjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an, semakin halus hatinya dan semakin tajam nuraninya. Hati yang diasah oleh Al-Qur’an akan lebih peka membedakan, mana kekuatan dan kekuasaan yang adil dan mana kekuatan dan kekuasaan yang zalim.
Yang menarik dari Badar ini bukan hanya kemenangan itu sendiri, tetapi cara kekuasaan dijalankan setelah kemenangan. Rasulullah saw tidak menjadikan kemenangan sebagai alat balas dendam. Para tawanan diperlakukan secara manusiawi. Sebagian bahkan dibebaskan dengan syarat mengajarkan baca tulis kepada masyarakat Madinah. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kekuatan dan kekuasaan tidak boleh dilepaskan dari kontrol moral dan keadilan.
Pelajaran ini terasa sangat relevan ketika kita melihat dunia hari ini. Politik global sering menunjukkan bahwa kekuasaan berjalan tanpa rem moral. Negara kuat bisa saja menggunakan kekuatan militer, tekanan ekonomi, atau propaganda untuk menundukkan pihak lain. Dalam berbagai konflik internasional, kita melihat bagaimana sebuah negara yang diserang merasa harus mempertahankan diri demi menjaga kedaulatan dan martabat bangsanya. Dalam situasi seperti itu, yang sering menjadi masalah bukan sekadar perang itu sendiri, tetapi bagaimana kekuatan digunakan, apakah untuk mempertahankan keadilan atau untuk memperluas dominasi?
Di sinilah puasa Ramadhan memberi dimensi yang sangat penting. Puasa melatih manusia untuk menahan diri, bahkan ketika ia memiliki kemampuan untuk bertindak. Orang yang lapar belajar sabar. Orang yang haus belajar mengendalikan diri. Latihan batin ini sebenarnya membangun fondasi etika yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan politik, kekuatan dan kekuasaan tanpa pengendalian diri adalah bahaya bagi kemanusiaan.
Perang Badar menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal siapa yang menang di medan konflik, tetapi siapa yang tetap menjaga moral ketika memiliki kekuatan dan kekuasaan. Ramadhan datang setiap tahun seolah mengingatkan bahwa kekuasaan, baik pada tingkat individu, masyarakat, lembaga apalagi lembaga pendidikan, maupun negara, harus selalu berada di bawah kendali nilai kemanusiaan dan keadilan. Dan salah satu cara paling sederhana untuk merawat kendali itu adalah kembali kepada Al-Qur’an, membacanya, merenungkannya, dan membiarkan ayat-ayatnya mengasah hati kita.
Karena itu puasa ke-17 kali ini serasa bukan sekedar mengenang sejarah. Ia mengajak kita merenung lebih dalam, di dunia yang penuh persaingan kekuatan hari ini, apakah manusia masih mampu menempatkan moral di atas kekuasaan? Jika puasa benar-benar membentuk jiwa kita, maka jawabannya seharusnya tampak dari hati yang semakin tenang, pikiran yang semakin jernih, berusaha menyelesaikan masalah bukan menyebarluaskan masalah, dan sikap yang semakin adil kepada sesama manusia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?