Puasa ke-14: Puasa yang Tidak Terasa oleh Tetangga — Dari Solidaritas Lokal ke Kepekaan Global, Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Sebagai anak bangsa Indonesia yang hidup dalam tradisi gotong royong, kita diajarkan bahwa kebaikan tidak berhenti pada diri sendiri. Namun realitas hari ini menghadirkan ironi. Dunia sedang memanas oleh ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Eskalasi militer di kawasan Timur Tengah berdampak pada stabilitas ekonomi global: harga energi naik, pasar bergejolak, dan ketidakpastian merembet ke banyak negara, termasuk Indonesia. Dampaknya tidak selalu terasa langsung dalam bentuk ledakan atau sirene perang, tetapi dalam harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, dan tekanan ekonomi masyarakat kecil.
Di tengah situasi global yang rapuh ini, pertanyaannya yang paling sederhana, apakah fungsi puasa saya hanya terasa di tubuh kita sendiri, atau juga dirasakan oleh tetangga kita, baik yang dekat secara geografis maupun yang jauh secara kemanusiaan? Apakah saya memiliki kepedulian dengan kondisi yang ada di sekitar saya dan dunia global yang berpengaruh apda kondisi lokal dan lingkungan saya? Allah memberi prinsip fundamental dalam relasi sosial:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
(QS. النحل: 90)
Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, kebaikan (ihsan), dan memberi kepada kerabat. Ayat ini tidak berbicara tentang ritual, tetapi tentang dampak sosial iman, adil, berbuat ihsan, dan memberi. Puasa yang benar seharusnya memperkuat tiga hal itu. Dalam konteks global yang panas, keadilan berarti tidak terjebak pada kebencian buta, ihsan berarti tetap menjaga kemanusiaan bahkan saat dunia terpolarisasi, memberi berarti memastikan bahwa tekanan ekonomi tidak membuat kita lupa berbagi kepada sekitar. Rasulullah saw juga memberikan standar solidaritas sosial yang lebih luas:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
(رواه البخاري ومسلم)
Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi seperti satu tubuh; jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur. Hadits ini memberikan perspektif global yang sangat relevan. Dunia hari ini terhubung seperti satu tubuh. Ketika satu kawasan terbakar konflik, kawasan lain ikut merasakan dampaknya. Jika harga minyak terguncang karena ketegangan di Timur Tengah, nelayan di Indonesia bisa terdampak biaya solar. Jika rantai pasok terganggu, pedagang kecil ikut merasakan tekanan.
Namun solidaritas yang diajarkan Nabi bukan sekadar reaksi emosional atau amarah kolektif. Ia adalah empati yang terukur dan beradab. Dalam konteks Indonesia, sebagai bangsa yang menjunjung politik bebas aktif dan nilai kemanusiaan universal, puasa seharusnya menguatkan sikap moderat, peduli tanpa provokasi, empati tanpa kebencian, kritis tanpa kehilangan akhlak.
Puasa yang tidak terasa oleh tetangga adalah puasa yang berhenti pada diri sendiri. Ia menahan makan, tetapi tidak menahan ego. Ia menahan haus, tetapi tidak menahan ujaran kebencian. Ia mengikuti berita konflik global dengan emosi, tetapi lupa bahwa di lingkungan sekitar ada pekerja harian yang kesulitan membeli beras karena harga naik.
Puasa ke-14 ini mengajak saya memperluas makna “tetangga”. Tetangga bukan hanya yang rumahnya berdempetan dengan kita, tetapi siapa pun yang terdampak oleh sistem dunia yang saling terhubung. Jika satu bagian tubuh dunia sakit, seharusnya hati kita ikut peduli, bukan sekadar bereaksi politik, tetapi bertindak kemanusiaan.
Ramadhan bukan bulan eskalasi emosi, tetapi bulan elevasi empati. Jika puasa kita melahirkan keadilan, ihsan, dan solidaritas yang nyata, baik di kampung sendiri maupun dalam kesadaran global—maka ia telah melampaui perut dan masuk ke dalam nurani.
Karena pada akhirnya, puasa yang benar bukan yang hanya terasa di tubuh kita, tetapi yang membuat dunia di sekitar kita—sekecil apa pun lingkupnya—ikut merasakan kehadiran kebaikan kita.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?