![]() |
| Ajang AVC Champions League kembali digelar di Indonesia tahun ini (2026), bagaimana sejarah dan fakta menariknya?/Instagram @indonesian_volleyball |
JAKARTA | JATIMSATUNEWS.COM - Ajang bergengsi antarklub bola voli Asia akhirnya kembali singgah di Indonesia setelah 2011, yakni AVC Champions League.
AVC Champions League 2026 akan digelar di GOR Terpadu Ahmad Yani, Pontianak, Indonesia pada 13-17 Mei 2026.
Sebelum itu, agenda pengundian babak grup dilakukan di Jakarta pada Minggu, 15 Maret 2026.
Ada dua pemain Jakarta Bhayangkara Presisi yang hadir untuk memandu sesi undian, yakni setter Alfin Daniel dan outside hitter Rendy Tamamilang.
Selain mereka juga ada pemain Timnas Voli Putri Indonesia, Megawati Hangestri Pertiwi yang ikut memandu jalannya pengundian pul tersebut.
Hasilnya, juara Proliga 2025 Jakarta Bhayangkara Presisi yang menjadi tuan rumah berada di Pul A, lalu Jakarta Garuda Jaya masuk ke Pul B.
Bagi Bhayangkara, ini adalah penampilan ketiga di AVC Champions League, lalu bagi Garuda Jaya ini adalah penampilan perdana di Champions League.
Bhayangkara sebelumnya tampil pada 2023 dan 2024 dengan hasil terbaiknya adalah menjadi finalis 2023.
Pencapaian runner-up ini membuat Bhayangkara menjadi wakil terbaik Indonesia selama tampil di AVC Champions League. Bahkan, juga menjadi tim terbaik Asia Tenggara di AVC Champions League sejak ajang ini digelar pada 1999.
Berikut ini fakta dan sejarah singkat tentang AVC Champions League.
AVC Champions League merupakan ajang bola voli Asia dari Konfederasi Bola Voli Asia (AVC) yang kategori putra diselenggarakan mulai 1999 dengan nama AVC Cup Men's Club Volleyball Tournament.
Ajang ini kembali diperbarui namanya (rebranding) menjadi Asian Men's Club Volleyball Championship pada 2004, lalu menjadi AVC Men's Volleyball Champions League mulai 2025.
Edisi perdana AVC Champions League digelar di Hefei, China. Juaranya adalah wakil tuan rumah Shicuan Fulan dengan mengalahkan Samsung Fire dari Korea Selatan. Lalu, Paykan Tehran (Iran) meraih peringkat ketiga usai mengalahkan wakil China lainnya, Chengdu Enwei.
AVC Champions League berlangsung tiap tahun dengan jumlah peserta yang berbeda. Dari hanya 6 tim (5 negara) pada edisi pertama, 8 tim pada edisi kedua, hingga 16 tim pada 2012, 2014, 2015, dan 2023.
Namun, pernah dua kali batal dihelat yakni pada 2003 di Jakarta dan 2020 di Nakhon Ratchasima Thailand karena pandemi Covid-19.
Indonesia tiga kali terpilih menjadi tuan rumah pada 2003 di Jakarta, 2011 di Palembang, dan 2026 di Pontianak. Dari tiga penunjukan tersebut, Jakarta menjadi edisi yang batal digelar.
Lalu, Palembang berhasil digelar dengan diikuti 12 tim dan dijuarai Paykan Tehran untuk gelar mereka ketujuh. Bank Sumsel Babel (BSB) yang menjadi tuan rumah finis keenam, di bawah Paykan Tehran (Iran), Almaty (Kazakhstan), Shanghai Tang Dynasty (China), Osaka Blazers Sakai (Jepang), dan Chang VC (Thailand).
Setelah 14 tahun berlalu, Indonesia kembali menjadi tuan rumah dan kali ini diikuti delapan tim termasuk tuan rumah Bhayangkara Presisi dan Jakarta Garuda Jaya.
Wakil pertama Indonesia di AVC Champions League adalah DPPK Jakarta pada edisi 2000 di Suphanburi, Thailand. Hasilnya, DPPK finis kedelapan dengan meraih 1 kemenangan pada babak penyisihan Pul B, yakni mengalahkan Ghazir dari Lebanon 3-0.
Pada babak klasifikasi, DPPK kalah 0-3 dari CSKA Kazakhstan dan dibalas oleh Ghazir 0-3.
Kemudian, pada edisi ini yang juara adalah Samsung Fire atau yang kini dikenal sebagai Daejeon Samsung Bluefangs. Hingga saat ini, mereka masih menjadi tim Korea Selatan tersukses dengan dua kali juara (2000, 2001) dan sekali runner-up (1999).
Mantan klub Ko Hee-jin --yang kini dikenal penggemar bola voli Indonesia karena melatih Daejeon Jung Kwan Jang Red Sparks, juga mengalahkan Paykan Tehran dan Suntory Sunbirds saat meraih juara tersebut.
Jika DPPK Jakarta menjadi wakil pertama Indonesia di AVC Champions League, Surabaya Samator menjadi menjadi klub Indonesia dengan penampilan terbanyak di AVC Champions League.
Hingga saat ini, Samator telah empat kali berlaga di Champions League pada 2009, 2012, 2016, dan 2019.
Saat debut, Samator finis ke-10 dari 13 tim yang berlaga di Dubai, Uni Emirat Arab. Samator kala itu finis di atas AGMK Uzbekistan, Jeunesse Bauchrieh Lebanon, dan Dhivehi Sifainge Maladewa.
Samator kembali finis ke-10 pada edisi 2012 di Shanghai, China yang diikuti 16 tim.
Dilanjut dengan finis kesembilan pada 2016 di Naypyidaw, Myanmar yang 14 tim. Posisi ini juga kembali diraih Samator pada 2019 di Taipei, Taiwan yang diikuti 14 tim. Maka sepanjang keikutsertaannya, Samator meraih hasil terbaik pada urutan kesembilan.
Sebelum Bhayangkara Presisi menjadi tim Indonesia dengan capaian terbaik di ajang ini, ada Jakarta BNI Taplus yang finis ketiga pada 2006 di Hanoi, Vietnam. Mereka mengalahkan Army VC Thailand dengan full set (3-2).
Ini membuat BNI Taplus sempat menjadi tim Asia Tenggara terbaik dengan memecahkan rekor PTT VC Thailand pada 2000 yang finis keempat.
Jakarta BNI kembali tampil pada 2010 dengan nama Jakarta BNI 46 di Zhenjiang, China, namun gagal mengulangi torehan sebelumnya. Mereka finis kesembilan dari 10 tim dengan unggul atas wakil Uzbekistan, Uzbektelecom.
Usai 17 tahun berlalu, rekor Jakarta BNI dipecahkan oleh Jakarta Bhayangkara Presisi dengan finis runner-up pada 2023 di Manama, Bahrain.
Jakarta Bhayangkara yang diperkuat Mohammad Javad Manavinejad menang 3-0 atas Canberra Heat Australia dan 3-1 atas Incheon Korean Air Jumbos (Korsel), serta kalah 2-3 dari wakil tuan rumah Al Ahli di penyisihan Pul A.
Kemenangan atas wakil Korea Selatan tersebut membuat Bhayangkara finis di puncak klasemen dengan dua kemenangan dan 7 poin, unggul 1 poin atas Incheon Jumbos.
Langkah mereka berlanjut ke babak klasifikasi untuk menentukan empat tim yang lolos ke semifinal. Hasilnya, Bhayangkara finis kedua di Pul E dengan dua kemenangan dan 6 poin. Mereka hanya kalah dari Suntory Sunbirds, tetapi menang 3-0 atas wakil Mongolia, Bayankhongor Crownd Geo.
Sebagai runner-up Pul E, Bhayangkara harus menghadapi juara Pul F, Police SC dari Qatar. Derbi Tim Polisi ini kemudian dimenangkan Bhayangkara 3-1 dengan skor per set 11-25, 29-27, 25-23, dan 25-23.
Pada final AVC Champions League 2023, Jakarta Bhayangkara harus kembali menghadapi Suntory Sunbirds. Perlawanan sengit diberikan dengan skor per set 28-26, 25-23, 23-25, dan 25-17 namun Hendra Kurniawan dan kolega terpaksa kalah 1-3 dari wakil Jepang tersebut.
Walau demikian, tiga pemain Jakarta Bhayangkara meraih penghargaan individu yakni Mohammad Javad menjadi outside hitter terbaik, Hendra Kurniawan menjadi middle blocker terbaik, dan Fahreza Rakha Abhinaya menjadi libero terbaik.
Penghargaan individu ini juga menjadi yang pertama diraih pemain dari klub Indonesia, karena saat Jakarta BNI peringkat ketiga, tidak ada satu pun pemain yang meraih penghargaan individu.
Penampilan Bhayangkara berlanjut pada edisi 2024 di Yazd, Iran yang diikuti delapan tim.
Uniknya, tim yang berpartisipasi hanya dari CAVA (Iran, Kazakhstan, dan Afghanistan), WAVA (Qatar, Irak, dan Kuwait), serta SAVA (Indonesia). Sedangkan perwakilan klub dari EAVA (Jepang, China hingga Korea Selatan) dan OZVA (Australia hingga Selandia Baru) tidak ada.
Seperti edisi sebelumnya, Bhayangkara juga kembali tergabung di pul A bersama tuan rumah Shahdab Yazd. Di pul ini Bhayangkara finis kedua dengan dua kemenangan dan 6 poin. Hanya kalah 1-3 dari Shahdab, serta menang 3-0 atas Kuwait SC dan 3-1 atas Pavlodar Kazakhstan.
Delapan tim ini semua lolos ke perempat final dengan persilangan posisi, seperti Bhayangkara yang peringkat kedua bertemu dengan Al Rayyan Qatar yang urutan ketiga di Pul B.
Hasilnya, Jean Patry dan kolega menang 3-0 dan lolos ke semifinal. Pada babak ini, Bhayangkara kalah full set dengan skor 22-25, 25-23, 25-22, 21-25, dan 14-16 dari Foolad Sirjan Iran.
Alhasil Bhayangkara harus berlaga di perebutan peringkat ketiga dengan Pavlodar, dan menang 3-0.
Pemain asing asal Prancis, Jean Patry kemudian meraih penghargaan individu sebagai opposite hitter terbaik turnamen. Ini membuat Bhayangkara kembali mempunyai pemain yang meraih penghargaan individu untuk dua edisi beruntun.
Fakta lain di AVC Champions League adalah Iran menjadi negara tersukses dengan 17 kali juara, 5 kali runner-up, dan 4 kali peringkat ketiga. Mereka juga mempunyai tujuh klub yang telah berhasil juara di ajang ini.
Paykan Tehran (Iran) menjadi klub tersukses di AVC Champions League dengan 8 kali juara, 2 kali runner-up, dan 2 kali pula peringkat ketiga.
Ada empat klub yang pernah juara dua kali yakni Samsung Fire (Korea Selatan), Shahrdari Varamin (Iran), Sarmayeh Bank Tehran (Iran), dan Foolad Sirjan (Iran).
Sejarah berikutnya adalah terdapat tujuh klub yang mewakili Indonesia di AVC Champions League, yaitu DPPK Jakarta, Jakarta BNI Taplus, Jakarta Garuda Indonesia--hanya dibentuk untuk mewakili Indonesia, Palembang Bank Sumsel Babel, Surabaya Samator, Jakarta Bhayangkara, dan Jakarta Garuda Jaya.
Indonesia masih memegang rekor sebagai wakil SAVA yang berhasil finis kedua (1x) dan ketiga (2x) meski sempat absen pada edisi 2025 di Jepang.
Adapun sejak 2025 dua tim finalis AVC Champions League berhak lolos ke FIVB Club World Championship. Artinya, jika Jakarta Bhayangkara berhasil kembali mengulangi torehan 2023, mereka akan menjadi tim Indonesia pertama yang tampil di Kejuaraan Dunia Bola Voli Antarklub. Menarik ditunggu! ***
Penulis: YAN
Baca juga: Hasil Drawing AVC Champions League 2026



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?