Banner Iklan

Cerita FLS3N 2026 dan Keberhasilan SMAN 1 Turen Juara 1 untuk Wakili Malang di Provinsi

Admin JSN
25 April 2026 | 05.30 WIB Last Updated 2026-04-24T22:30:00Z
Cerita FLS3N 2026 dan keberhasilan SMAN 1 Turen juara 1 untuk mewakili Kabupaten Malang di tingkat provinsi./dok. Istimewa

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - SMA Taruna Nusantara, yang berlokasi di Desa Gampingan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang menjadi tempat penyelenggaraan Seleksi Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten.

Ajang ini digelar pada Senin, 20 April 2026, dan menjadi wadah pertunjukan kreativitas dari ratusan siswa yang hadir dengan membawa semangat tinggi.

Berbagai cabang seni dan sastra diperlombakan, mulai dari seni tarik suara, menggambar, monolog, cipta lagu, hingga baca dan cipta puisi.

Kemudian, ada tari kreasi dan kreativitas musik tradisional untuk mewarnai panggung-panggung yang disediakan.

Selain sebagai perlombaan, kegiatan ini menjadi wahana strategis untuk menjaring bibit-bibit unggul putra-putri daerah yang memiliki talenta seni dan sastra yang luar biasa.

FLS3N bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan memberi ruang bagi para kreator muda untuk menuangkan imajinasi mereka ke dalam karya yang jujur dan kreatif.

Hasil dari seleksi tingkat kabupaten ini memiliki tanggung jawab besar, karena mereka akan menjadi duta kabupaten yang akan melanjutkan perjuangannya ke tingkat provinsi, hingga panggung tertinggi di tingkat nasional.

Maka, kegiatan ini mempertegas posisinya bahwa seleksi FLS3N bukanlah festival biasa atau sekadar formalitas. Ini adalah ajang prestisius untuk menunjukkan kecerdasan, kedisiplinan, kebersamaan, sekaligus menjunjung tinggi kepakaran dan profesionalisme dalam berkarya.

Pada konteks penyelenggaraan, profesionalisme menjadi napas utama bagi panitia untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan mulus.

Bagi para peserta, kedisiplinan dan kebersamaan menjadi kunci utama dalam memproses karya dan mentalitas berkompetisi.

Kemudian, ada satu hal lain yang paling krusial dalam sebuah kompetisi seni dan sastra yaitu kepakaran, yang sepenuhnya berada di pundak Dewan Pengamat.

Panitia penyelenggara dituntut sangat jeli dan bijak dalam menunjuk juri. Tujuannya adalah dewan juri tidak sekadar diisi oleh mereka yang pandai secara teori di bangku akademik, namun benar-benar figur yang memiliki 'pengalaman batin' dan pandangan visioner terhadap pengembangan serta pelestarian seni budaya daerah.

Mereka idealnya merupakan seniman, baik secara akademisi maupun praktisi, dan pernah bersentuhan langsung dengan kearifan lokal, karena seni tidak bisa dilepaskan dari akar budayanya masing-masing.

Juri juga idealnya memahami keberagaman budaya di Jawa Timur sebagai syarat mutlak bagi siapa pun yang terlibat dalam proses penilaian ini.

Jawa Timur setidaknya mempunyai tujuh etnik besar yang masing-masing terdapat karakter dan ciri khas yang sangat kuat.

Di antaranya adalah Osing, Madura, Tengger, Mataraman, Arek, Pendalungan, dan Ponoragan.

Wilayah Osing yang lekat dengan Banyuwangi, kekhasan budaya Madura yang meliputi Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, dan Sampang, serta etnik Tengger yang tersebar di Pasuruan, Probolinggo, dan Malang, semuanya menawarkan kekayaan estetik yang berbeda.

Kemudian ada etnik Arek yang mencakup Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan Malang.

Etnik Pendalungan di daerah Tapal Kuda seperti Situbondo, Bondowoso, Lumajang, dan Jember.

Etnik Mataraman yang meliputi Blitar, Tulungagung, Kediri, hingga Madiun, serta etnik Ponoragan yang menjadi identitas Ponorogo dan Trenggalek.

Pada konteks inilah para seniman muda Malang harus bersikap strategis. Bagi peserta, sangat penting untuk memahami identitas budaya mereka sendiri.

Ketika seniman Malang mencoba mengambil inspirasi dari cita rasa Pendalungan atau etnik lainnya, mereka seringkali terjebak dalam posisi yang sulit karena harus bersaing dengan 'pemilik asli' tradisi tersebut dari daerah asalnya.

Agar dapat membuat karya yang unik dan menonjol, seniman Malang justru harus berpijak pada kekayaan budaya yang pernah berkembang pesat di tanah mereka sendiri.

Di antaranya adalah Ludruk, Tayub, Wayang Jek Dong Malangan, hingga keunikan Tembang Macapat cangkok Malangan yang merupakan aset berharga yang jika digarap dengan serius, akan menghasilkan karya yang jauh lebih otentik dan 'gagah'.

Ini adalah bentuk nyata dari kreativitas rasa Arema yang kental, yang akan memberikan informasi konkret kepada pengamat mengenai kekayaan khazanah seni daerah.

Setelah pihak peserta berjuang mengolah kesenian daerahnya dengan cermat, tanggung jawab untuk dapat memahami perkembangan budaya dan seni juga ditekankan kepada juri.

Para calon Dewan Juri mendapat tanggung jawab moral untuk tidak pernah berhenti belajar. Mereka seyogyanya senantiasa mengasah kepekaan, melalui literasi akademis maupun dengan cara 'nyantrik' kepada seniman-seniman sepuh untuk menyelami esensi dari seni dan budaya dan daerah.

Menimba ilmu langsung dari sumber mata air tradisi adalah cara terbaik untuk memahami kedalaman makna yang terkandung dalam setiap nilai kearifan lokal.

Kombinasi antara juri yang pakar--menguasai bidangnya--dan peserta yang memahami jati diri budayanya, FLS3N 2026 khususnya di Kabupaten Malang bukan sekadar seleksi, melainkan perayaan atas kecerdasan budaya bangsa.

Adapun salah satu peraih prestasi FLS3N 2026 Kabupaten Malang adalah SMAN 1 Turen dengan salah satu torehannya adalah juara 1 Kreativitas Musik Tradisional.

Capaian tersebut membuat SMAN 1 Turen akan menjadi wakil Kabupaten Malang di FLS3N 2026 tingkat Jawa Timur pada kategori yang sama. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cerita FLS3N 2026 dan Keberhasilan SMAN 1 Turen Juara 1 untuk Wakili Malang di Provinsi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now