Banner Iklan

Puasa Kelima: Iman itu Perlu Turun ke Dunia Nyata (5), Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Anis Hidayatie
23 Februari 2026 | 06.42 WIB Last Updated 2026-02-22T23:43:02Z


Puasa Kelima: Iman itu Perlu Turun ke Dunia Nyata, Kolom Ramadan bersama Prof. Fauzan Zenrif 

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Puasa kelima bukan lagi soal menahan lapar dan haus. Itu sudah saya lewati. Puasa kelima adalah ketika iman ku perlu turun dari langit ritual ke bumi realitas. Ia tidak lagi berhenti di sajadah, tetapi berjalan di lorong-lorong kehidupan. Iman bukan hanya di sajadah, bukan hanya di masjid, bukan hanya di bulan suci. Beriman itu diuji di ruang rapat, di meja keputusan, di percakapan tertutup, di timeline yang kadang lebih tajam dari pedang. Di situlah iman menemukan bentuknya. Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

 “Apakah manusia mengira mereka dibiarkan hanya berkata ‘kami beriman’, sementara tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabūt: 2)

Ayat ini seperti mengetuk pelan tetapi tegas. Iman itu tidak cukup diumumkan. Ia harus dibuktikan. Ia harus tahan tekanan. Ia harus tetap berdiri ketika tidak ada yang melihat. Puasa sarana untuk melatih itu. Siang hari menahan lapar, haus, dan tetap tentu harus ditambah dengan menahan diri. Padahal bisa saja minum diam-diam, tapi keimanan melarang berbuat begitu. Mengapa kita tidak melakukan makan sembunyi-sembunyi? Karena ada iman yang bekerja. Karena ada kesadaran bahwa Allah melihat.

Puasa kelima bertanya lebih jauh. Apakah kesadaran itu ikut keluar bersama bulan Ramadhan pergi? 

Saya juga ingat bahwa Allah juga menegur:

لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

 “Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Al-Ṣaff: 2)

Di sinilah iman diuji. Bukan di masjid saja, tetapi di kantor, di forum diskusi, di ruang kebijakan, di pasar, dan di toko. Imam harus tetap ada di dunia nyata yang sering kali tidak ramah pada orang jujur.

Rasulullah saw bersabda:

الإيمان بضع وسبعون شعبة... وأدناها إماطة الأذى عن الطريق

 (HR. Muslim ibn al-Hajjaj)

Iman itu bertingkat. Ia bukan hanya kalimat tauhid, tetapi juga tindakan kecil yang membuat hidup orang lain lebih nyaman. Ia punya jejak sosial. Ia terasa. Dan saya belajar tentang itu bukan di mimbar, bukan di kampus, tetapi di depan rumah sendiri. 

Kemarin pagi ada sebuah pick up berhenti di depan rumah. Satu orang berdiri di luar, bersandar sambil merokok. Sopirnya tetap duduk di dalam mobil yang sudah tidak muda lagi itu. Asapnya terbawa angin ke arah halaman. Ada dorongan dalam diri saya: ingin menegur. Ingin mengatakan sesuatu. Rasanya wajar. Tetapi saya menahan diri. Saya memilih mengambil sapu, membersihkan halaman, merapikan taman.

Saya alihkan energi itu pada kerja kecil yang sunyi. Ternyata, tanpa saya berkata apa-apa, lelaki itu justru mematikan rokoknya. Ia masuk kembali ke dalam mobil. Tidak ada debat. Tidak ada kata-kata.

Di situ saya diam. Ada suara kecil dalam batin, kasihan orang itu. Lalu muncul kesadaran yang lebih jujur, iman memang tidak dimiliki semua orang dalam kadar yang sama. Ia bertumbuh. Ia berproses. Dan tugas saya bukan selalu menjadi hakim kebenaran. Mungkin di situlah puasa kelima saya mulai bekerja.

Saya menyadari bahwa puasa bukan hanya menahan dari makan dan minum, tetapi dari dorongan merasa lebih benar. Menahan diri dari reaksi spontan. Menahan ego untuk selalu tampil sebagai penegur. Karena bisa jadi, ketika saya memilih membersihkan halaman, yang sedang dibersihkan bukan hanya daun-daun sirih yang sudah kering. Tetapi juga kesombongan yang hampir tumbuh. Bukan hanya taman yang dirapikan, tetapi juga niat saya dalam melakukan kebaikan dan kebenaran.

Puasa kelima adalah keberanian moral yang sunyi. Puasa kelima mengajarkan tetaplah menjadi benar tanpa harus selalu bersuara. Tetaplah menjadi benar bahkan ketika menjadi benar kamu harus tidak populer. Tetap santun ketika diserang. Tetaplah santun tanpa perlu merasa diri paling suci. Tetaplah menjaga marwah tanpa merendahkan orang lain. Tetap menjaga marwah bahkan ketika ada yang menjelekkanmu.

Percayalah, Iman bukan simbol. Ia kompas. Ia arah hidup.

Jika Ramadhanmu hanya mengubah jadwal makan, itu biologis. Jika Ramadhanmu melahirkan iman yang hadir dalam putusan kecil, dalam reaksi yang tertahan, dalam sikap yang tenang, maka itu teologis.

Dan mungkin disinilah pertanyaan paling jujur itu perlu muncul, iman kita ini sedang tumbuh… atau hanya sedang tampil?


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puasa Kelima: Iman itu Perlu Turun ke Dunia Nyata (5), Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now