Banner Iklan

DPD RI Lia Istifhama: 10 Hari Pertama Ramadan Jadi Momentum Audit Moral dan Penguatan Integritas

Anis Hidayatie
23 Februari 2026 | 06.27 WIB Last Updated 2026-02-22T23:28:09Z

 


DPD RI Lia Istifhama: 10 Hari Pertama Ramadan Jadi Momentum Audit Moral dan Penguatan Integritas

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Sepuluh hari pertama Ramadan 1447 Hijriah dimaknai secara mendalam oleh anggota Lia Istifhama. Bagi senator asal Jawa Timur tersebut, Ramadan bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga ruang refleksi spiritual sekaligus sosial, khususnya bagi para pemegang amanah publik.

Di tengah berbagai agenda kebangsaan yang padat di Surabaya dan daerah lainnya, Lia memilih menjadikan awal Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri serta memperkuat etika dalam melayani masyarakat. Hal itu ia sampaikan dalam berbagai kegiatan, mulai dari buka puasa bersama, santunan anak yatim, hingga silaturahmi dengan tokoh masyarakat.

Dalam setiap kesempatan, Lia kerap mengangkat pesan-pesan hadis Nabi sebagai landasan moral. Salah satunya hadis riwayat Tirmidzi yang menyebutkan bahwa bagian dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Menurut Lia, pesan tersebut sangat relevan bagi pejabat publik di tengah dinamika kehidupan berbangsa saat ini.

“Ramadan ini momentum untuk fokus pada kerja nyata. Tinggalkan polemik yang tidak produktif dan perbanyak kontribusi yang benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui tausiyah yang juga ia bagikan di media sosial, Lia mengingatkan hadis tentang orang yang bangkrut di hari kiamat (HR Muslim). Dalam hadis itu dijelaskan bahwa seseorang bisa datang membawa pahala ibadah yang banyak, tetapi habis karena semasa hidupnya menyakiti orang lain.

“Jangan sampai kita rajin ibadah, tetapi justru melukai orang lain dengan ucapan maupun tindakan,” tegasnya.

Bagi Lia, Ramadan merupakan momentum “audit moral” tahunan, terutama bagi mereka yang memegang amanah publik. Ia menilai kualitas kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan, tetapi juga dari akhlak dan cara memperlakukan sesama.

Mengutip hadis dari Abu Ya’la yang disahihkan Imam Hakim, Lia menegaskan bahwa manusia tidak selalu mampu membantu orang lain dengan harta, namun dapat melakukannya melalui sikap ramah dan akhlak yang baik.

Pendekatan humanis, menurutnya, sering kali lebih membekas dalam pelayanan masyarakat dibanding sekadar bantuan material.

“Empati itu ibadah sosial,” katanya.

Memasuki hari-hari berikutnya di bulan suci, Lia juga mengingatkan tentang dua nikmat yang sering membuat manusia terlena: kesehatan dan waktu luang, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari. Ia menilai Ramadan merupakan sekolah disiplin yang melatih kemampuan seseorang dalam mengelola waktu.

“Kalau kita mampu mengatur waktu selama Ramadan, artinya kita sedang melatih kualitas diri,” jelasnya.

Dalam pertemuan bersama komunitas keluarga muda, Lia turut menyinggung pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga dan menjadi pribadi terbaik bagi pasangan. Menurutnya, ketahanan keluarga adalah fondasi utama bagi ketahanan bangsa.

Ia juga mengutip hadis riwayat Tirmidzi tentang besarnya pahala yang sebanding dengan ujian yang dihadapi manusia.

“Kalau diuji, jangan marah. Bisa jadi itu tanda Allah mencintai dan sedang menaikkan derajat kita,” ucapnya.

Memasuki hari kesepuluh Ramadan, Lia kembali menegaskan pentingnya menjaga integritas dengan mengingat hadis tentang tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat (Muttafaq ‘alaih). Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat keras bagi siapa pun yang memegang jabatan.

“Jabatan bukan sarana mencari keuntungan pribadi. Ramadan adalah alarm moral bagi siapa pun yang memegang amanah,” tandasnya.

Menutup catatan sepuluh hari pertama Ramadan, Lia mengutip hadis dari Ibnu Mas’ud tentang dua bentuk iri yang dibolehkan, yakni kepada orang yang menggunakan hartanya di jalan kebaikan dan kepada orang yang berilmu serta mengamalkannya.

Ia berharap Ramadan mampu melahirkan pribadi-pribadi yang dermawan, berilmu, sekaligus berintegritas.

“Ramadan bukan hanya ritual ibadah, tetapi sekolah akhlak dan kepemimpinan,” pungkasnya.

Sepuluh hari pertama Ramadan pun berlalu dengan pesan yang kuat: ibadah harus berjalan beriringan dengan integritas, empati, serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • DPD RI Lia Istifhama: 10 Hari Pertama Ramadan Jadi Momentum Audit Moral dan Penguatan Integritas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now