Banner Iklan

Ketoprak Inklusif Meriahkan Hari Jadi Ke-668 Kabupaten Ngawi, Kolaborasi SLB Beranda Istimewa Grudo dan Seniman Lokal Wujudkan Budaya Untuk Semua

Admin Cyber
19 Juli 2026 | 10.12 WIB Last Updated 2026-07-19T03:12:27Z

Kolaborasi siswa-siswi disabilitas SLB Beranda Istimewa Grudo Ngawi bersama Paguyuban Mardi Budoyo 33, New Begindas Laras, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dan Pemerintah Kabupaten Ngawi menghadirkan pertunjukan yang memukau di Alun-alun Ngawi, Sabtu malam (18/07/2026).Foto:Qony.


NGAWI | JATIMSATUNEWS.COM

Semangat pelestarian budaya yang dipadukan dengan nilai-nilai inklusivitas mewarnai rangkaian peringatan Hari Jadi ke-668 Kabupaten Ngawi melalui Pentas Budaya Inklusif dan Aksesibel Pagelaran Ketoprak Inklusif bertajuk "Guyup Rukun Inklusi: Sumber Ing Bumi Orek-Orek" yang digelar di Alun-alun Ngawi, Sabtu malam (18/7/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga Minggu dini hari (19/7/2026) tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat yang memadati kawasan alun-alun untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional yang dikemas secara inklusif.

Pagelaran budaya ini menjadi salah satu agenda istimewa dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-668. Mengusung konsep inklusif dan aksesibel, pertunjukan menghadirkan kolaborasi antara SLB Beranda Istimewa Grudo Ngawi, Paguyuban Ketoprak Mardi Budoyo 33, New Begindas Laras, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta Pemerintah Kabupaten Ngawi. Kolaborasi tersebut menjadi bukti nyata bahwa seni dan budaya merupakan ruang yang dapat dinikmati sekaligus diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang.

Dalam pementasan tersebut, para siswa SLB Beranda Istimewa Grudo Ngawi tampil bersama alumni Permadani Angkatan ke-33 membawakan lakon klasik Joko Kendil. Penampilan yang penuh penghayatan, dipadukan dengan tata panggung yang megah, iringan gamelan, serta kemampuan akting para pemain, berhasil memukau ribuan penonton yang memberikan tepuk tangan meriah sepanjang pertunjukan.

Keikutsertaan para penyandang disabilitas dalam pentas seni tradisional ini menjadi daya tarik tersendiri sekaligus membawa pesan kuat tentang kesetaraan. Mereka menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya, berprestasi, dan turut melestarikan warisan budaya bangsa.

Perwakilan Balai Pustaka Kebudayaan Jawa Timur, Ampri Bayu, mengapresiasi langkah Kabupaten Ngawi yang menghadirkan konsep pertunjukan budaya inklusif. Menurutnya, proses latihan yang dijalani para pemain dari SLB membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan pemain pada umumnya. Namun justru hal tersebut menjadi nilai lebih yang membuat program ini berhasil lolos dalam seleksi program kebudayaan.

"Terobosan ini sangat luar biasa karena melibatkan anak-anak disabilitas. Proses latihannya memang lebih panjang dibandingkan pemain lainnya, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Selama ini penyandang disabilitas masih kurang mendapatkan ruang dalam kegiatan budaya, padahal kebudayaan adalah milik semua. Kesetaraan harus terus diwujudkan," ungkap Ampri Bayu.

Ia juga menjelaskan bahwa pada tahun 2026, Balai Pustaka Kebudayaan Jawa Timur meloloskan sebanyak 33 program kebudayaan dari berbagai daerah. Kabupaten Ngawi menjadi salah satu daerah yang berhasil memperoleh dua program sekaligus. Program pertama telah dilaksanakan pada Juni 2026 di Situs Sejarah Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Kauman, Kecamatan Widodaren, sedangkan program kedua diwujudkan melalui Pagelaran Ketoprak Inklusif di Alun-alun Ngawi sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Ngawi.

Sementara itu, Wakil Bupati Ngawi, Dr. Dwi Rianto Jatmiko, M.H., M.Si., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Republik Indonesia menjadi motivasi bagi Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk terus menghadirkan berbagai kegiatan budaya yang mampu mengangkat potensi daerah sekaligus memberikan ruang yang sama bagi seluruh masyarakat.

Ia berharap kegiatan budaya inklusif seperti ini dapat menjadi pemantik semangat dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal, memperkuat identitas daerah, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor seni dan UMKM.

Di sisi lain, Kepala SLB Beranda Istimewa Grudo Ngawi, Renny Purwitasari, M.Pd., mengaku bangga dan terharu melihat anak-anak didiknya mampu tampil percaya diri di atas panggung besar di hadapan ribuan penonton. Menurutnya, kesempatan tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga sekaligus menjadi motivasi bagi para siswa untuk terus mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki.

"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur melihat antusiasme masyarakat Ngawi yang begitu besar. Anak-anak SLB Beranda Istimewa Grudo untuk pertama kalinya tampil mementaskan ketoprak bersama Paguyuban Mardi Budoyo. Mereka telah berlatih dengan penuh semangat dan akhirnya mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya di hadapan masyarakat," tutur Renny dengan penuh haru.

Selain menjadi ajang pelestarian budaya, pagelaran tersebut juga memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di sekitar Alun-alun Ngawi. Ribuan pengunjung yang datang sejak sore hingga larut malam turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Suasana pertunjukan berlangsung meriah sejak pukul 19.00 WIB hingga sekitar pukul 00.10 WIB. Selama kegiatan berlangsung, ribuan warga tetap antusias menyaksikan setiap adegan yang ditampilkan para pemain. Acara berjalan dengan aman, tertib, dan lancar berkat dukungan seluruh pihak, termasuk jajaran Pemerintah Kabupaten Ngawi, instansi terkait, panitia penyelenggara, serta masyarakat.

Melalui Pagelaran Ketoprak Inklusif ini, Kabupaten Ngawi kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang budaya yang terbuka bagi semua kalangan. Seni budaya tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media pendidikan, pemberdayaan, dan penguatan nilai-nilai kebersamaan. Dengan semangat "Guyup Rukun Inklusi", masyarakat diajak untuk terus menjaga warisan budaya bangsa sekaligus mewujudkan kehidupan yang lebih inklusif, setara, dan harmonis.(Qony)



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ketoprak Inklusif Meriahkan Hari Jadi Ke-668 Kabupaten Ngawi, Kolaborasi SLB Beranda Istimewa Grudo dan Seniman Lokal Wujudkan Budaya Untuk Semua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now