KULTUM RAMADHAN : Ketika Huruf Menjadi Cahaya Peradaban Islam
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillāhi rabbil ‘alamin… segala puji bagi Allah SWT yang menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan cahaya kehidupan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah…
Kita semua mengetahui bahwa membaca satu huruf Al-Qur’an diberi pahala sepuluh kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
«“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh…”»
Apalagi di bulan Ramadhan, bulan dilipatgandakannya pahala. Maka membaca Al-Qur’an menjadi amalan utama.
Namun malam ini kita melihat sisi lain dari kemuliaan Al-Qur’an: ketika Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga ditulis dengan indah dalam bentuk kaligrafi.
Allah SWT berfirman:
«“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qalam: 1)»
Ayat ini menunjukkan bahwa pena dan tulisan memiliki kedudukan mulia dalam Islam.
Sejak awal turunnya wahyu, Nabi ﷺ memiliki para penulis wahyu (kuttab al-wahy). Ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dihafal, tetapi juga ditulis dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan. Menulis Al-Qur’an bukan pekerjaan biasa, tetapi amanah suci.
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Umat Islam tidak menjadikan patung atau gambar sebagai simbol agama. Maka kecintaan dan ekspresi seni diarahkan kepada huruf-huruf wahyu. Dari sinilah lahir seni kaligrafi.
Huruf Al-Qur’an ditulis dengan indah di:
- dinding masjid,
- kubah dan mihrab,
- rumah-rumah kaum muslimin.
Kaligrafi bukan sekadar hiasan. Ia adalah bentuk ta’dzim (pengagungan) kepada Kalamullah. Ketika kita membaca kalimat Allah di dinding masjid, hati kita diingatkan kembali kepada-Nya.
Hadirin yang saya muliakan…
Sebagai orang yang diberi amanah terlibat dalam pembinaan kaligrafi dan pernah menjadi Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional, saya menyaksikan sendiri perkembangan luar biasa seni kaligrafi di Indonesia.
Saya merasa sangat bangga, karena hampir di setiap ajang MTQ selalu muncul bibit-bibit baru dengan karya yang menakjubkan. Bahkan sering muncul kompetitor tidak terduga dari daerah-daerah yang sebelumnya tidak diperhitungkan.Ini pertanda baik.
Artinya pembinaan berjalan. Guru-guru kaligrafi bekerja. Lembaga-lembaga pendidikan hidup. Anak-anak muda mencintai Al-Qur’an melalui seni.
Kita harus memahami, ketika generasi muda mencintai huruf Al-Qur’an, maka mereka sedang didekatkan kepada Al-Qur’an itu sendiri. Dari cinta kepada tulisan, mudah-mudahan tumbuh cinta kepada bacaan, lalu kepada pengamalan.
Inilah yang kita harapkan: kaligrafi menjadi pintu dakwah kultural untuk membangun peradaban Islam di Nusantara.
Dalam Rapat Kerja Nasional LPTQ terbaru, diamanahkan agar setiap provinsi dan kabupaten/kota membentuk “Kaligrafi Camp”.
Tujuannya:
- melatih generasi muda,
- menjaga kesinambungan kader,
- dan menghidupkan seni Islam di tengah masyarakat.
Kaligrafi bukan sekadar lomba MTQ, tetapi sarana pendidikan akhlak, kesabaran, ketekunan, dan kecintaan kepada Al-Qur’an. Anak yang belajar kaligrafi belajar teliti, sabar, rapi, dan menghormati ayat-ayat Allah.
Namun perlu diingat, menghias masjid dengan kaligrafi tidak boleh:
- berlebihan,
- mengganggu kekhusyukan,
- atau menjadikan masjid sekadar objek estetika.
Masjid tetap tempat ibadah. Keindahan harus membantu kekhusyukan, bukan mengalihkan perhatian.
Hadirin yang dirahmati Allah…
Kaligrafi memberi pelajaran penting:
Jika huruf Al-Qur’an saja kita tulis dengan sangat indah, maka seharusnya akhlak kita lebih indah lagi.
Jangan sampai dinding masjid penuh ayat,tetapi hati kita kosong dari pengamalannya.
Jangan sampai rumah kita dihiasi kaligrafi, tetapi lisan kita jarang membaca Al-Qur’an. Yang paling utama bukan keindahan tulisan, tetapi keindahan iman dan amal.
Mari di bulan Ramadhan ini kita:
- memperbanyak membaca Al-Qur’an,
- memuliakan mushaf,
- mendukung pembinaan generasi Qur’ani,
- dan menghidupkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
Semoga Al-Qur’an menjadi cahaya di hati kita, cahaya di rumah kita, dan cahaya di alam kubur kita kelak.
اللهم اجعل القرآن ربيع قلوبنا ونور صدورنا وجلاء أحزاننا
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Oleh:
Ustadz. Drs. H. Edy Purwanto Achmad, M.Pd.(Pembina Seni Kaligrafi LPTQ Kalbar, Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional 2024)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?