Banner Iklan

Jiddan Ababil, Siswa SMPN 7 Kota Pasuruan Sejak Terancam Dikeluarkan dari Sekolah Suka Tidur di Makam Ibu

Anis Hidayatie
14 Januari 2026 | 16.32 WIB Last Updated 2026-01-14T09:35:41Z


Jiddan Ababil dan ayahnya, Imam 

PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Kisah pilu dialami Jiddan Ababil, siswa kelas IX E SMP Negeri 7 Kota Pasuruan. Di usianya yang masih belia, Jiddan harus menghadapi tekanan berat setelah kehilangan sosok ibu sejak duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar. 

Luka kehilangan itu belum sepenuhnya pulih, kini ia kembali diuji dengan ancaman dikeluarkan dari sekolah akibat sering terlambat dan tidak masuk kelas. Hal wajar sebetulnya, namun sang Ayah, Imam menyampaikan keluh, bahwa Jiddan sampai berbuat demikian bukan tanpa sebab. 

Ayah Jiddan, Imam Sampurno menuturkan bahwa putranya dikenal sebagai anak pendiam. Ia lebih suka  menyalurkan perasaan melalui  aktivitas kesibukan, bukan banyak bicara. 

“Anak saya itu pendiam, Sejak ibunya meninggal, dia suka mbengkel, suka memperbaiki sesuatu, ya di situ dia menghabiskan waktunya, ” ujar Imam, Rabu (14/1/2025).

Jiddan yang kini duduk di kelas IX SMP kerap terlambat datang ke sekolah karena aktivitasnya itu. Kerap kali jelang subuh dia dipanggil untuk memperbaiki motor, sehingga selesainya tidak bisa mengejar jam sekolah, apalagi jarak rumahnya dan sekolah cukup jauh.

 Sebagai anak kuli dia ingin meringankan beban ayahnya. Simalakama , dapat uang membuatnya tak jarang terlambat ke sekolah. 

Tak ingin membebani ayahnya, Jiddan bahkan berinisiatif bekerja untuk membantu biaya sekolah. 

“Saya ingin kerja, untuk membantu ayah,” tutur Imam menirukan ucapan anaknya.

Menurut Imam keterlambatan itu antara empat hingga delapan menit, pernah lebih dari 10 menit juga. Menjadi persoalan serius hingga berujung pada ancaman dikeluarkan dari sekolah.

Imam mengungkapkan, tekanan dari pihak  sekolah membuat anaknya semakin tidak nyaman.

 “Sering tidak masuk sekolah karena diberitahu guru kalau sering terlambat akan dikeluarkan. Akhirnya Jiddan merasa tidak nyaman dan makin pendiam. Saya khawatir dia stres,” kata Imam.

Kesedihan Jiddan kerap ia tumpahkan dengan mendatangi makam sang ibu. Tak jarang, ia menghabiskan waktu di sana, bahkan hingga tertidur. Dalam satu momen yang membekas di hati sang ayah, Jiddan pernah bertanya lirih,

 “Apa semua perempuan gini ta, Yah?”

Tanya Jiddan pada sang Ayah merujuk sikap Kepala Sekolah dan Guru BK yang kebetulan perempuan dan menurutnya sosok yang membuatnya merasa tertekan.

Kondisi ekonomi keluarga pun tak kalah berat. Imam Sampurno bekerja hanya sebagai kuli. Ia mengaku sering dipanggil mendadak ke sekolah ketika sedang bekerja terkait dengan permasalahan Jiddan. 

 “Bisa tidak bisa saya harus  datang. Saya sering tidak masuk kerja karena dipanggil sekolah, akhirnya dipecat. Ini yang bikin saya bingung, sudah 2 kali saya dipecat,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Saat ini, keluarga Jiddan tinggal di wilayah Nganglang, Oro-oro Ombo Kulon. Imam memilih menyekolahkan anaknya di SMPN 7 Kota Pasuruan karena dahulu mereka tinggal mengontrak di Petahunan, dekat dengan pusat aktivitas keluarga saat ibu Jiddan masih hidup.

Kisah Jiddan menjadi potret nyata bahwa di balik angka keterlambatan dan absensi, ada luka batin, perjuangan hidup, dan kerinduan mendalam seorang anak pada ibunya. Banyak pihak berharap sekolah dan lingkungan pendidikan dapat melihat persoalan ini secara lebih manusiawi, dengan pendekatan empati dan pendampingan, bukan sekadar sanksi administratif. Ans


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jiddan Ababil, Siswa SMPN 7 Kota Pasuruan Sejak Terancam Dikeluarkan dari Sekolah Suka Tidur di Makam Ibu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now