![]() |
| Warga Terpaksa Perbaiki Jalan rusak hingga melakukan perbaikan secara Swadaya |
SAMPANG | JATIMSATUNEWS.COM – Arah pembangunan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang kian menuai sorotan dari berbagai kalangan. Di tengah gencarnya proyek-proyek infrastruktur baru bernilai besar, kondisi jalan kabupaten lama dan Penerangan Jalan Umum (PJU) justru dibiarkan rusak, mati, dan membahayakan keselamatan masyarakat.
Sejak era kepemimpinan Bupati Aba Idi, Pemkab Sampang terlihat lebih gemar membuka jalan tembusan baru ketimbang merawat infrastruktur lama yang selama ini menjadi urat nadi pergerakan warga. Jalur Lintas Selatan (JLS), jalan tembus arah Kedungdung-Bringkoning, hingga sejumlah ruas baru lainnya terus digenjot pembangunannya.
Namun ironi justru tampak jelas di lapangan. Banyak jalan kabupaten lama kini hancur parah. Aspal terkelupas, bebatuan lenyap, menyisakan tanah licin yang berubah menjadi kubangan saat hujan. Jalan-jalan tersebut setiap hari dilalui pelajar, pedagang, hingga petani, namun seolah luput dari perhatian pemerintah daerah.
Akibat pembiaran itu, korban pun berjatuhan. Warga mengaku kecelakaan kerap terjadi, mulai dari pengendara motor terpeleset hingga kendaraan terperosok. Sayangnya, kondisi ini terus berulang tanpa solusi nyata.
Lebih memprihatinkan lagi, tepatnya di desa Gulbung, jalan Gulbung-Panyirangan tembus Patarongan, karena tak kunjung mendapat penanganan, banyak warga akhirnya terpaksa melakukan perbaikan jalan secara swadaya. Dengan dana patungan, warga menimbun jalan berlubang menggunakan tanah, batu, bahkan sisa material seadanya demi mengurangi risiko kecelakaan.
“Kalau nunggu pemerintah, mungkin sampai bertahun-tahun. Jadi warga patungan sendiri. Padahal ini jalan kabupaten, bukan jalan kampung,” ujar Usman salah satu warga dengan nada kecewa.
Di sektor lain, kebijakan PJU juga dinilai sarat kejanggalan. Di satu sisi, Pemkab Sampang rutin menganggarkan pengadaan PJU baru melalui APBD. Namun di sisi lain, ratusan PJU lama dibiarkan mati berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tanpa perbaikan.
Kondisi ini memunculkan dugaan kuat bahwa Pemkab Sampang lebih tertarik pada proyek pengadaan dan tender bernilai besar ketimbang pekerjaan perawatan yang minim keuntungan. Perbaikan PJU lama dan jalan rusak seolah dianggap tidak menarik karena tidak menghasilkan proyek baru.
“Kalau bukan pengadaan, seakan tidak penting. Yang penting proyek jalan baru dan PJU baru. Ini sudah bukan soal pembangunan, tapi soal orientasi anggaran,” tegas Robby salah seorang aktivis pemerhati kebijakan publik di Sampang.
Warga menilai pola pembangunan semacam ini mencerminkan kegagalan pemerintah daerah dalam menetapkan skala prioritas. Di satu sisi membuka akses baru, namun di sisi lain membiarkan infrastruktur lama rusak, gelap, dan memakan korban.
Masyarakat pun mendesak Pemkab Sampang agar berhenti bersikap abai dan segera bertanggung jawab. Infrastruktur lama harus dipelihara dan diperbaiki, bukan dipaksa menunggu rusak total agar bisa dijadikan proyek baru.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemkab Sampang terkait kritik keras masyarakat tersebut. Fc



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?