Banner Iklan

Sosialisasi Pengolahan Limbah Organik Dan Anorganik Oleh Kelompok 25 KKN SDGs Simomulyo Baru Bersama Warga Dan KSH RW 06

Admin JSN
11 Agustus 2026 • 09.36 WIB
Dokumentasi Kegiatan Sosialisasi Pengolahan Limbah Organik Dan Anorganik Oleh Kelompok 25 KKN SDGs Simomulyo Baru Bersama Warga Dan KSH RW 06

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM : RW 06 Kelurahan Simomulyo Baru, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya, merupakan kawasan permukiman padat penduduk yang menghasilkan timbulan limbah rumah tangga setiap harinya, khususnya limbah organik dari aktivitas rumah tangga. Kondisi ini menjadi permasalahan utama di lingkungan RW 06, karena keterbatasan lahan dan belum ada sistem pengelolaan limbah menyebabkan penumpukkan serta berpotensi menimbulkan bau tidak sedap yang dapat mengganggu kenyamanan serta kesehatan lingkungan. Selain itu, limbah anorganik seperti botol plastik bekas juga cukup banyak dihasilkan dari aktivitas konsumsi harian warga, apabila tidak dipilah dan dikelola dengan benar dapat semakin memperburuk kondisi lingkungan. Permasalahan pengelolaan limbah ini menunjukkan perlunya solusi yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan di tingkat rumah tangga. Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya tersebut, Kelompok 25 KKN SDGs UPN "Veteran" Jawa Timur menyelenggarakan Sosialisasi Pengolahan Limbah Organik dan Anorganik bersama warga dan Kader Surabaya Hebat (KSH) RW 06. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemilahan dan pengolahan limbah sejak dari rumah dengan mengusung konsep Zero Waste Program.

Pada pelaksanaan sosialisasi yang berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026, peserta memperoleh materi mengenai pengolahan limbah organik menjadi Eco-Enzyme menggunakan metode airlock sederhana berbahan selang. Materi disampaikan oleh Ibu Yaning Mustika Ningrum, beliau adalah Ketua Kampung Eduwisata Oase Songo sekaligus tokoh masyarakat yang menjadi pelopor pengolahan limbah organik dan anorganik di Kelurahan Simomulyo Baru, Beliau menjelaskan pentingnya pengolahan limbah organik dan anorganik hasil rumah tangga.

"Pengelolaan limbah itu dimulai dari niat dan kebiasaan. Kalau kita rutin memilah limbah sejak dari rumah, limbah yang tadinya menjadi masalah bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai," ujar Ibu Yaning.

Pelaksanaan dibantu mahasiswa KKN yakni Fatma Aulia Wulan Agustina sebagai pemateri yang menjelaskan kuantitas optimal setiap bahan untuk fermentasi ecoenzym, resiko dan cara mengatasi kendala ketika pengaplikasian airlock sederhana berbahan selang selama proses fermentasi ecoenzym.

Proses pembuatan Eco-Enzyme menggunakan basis perbandingan bahan 10:3:1, dikarenakan demonstrasi menggunakan skala besar ukuran galon 15liter dengan menyisakan ¼ ruang kosong untuk gas hasil fermentasi, sehingga “10 liter dari air bersih” ditambah “3 kg limbah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sisa sayuran”, serta “1 liter molase atau gula merah”, EM4 sebagai starter fermentasi dapat ditambahkan 100ml atau menggunakan perbandingan 1:100 terhadap jumlah kapasitas air bersih, seluruh bahan dicampur melalui metode fermentasi anaerob atau dalam wadah kedap udara. Proses fermentasi dilakukan menggunakan wadah bekas seperti galon atau botol yang dipasang selang bening sebagai airlock sederhana sehingga gas hasil fermentasi dapat keluar tanpa perlu membuka tutup wadah. Metode ini tidak menimbulkan bau menyengat dan mengurangi risiko kontaminasi udara luar, sedangkan cairan Eco-Enzyme yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pupuk organik cair, penghilang bau, serta ampas fermentasinya masih dapat diolah menjadi kompos padat. Kegiatan pengolahan limbah organik ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 8 berupa Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Melalui edukasi dan praktik pembuatan Eco-Enzyme, Kelompok 25 KKN SDGs UPN "Veteran" Jawa Timur mendorong masyarakat untuk mengolah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi memiliki nilai ekonomi. Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, Eco-Enzyme juga dapat dikembangkan sebagai produk ramah lingkungan yang membuka peluang umkm pupuk cair organik ataupun mengolah eco enzym sebagai sabun batang yang memilki potensi pasar dan nilai jual yang lebih tinggi.

Selain membahas pengolahan limbah organik, Kelompok 25 KKN SDGs juga memperkenalkan inovasi berupa Teknologi Tepat Guna (TTG) alat press botol plastik untuk pengelolaan limbah anorganik. alat press botol plastik dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana seperti papan kayu, sekrup, batang kayu sebagai tuas, serta peralatan pendukung lain. Melalui demonstrasi penggunaan alat, peserta diajarkan cara memadatkan botol plastik agar volumenya berkurang sehingga lebih mudah disimpan, diangkut, dan disalurkan ke bank limbah. kegiatan ini juga mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam memilah dan mengelola limbah anorganik dari sisa aktivitas rumah tangga, sehingga tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kesadaran lingkungan. Dengan adanya kebiasaan tersebut, diharapkan tercipta pola pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan di tingkat rumah tangga serta memperkuat peran bank limbah sebagai wadah pengelolaan limbah yang produktif di lingkungan RW 06. Hal ini sejalan dengan pencapaian SDGs 1 Menyatakan Tanpa Kemiskinan, karena pengelolaan limbah anorganik melalui bank limbah dapat memberikan nilai tambah ekonomi yang berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Kegiatan yang diikuti oleh 25 peserta ini berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, dan praktik langsung pembuatan Eco-Enzyme serta penggunaan alat press botol plastik. Antusiasme warga dan KSH RW 06 terlihat dari tingginya partisipasi selama sesi tanya jawab.

“Jadi tidak perlu dibuka setiap hari untuk mengeluarkan gas didalam galon tersebut ya kak?”

“Apakah boleh dipanen dahulu jika sudah fermentasi selama sebulan atau harus nunggu 3 bulan?”

“Apakah Eco-enzym ada kadaluwarsanya kak?”

“Wah kalau begitu saya jadi tidak khawatir meledak dan pastinya mudah dipraktekkan” ujar warga RW 06.

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pemateri dengan menjelaskan bahwa gas hasil fermentasi tidak perlu dikeluarkan setiap hari karna sudah otomatis dari selang tersebut, Eco-Enzyme sebaiknya dipanen setelah tiga bulan fermentasi namun jika ingin dipanen untuk digunakan sisa nya bisa dilanjutnya fermentasi ulang, dan produk yang telah matang dapat disimpan dalam waktu lama selama kondisi penyimpanannya baik. Melalui program ini, Kelompok 25 KKN SDGs UPN "Veteran" Jawa Timur berharap masyarakat semakin terbiasa menerapkan pengelolaan limbah organik dan anorganik secara mandiri sebagai langkah nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan.


Penulis : Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 25 Simomulyo Baru Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sosialisasi Pengolahan Limbah Organik Dan Anorganik Oleh Kelompok 25 KKN SDGs Simomulyo Baru Bersama Warga Dan KSH RW 06

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?