MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, mengadakan silaturahmi bersama keluarga besar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang pada Sabtu (8/8).
Bertempat di Aula Kantor PDM Kota Malang, agenda ini dihadiri oleh jajaran Ketua Majelis dan Lembaga PDM, Ketua Ortom daerah, jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Aisyiyah (PCA), hingga pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Lebih dari sekadar silaturahmi, pertemuan ini menyoroti perubahan besar dalam paradigma pendidikan nasional, salah satunya fenomena sekolah gratis yang perlahan mulai ditinggalkan masyarakat.
Dalam paparannya, Prof. Abdul Mu’ti menyoroti pergeseran sudut pandang masyarakat terhadap institusi pendidikan. Saat ini, orang tua tidak lagi menjadikan biaya murah atau sekolah gratis sebagai patokan utama, melainkan kualitas dan hasil (out-come) yang didapatkan oleh anak.
“Kualitas pendidikan saat ini menjadi penentu utama keberlangsungan sebuah lembaga. Masyarakat lebih peduli pada hasil dan nilai tambah pendidikan daripada sekadar aksesibilitas biaya,” tegas Abdul Mu’ti.
Menurutnya, hal ini dibuktikan dengan tingginya minat masyarakat terhadap sekolah-sekolah yang menetapkan biaya relatif tinggi namun memiliki jaminan mutu yang unggul. Sebaliknya, sekolah berbiaya rendah atau bahkan gratis namun minim inovasi dan mutu, perlahan mulai kehilangan peminat.
Lebih lanjut, Mendikdasmen menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini sedang menghadapi tantangan serius akibat perubahan struktur sosial dan demografi. Penurunan jumlah pendaftar di sejumlah sekolah tidak hanya disebabkan oleh faktor kualitas, tetapi juga tren di masyarakat seperti penundaan pernikahan, fenomena childfree, hingga suksesnya program Keluarga Berencana (KB).
Di sisi lain, muncul kelompok keluarga muda profesional yang sangat selektif dalam memilih pendidikan bagi buah hatinya.
“Kelompok ini cenderung memilih sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki basis nilai agama yang kuat,” tuturnya. Hal inilah yang memicu pertumbuhan pesat Sekolah Islam Terpadu dan sekolah-sekolah Muhammadiyah yang dikelola secara modern dan profesional.
Merespons dinamika tersebut, Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan skema layanan pendidikan yang lebih terdiferensiasi guna mengakomodasi beragam spektrum kemampuan siswa.
Pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan mutu sekolah yang masih di bawah standar, tetapi juga merancang sekolah unggulan khusus bagi siswa berbakat. Salah satu inovasi yang disiapkan adalah Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT).
SNT direncanakan akan hadir di setiap kabupaten dan kota, dikhususkan bagi siswa dengan tingkat kecerdasan dan kemampuan akademik di atas rata-rata. Proses seleksinya akan menggunakan tes skolastik dan pengukuran IQ. Pada tahap awal, format SNT akan mencakup dua kelas di jenjang SMP dan dua kelas di jenjang SMA.
Di akhir arahannya, Abdul Mu’ti mengapresiasi potensi raksasa yang dimiliki Muhammadiyah dalam memajukan pendidikan nasional. Dengan mengelola lebih dari 6.000 sekolah di seluruh penjuru Indonesia, Muhammadiyah diyakini memiliki infrastruktur dan jaringan yang tangguh untuk memimpin transformasi mutu pendidikan.
Pertemuan di PDM Kota Malang ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan Muhammadiyah. Ke depannya, lembaga pendidikan Muhammadiyah diharapkan terus berinovasi dalam pembelajaran dan penguatan karakter agar selalu relevan dengan tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat luas.
Penulis: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin (Wakil Ketua Bidang Organisasi PCPM Klojen Kota Malang)
Editor: Redaksi JatimSatuNews

