Banner Iklan

Guru yang Menggenggam Tangan Muridnya: Mengenang 24 Tahun Kepergian Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun

Anis Hidayatie
01 Agustus 2026 • 02.27 WIB

 

Guru yang Menggenggam Tangan Muridnya: Mengenang 24 Tahun Kepergian Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun

Oleh: Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, M.A.

Ketua Yayasan Daruttauhid Malang

Wakil Rektor Kerjasama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: "Ada guru yang mengajar dengan kata-kata. Ada guru yang mendidik dengan keteladanan. Tetapi hanya sedikit guru yang membesarkan muridnya dengan cinta."

Di zaman ketika kepemimpinan sering diukur dari seberapa tinggi jabatan, seberapa luas pengaruh, atau seberapa banyak pengikut di media sosial, kita justru merindukan sosok-sosok yang memimpin dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana: ketulusan.

Ketulusan itulah yang selalu saya ingat ketika nama Almarhum Ustadz Abdullah Awad Abdun disebut.

Tahun ini genap dua puluh empat tahun beliau berpulang menghadap Allah Swt. Sebagai Muassis Pondok Pesantren Daruttauhid Malang, beliau telah meninggalkan warisan yang tidak mungkin dihitung dengan angka. Warisan itu bukan gedung-gedung megah, bukan pula jabatan yang dikenang dalam sejarah, melainkan ribuan hati yang pernah disentuh oleh kasih sayangnya sebagai seorang murabbi.

Saya termasuk salah satunya.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Daruttauhid pada Juni 1989, saya hanyalah seorang remaja dari Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kota Malang terasa begitu jauh dari rumah. Udaranya dingin. Lingkungannya baru. Semua terasa asing.

Namun rasa asing itu tidak bertahan lama.

Sejak hari-hari pertama, saya menemukan seorang pendidik yang membuat pesantren terasa seperti rumah sendiri. Beliau bukan sekadar mudir ma'had yang mengatur jalannya pendidikan. Beliau hadir sebagai ayah bagi santri-santrinya.

Yang paling membuat saya takjub adalah perhatian beliau kepada setiap pribadi. Beliau mengenal kami satu per satu. Beliau hafal nama lengkap kami dan nama orang tua kami. Beliau tahu dari daerah mana kami berasal. Beliau mengenal orang tua kami dengan baik. Beliau memahami karakter kami. Bahkan beliau mengetahui siapa yang sedang mengalami kesulitan, siapa yang sedang rindu rumah, siapa yang membutuhkan dorongan semangat.

Banyak orang mampu menghafal kitab. Namun tidak banyak yang mampu menghafal hati murid-muridnya. Itulah keistimewaan beliau.

Hampir setiap hari beliau menyapa santri secara langsung. Beliau bertanya tentang kesehatan kami. Tentang pelajaran. Tentang keluarga di kampung halaman. Tentang kebutuhan yang mungkin belum sempat kami sampaikan.

Yang membuat kami terharu, semua pertanyaan itu tidak pernah terdengar sebagai formalitas. Ada ketulusan yang memancar dari wajah beliau. Ada kasih sayang yang terasa dalam setiap kalimatnya.

Sering kali, ketika berjalan bersama para santri, beliau meraih tangan kami, menggenggamnya erat, lalu berjalan sambil berbincang. Barangkali bagi orang lain itu hanya sentuhan biasa. Namun bagi seorang anak belasan tahun yang sedang hidup jauh dari kedua orang tua, genggaman itu menghadirkan rasa aman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Beliau tidak hanya mengajar kami bahasa arab dan membaca kitab. Beliau mengajarkan bagaimana manusia semestinya memperlakukan manusia lainnya. 

Setiap kali orang tua santri datang berkunjung, beliau menyambutnya dengan hangat. Mereka diajak duduk bersama, ditemani berbincang, bahkan tidak jarang beliau menemani mereka menikmati hidangan.


Beliau memahami bahwa menitipkan anak kepada pesantren adalah amanah besar. Maka menghormati orang tua santri adalah bagian dari menjaga amanah itu. Beliau tidak pernah membedakan siapa yang berasal dari keluarga sederhana ataupun berada. Semua diperlakukan dengan penghormatan yang sama. Di hadapan beliau, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh latar belakang, melainkan oleh kemanusiaannya. 

Saya juga masih mengingat satu pelajaran sederhana yang hingga kini terus saya pegang. Suatu hari saya berkesempatan membersamai beliau menghadiri sebuah undangan. Menurut saya, waktu keberangkatan masih terlalu pagi.

Beliau kemudian berkata,

"Kun muntadhiran wa la muntadharan."

Jadilah orang yang menunggu, jangan menjadi orang yang ditunggu.

Kalimat itu sederhana. Namun maknanya begitu dalam. Beliau mengajarkan bahwa menghargai waktu berarti menghargai orang lain. Datang lebih awal bukan sekadar soal disiplin. Ia adalah bentuk penghormatan. Ia adalah adab. Hari ini, ketika keterlambatan sering dianggap lumrah dan janji mudah diingkari, nasihat itu terasa semakin relevan.

Yang lebih mengagumkan lagi, hampir seluruh hidup beliau dipersembahkan untuk pesantren. Banyak undangan di luar yang beliau tolak. Bukan karena beliau tidak dihormati. Melainkan karena beliau merasa tempat terbaik untuk mengabdi adalah tetap bersama santri-santrinya.

Beliau memilih ruang kelas daripada panggung. Beliau memilih mendampingi murid daripada mengejar popularitas. Beliau memilih keberkahan daripada kemasyhuran. Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan dari seberapa sering seseorang tampil di hadapan publik, pilihan hidup beliau menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Ada satu pesan beliau yang selalu hidup dalam ingatan para alumni.

"Jangan lupa berdakwah. Ajaklah orang untuk selalu berbuat baik, apa pun profesi kalian nanti."

Beliau tidak pernah memaksa semua santri menjadi ulama. Tidak pernah menganggap bahwa jalan pengabdian hanya ada di mimbar masjid. Beliau justru membuka cakrawala yang luas.

Beliau menyadarkan kami bahwa dakwah dapat dilakukan di ruang kelas, di ruang sidang, di kantor, di pasar, di laboratorium, di parlemen, bahkan di mana pun seseorang bekerja dengan jujur dan membawa manfaat.

Karena itulah alumni Daruttauhid hari ini tersebar di berbagai bidang kehidupan. Ada yang menjadi dosen. Guru. Pengusaha. Hakim. Tentara. Anggota legislatif. Pengasuh pesantren. Profesional. Akademisi.

Semuanya berjalan di jalannya masing-masing. Namun mereka membawa pesan yang sama: menghadirkan kebaikan di mana pun berada.

Beliau juga selalu mendorong para santri untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Daruttauhid tidak beliau jadikan tujuan akhir, tetapi sebagai jembatan menuju pengabdian yang lebih luas. Dari pesantren itu lahir alumni yang melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri, lalu kembali mengabdi kepada masyarakat sesuai bidang keahliannya.

Semua itu menunjukkan satu hal. Beliau tidak sedang membangun pengikut. Beliau sedang membangun peradaban.

Namun, jika ada satu warisan yang paling sulit ditandingi, maka warisan itu adalah akhlaknya. Beliau sangat tawaduk. Tidak pernah meninggikan diri. Tidak pernah terdengar mencela ulama lain. Tidak pernah membangun permusuhan. Tidak pernah menggunakan mimbar untuk menyebarkan kebencian.

Beliau mengajarkan bahwa ilmu akan kehilangan cahaya jika tidak dibingkai dengan akhlakul karimah. Di tengah kehidupan yang semakin gaduh oleh ujaran kebencian, saling merendahkan, dan mudah menghakimi, kita semakin menyadari betapa mahalnya teladan seperti beliau.

Haul sejatinya bukan hanya mengenang orang yang telah wafat. Haul adalah menghidupkan kembali nilai-nilai yang hampir terlupakan.

Mengenang beliau berarti mengingat bahwa pendidikan adalah tentang kasih sayang, bukan sekadar transfer ilmu. Bahwa kepemimpinan adalah tentang melayani, bukan dilayani. Bahwa dakwah adalah mengajak kepada kebaikan, bukan memenangkan perdebatan. Dan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi ia berdiri, tetapi dari seberapa banyak orang yang ia angkat martabatnya.

Dua puluh empat tahun telah berlalu.

Namun bagi kami, para muridnya, beliau masih hidup dalam setiap nasihat yang kami amalkan, dalam setiap adab yang kami jaga, dalam setiap kebaikan yang kami usahakan. Mungkin inilah makna sebenarnya dari seorang guru. Raganya telah kembali kepada Sang Pencipta, tetapi didikannya terus berjalan melalui kehidupan murid-muridnya.

Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal saleh beliau, melapangkan kuburnya, meninggikan derajatnya di sisi-Nya, dan menjadikan kami sebagai murid-murid yang mampu menjaga warisan terbesar yang beliau tinggalkan: ilmu yang diamalkan, akhlak yang dimuliakan, dan dakwah yang menghadirkan kasih sayang bagi sesama.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu. Al-Fatihah.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Guru yang Menggenggam Tangan Muridnya: Mengenang 24 Tahun Kepergian Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?